Israel “Bonyok” Dikeroyok Opini Dunia

Penulis: Darmansyah

Rabu, 6 Agustus 2014 | 09:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Israel “bonyok” oleh opini dunia, yang dituduh sebagai pembantai biadab dan terpaksa harus menerima gencatan senjata selama tiga hari mulai Selasa, 05 Agustus 2014, kemarin. Sebelum gencatan senjata diumumkan, semua tentara dan peralatan militer Israel di”usir’ dari jalur Gaza dan kini penduduk Palestina di kamp terpadat itu bisa kembali beraktifitas.

Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Peter Lerner, membenarkan pasukan Israel telah meninggalkan Gaza sebelum gencatan senjata diberlakukan.

Laporan media Israel menyatakan tujuan utama dari konflik -untuk menghancurkan terowongan pihak militan- telah dicapai.

Penarikan pasukan Israel ini diumumkan beberapa saat sebelum gencatan senjata terbaru diberlakukan.
“Pasukan Pertahanan Israel akan didistribusikan dalam posisi defensif di luar Jalur Gaza dan kami akan mempertahankan posisi defensif tersebut,” kata Kolonel Lerner.

Sementara itu, Mesir berharap gencatan senjata akan diikuti dengan pembicaraan yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata secara permanen.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat juga menyambut gencatan senjata dan mendesak Israel dan Palestina untuk menghormatinya.

ecaman terhadap Israel ini disuarakan oleh Menteri Luar Negeri Laurent Fabius, yang untuk pertama kalinya menggunakan kata-kata pembunuhan besar-besaran terhadap warga sipil.

Dari Paris di laporkan, pemerintah Prancis memperbesar tekanan terhadap Israel seiring dengan makin besarnya korban di Gaza. Dalam rilisnya Perancis mempertanyakan berapa banyak lagi korban yang harus tewas sebelum kekerasan di Gaza bisa diakhiri.

Dalam masa gencatan senjata, hari ini, Rabu, 06 Agustus 2014, Otoritas Palestina di Gaza mulai menghitung angka kerugian akibat perang dengan Israel..

Deputi Menteri Ekonomi Otoritas Palestina Taysir Amro dalam catatan pemerintah mengatakan, kerugian yang mesti ditanggung pihaknya mencapai enam miliar dollar AS. Kerugian itu mencakup kerusakan bangunan lantaran hantaman peluru-peluru Israel. “Kerugian itu belum termasuk korban-korban selama perang,” katanya.

Perang di Gaza, kata Taysir, juga membuat kesan yang tak lekang bagi warga Palestina.

Dalam kesempatan itu, Taysir meminta donor internasional bertemu di Norwegia pada September mendatang meski ia belum memerinci jumlah bantuan yang diminta Palestina.

Dalam kecamuk perang Gaza yang paling menderita dialami anak-anak. Mereka besar di tengah perang, dan ada kekhawatiran dampaknya terhadap perkembangan mereka. Sementara, sampai saat ini, konflik tersebut sampai sekarang belum ada tanda-tanda purna. Seperti diberitakan “The WorldPost” di Yerusalem, yang dilansir “The Huffington Post,” menyebut, ini adalah eskalasi kekerasan ketiga dalam enam tahun bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Secara psikologis, ada dua dampak besar yang disoroti oleh media: pertama, kekerasan menjadi sesuatu yang normal. Dampak ini akan terlihat jelas ketika anak-anak tersebut mulai menginjak dewasa; di mana beberapa anak akan lebih berani mengambil risiko akibat kehilangan kontak dengan batas-batas keselamatan.

Ketika kekerasa sudah menjadi sesuatu yang lumrah, anak-anak akan cenderung mereproduksi kekerasan itu dalam kehidupan sehari-hari. Misal, menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan konflik dengan anak-anak mereka kelak, atau istri atau suami-suami mereka, atau ketika berada di tengah masyarakat.

Kedua, dalam waktu dekat, banyak anak-anak yang tidak bisa tidur, gelisah, dan bahkan benar-benar kehilangan nafsu untuk makan. Anak-anak bisa jadi sangat tenang, tapi mereka juga bisa terlihat sangat stres.

Tidak hanya tekanan psikis, anak-anak Gaza yang besar di tengah perang juga kesulitan makanan dan aksese kesehatan. Beberapa keluarga bahkan pergi meninggalkan rumah tanpa memiliki sikat gigi. Sekitar dua-pertiga dari penduduk Gaza tidak memiliki akses ke jaringan air, sehingga mereka tidak lagi memiliki air di rumah.

Oleh sebab itu, solusi UNICEF dan lembaga-lembaga lain adalah membawa air untuk dikelola sekolah-sekolah yang diinisiasi oleh PBB dan beberapa tempat lain, meski tidak mudah dijangkau karena situasi yang tidak memungkinkan.

Komentar