Israel Marah Iran Teken Perjanjian Nuklir

Penulis: Darmansyah

Minggu, 24 November 2013 | 15:20 WIB

Dibaca: 1 kali

Pemerintah Israel melontarkan kemarahannya dan mencemooh Iran sebagai negara “berbulu mullah” usai menendatangani perjanjian nuklir di Jenewa, Minggu, 24 November 2013. Kemarahan Israel ini sehubungan dengan tertutupnya kemungkinan negara Yahudi itu melakukan serangan ke instalasi nuklir Iran yang mereka yakini membuat bom nuklir.

Iran telah sepakat untuk menandatangani perjanjian nuklir dengan negara-negara besar lainnya di Jenewa, Swiss. Namun Israel tetap mencemooh perjanjian tersebut dengan alasan masih menguntungkan Iran.

Padahal, usai penandatangan perjanjian tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry menyebut isi perjanjian akan membuat negara-negara di dunia aman dari ancaman nuklir Iran, termasuk ancaman buat Israel. Dari pihak Israel menyebut perjanjian itu sebagai perjanjian yang buruk dan menguntungkan pihak Tehran.

“Ini adalah perjanjian yang buruk dan memberikan apa yang yang diingankan oleh Iran,” ujar pihak Israel yang dikeluarkan oleh kantor PM Benjamin Netanyahu, seperti diberitakan AFP, Minggu, 24 November 2013.

“Perjanjian itu membiarkan Iran tetap melakukan pengayaan uranium, dan memungkinkan untuk menghasilkan bahan fisik untuk senjata nuklir,” tambahnya.

Israel juga menyoroti soal reaktor nuklir Arant yang berada yang berjarak 240 kilometer sebelah selatan Tehran. Menurut Israel, reaktor nuklir itu seharusnya dibongkar. “Tekanan ekonomi terhadap Iran seharusnya menghasilkan perjanjian pembongkaran fasilitas nuklir Iran,” terangnya.

Menteri Ekonomi Israel, Naftali Bannet secara tegas mengatakan Israel tidak terikat dengan perjanjian Jenewa dan mempunyai hak untuk mempertahankan dirinya sendiri.

“Iran mengancam Israel dan Israel punya hak membela diri,” kata Naftali.

G5+1 Adalah negara-negara yang tengah melakukan dialog dengan Iran. AS, Inggris, China, Prancis, Rusia, dan Jerman telah berhasil mencapai kata sepakat soal batas pengayaan uranium Iran yang tidak boleh lebih dari lima persen.

Iran diharuskan menjalankan perjanjian tersebut selama enam bulan ke depan dan membolehkan pengawas nuklir IAEA untuk melakukan inspeksi di reaktor nuklir Iran yang berada di Fordow dan Natanz.

Pejabat interim Iran menyampaikan, kesepakatan ini bukan akhir dari program nuklir Iran. Di mana Iran masih memiliki hak untuk pengayaan nuklir yang salah satunya akan berlangsung selama enam bulan.

Dilansir Time, selama periode itu, para perunding sepakat jika kesepakatan komprehensif ini secara signifikan akan meningkatkan kembali program nuklir Iran. Kemudian memastikan bahwa kekuasaan hanya bisa digunakan secara damai.

Selama lima hari, para diplomat telah berjuang untuk mengatasi perbedaan dan membentuk kesepakatan yang akan menghentikan persenjataan dari program nuklir Iran dengan bertukar bantuan dari sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi.

Juru bicara Catherine Ashton, Michael Mann, yang juga diplomat kebijakan luar negeri Uni Eropa berkicau di twitter, “kami telah mencapai kesepakatan antara E3 +3 dan Iran.”

Beberapa menit kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif juga berkata via Twitter mengatakan, “Kami telah mencapai kesepakatan.”

Selanjutnya, sebuah pesan juga dikirim dari akun Twitter Presiden Iran Hassan Rouhani: “suara rakyat Iran untuk #moderasi & keterlibatan konstruktif + upaya tak kenal lelah dengan tim negosiasi untuk membuka cakrawala baru. #IranTalks.”

Seorang pejabat senior Obama mengatakan kepada Time, kesepakatan itu akan menghentikan kemajuan program nuklir Iran, termasuk reaktor air berat di Arak. Pejabat itu menambahkan, Iran masih belum diakui dan memiliki hak untuk memperkaya nuklir.

Komentar