close
Nuga News

Israel Provokasi AS Kasus Nuklir Iran

Israel terus menebar provokasi, terutama, untuk memengaruhi Amerika Serikat untuk tidak melepaskan opsi menyerang Iran, yang mereka yakini memiliki senjata nuklir dan rudal yang bisa menjangkau New York.

Pernyataan terbaru dari Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu tentang keberadaan nuklir Iran makin menegaskan ketakutan Tel Aviv terhadap diplomasi damai yang dilancarkan oleh Presiden Hasan Rouhani. Israel ketakutan akan terasing sendirian ditengah tuntutan perdamaian dunia dan kesediaan Iran untuk membuka diri terhadap pemeriksaan instalasi nuklirnya secara komperehensif.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB yang disambut dengan keacuhan Negara-negara Arab, Netanyhu justru makin “paranoid” dengan sikapnya yang terus mendengungkan perlunya serangan ke Iran.

Amerika Serikat, lewat pernyataan Barack Obama, telah mengendurkan tekanan kepada Iran sepanjang Negara itu membuka diri untuk tim pemeriksa independen dalam kasus nuklirnya. Hasan Rouhani telah memberi jaminan kepada Obama bahwa Iran tidak akan menjadi Negara Nuklir.

Iran, kata Rouhani kepada dunia, akan mengembang nuklir untuk tujuan damai dan akan mengembangkan tenaga nuklir untuk kebutuhan enerjinya. Rouhani menertawakan Netanyhu sebagai “budak” yang ingin merangkul semuanya dalam sekali tepuk.

Benyamin Netanyahu yang tak memedulikan opini dunia tentang keberhasilan diplomasi Rouhani merangkul Barat, terus menebar kebenciannya terhadap Iran. Dia menyebut rudal nuklir Iran suatu saat nanti akan menghantam Kota New York, Amerika Serikat..

“Ancaman nuklir Iran 50 kali lebih berbahaya dari Korea Utara,” ujar Netanyahu dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, seperti dikutip Russia Today, Rabu 02 Oktober 2013.

“Iran sedang membangun rudal berhulu ledak nuklir yang bisa menyerang kota ini tiga atau empat tahun lagi,” lanjutnya.

Netanyahu meragukan ajakan negosiasi dari Presiden Iran Hassan Rouhani. Dia menyatakan janji manis Rouhani tidak sejalan dengan aksi pemerintahnya yang terus membangun rudal nuklir.

Netanyahu, kembali menegaskan sikap melunak Iran di dunia internasional hanyalah sebuah sandiwara. Rouhani memang memiliki reputasi sebagai tokoh moderat. Sikap moderat Rouhani terlihat dari aksinya yang berusaha merangkul Amerika Serikat.

Rouhani membuka pintu diplomasi dengan AS untuk menyelesaikan isu nuklir Iran. Dia merasa sengketa nuklir Iran bisa dibicarakan dengan baik-baik.

“Saya sama sekali tidak bisa mempercayai Rouhani,” lanjutnya.

Israel memang khawatir hubungan Iran-AS membaik. Sebelum menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, Netanyahu bertemu dengan Presiden AS Barack Obama. Dia berusaha meyakinkan Obama untuk tidak begitu saja percaya pada Rouhani.

Obama pun berusaha menenangkan sekutu dekatnya itu. Dia berjanji tidak akan bersikap longgar kepada Iran.

“Kami belum menghapus rencana untuk menyerang Iran. Kami akan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir,” ujar Obama kepada Netanyahu.

“Mengapa negara yang menyebut dirinya damai membangun rudal untuk nuklir,” tutur Netanyahu. Netanyahu bahkan menghina Rouhani sebagai seekor “serigala berbulu domba”. Dia menyebut mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad lebih baik dari Rouhani karena tidak berpura-pura.

“Mahmoud Ahmadinejad adalah seekor serigala yang berbulu serigala. Sementara Hassan Rouhani merupakan ‘serigala yang menggunakan bulu domba’,” seru Netanyahu.