Israel Mulai “Takut” Hadapi Perang di Gaza

Penulis: Darmansyah

Minggu, 27 Juli 2014 | 13:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Israel mulai mencari celah untuk bisa menghentikan perang darat “head to head,” yang semakin ganas di Jalur Gaza, melawan “liat”nya perlawanan Hamas setelah 43 serdadunya tewas lantaran tembakan roket.

Berita terakhir “breakingnews” kantor berita “Agence French Press,” Minggu siang WIB, 27 Juli 2014, satu lagi serdadu Israel tewas oleh tembakan roket di kawasan Beith Hanun, salah satu distrik terbuka di Gaza City. “Tembakan roket berasal dari Jalur Gaza,”kata pernyataan militer Israel.

Seperti yang dilansir oleh AFP, Minggu pagi WIB, 27 Juli 2014, dua tentara Israel yang terluka akibat kontak senjata di Gaza awal pekan ini meninggal pada Sabtu kemarin.

“Empat puluh tiga tentara Israel tewas sejak dimulainya operasi militer di wilayah Palestina,” ujar otoritas militer Palestina.

Dua prajurit yang tewas itu adalah Kapten Infanteri Liad Lavi, yang terluka pada Kamis lalu dan Sersan Infanteri Rami Chalon yang terluka di hari yang sama. Keduanya meninggal di rumah sakit setempat.

Pada Sabtu kemarin, Israel dan Palestina sepakat mengadakan gencatan senjata selama dua belas jam. Namun gencatan baru berjalan selama jam, gerilyawan pro Palestina kembali melancarkan serangan roket mereka ke arah Israel.

Sementara itu Israel, yang mulai “ketakutan” menghadapi “kegilaan” pejuang Pelestina menerima imbauan PBB untuk memperpanjang gencatan senjata hingga dua puluh empat jam setelah Minggu pukul 08.00 waktu Israel, gencatan senjata dua belas jam dengan Hamas berakhir.

Untuk tahap pertama, dalam kurun waktu perpanjangan itu, Israel menyepakati tambahan waktu gencatan senjata empat jam. Israel melakukan serangan terhadap Jalur Gaza sejak 8 Juni 2014.

Sebaliknya, kelompok Hamas, faksi Palestina tak memedulikan dengan batasan gencatan senjata dan terus meluncurkan roket ke arah selatan Israel. Tercatat tiga roket ditembakkan Hamas. Roket-roket itu jatuh di tempat terbuka sehingga tak menimbulkan korban. Hamas menolak gencatan senjata dengan Israel.

Israel telah menerima permintaan PBB agar digelar gencatan senjata selama dua puluh empat jam di Gaza, tapi mereka menyatakan akan melakukan serangan militer apabila Hamas melanggarnya.

Rapat kabinet Israel memutuskan gencatan senjata diperpanjang mulai Sabtu hingga hari Minggu tengah malam.

Langkah ini diambil walaupun kelompok militan Hamas menembakkan roket ke wilayah Israel setelah mereka menolak upaya perpanjangan gencatan senjata.

Pimpinan Hamas mengatakan, tidak akan menerima gencatan senjata kecuali pasukan Israel meninggalkan Gaza dan para pengungsi diizinkan kembali ke rumahnya.

Israel mengatakan, mereka akan melanjutkan serangan militer ke lokasi terowongan yang digunakan Hamas untuk menyelundupkan senjata, selama periode gencatan senjata.

Hamas menuduh Israel menggunakan gencatan senjata sebagai persiapan untuk serangan militer berikutnya. Mereka juga mengklaim bahwa Israel melanggar gencatan senjata pada Sabtu.

Pasukan Pertahanan Israel mengatakan kepada BBC bahwa tiga mortir telah ditembakkan dari Gaza pada hari Sabtu.

Kelompok sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, mengatakan mereka telah menembakkan sedikitnya lima roket ke Israel.

Gencatan senjata asli berakhir pukul 20.00 waktu setempat pada Sabtu.

Tuntutan genjatan senjata telah disuarakan dari bebrgaia pihak di dunia.

Juru bicara kementerian kesehatan di Gaza, Ashraf al-Qidra mengatakan, hampir 150 mayat telah ditemukan di reruntuhan akibat serangan militer Israel, hari Sabtu.

Setelah pembicaraan di Paris pada Sabtu, Menteri luar negeri AS, Turki, Qatar dan beberapa negara Eropa mendesak kedua pihak untuk memperpanjang gencatan senjata.

Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan 1.033 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, telah tewas dan sekitar 5.900 orang terluka sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza 19 hari yang lalu.

Komentar