Iran Siap Hadapi Serangan Terburuk AS

Penulis: Darmansyah

Rabu, 25 September 2013 | 17:20 WIB

Dibaca: 2 kali

Iran, sedikit pun tidak gentar terhadap gertakan Barat, Amerika Serikat dan Israel yang tengah mempersiapkan serangannya ke instalasi nuklir. Presiden Iran Hassan Rouhani dengan keras mengatakan, tidak ada ketakutan bagi Teheran kalau serangan itu datang.

Ia mengecam sikap keras Negara Barat terhadap negaranya yang tetap menuduh Iran sedang menyiapkan bom nuklir. Rouhani menyebut ancaman nuklir Iran yang selama ini diserukan Negara Barat hanya imajinasi belaka.

“Wacana tentang ancaman nuklir Iran hanya imajinasi Barat. Iran sama sekali bukan ancaman bagi dunia,” ujar Rouhani dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-68 seperti dikutip BBC, Rabu, 25 September 2013..

“Iran tidak tertarik memiliki senjata pemusnah massal. Ancaman terbesar di Timur Tengah adalah Al Qaeda, khususnya jika mereka merebut senjata kimia milik Suriah,” lanjut Rouhani.

Ucapan Rouhani merespons klaim Presiden AS Barack Obama yang menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman terbesar di Timur Tengah. AS dan Israel memang terus berupaya menghentikan perkembangan nuklir Iran.

Rouhani menyatakan, isu nuklir Iran bisa diselesaikan melalui jalur diplomasi. Dia bersedia membuka kembali proses perundingan yang terhenti saat Iran masih dipimpin Mahmoud Ahamdinejad.

“Saya siap ikut serta dalam pembicaraan mengenai isu nuklir Iran untuk membangun rasa saling percaya,” tutur Rouhani.

Pada kesempatan yang sama, Rouhani juga mengecam sanksi yang diberikan dunia internasional kepada Iran. Dia menyebut sanksi terhadap Iran sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan.

“Sanksi membuat warga Iran menderita. Ini adalah sebuah kejahatan,” pungkasnya.
Iran, untuk pertama kalinya dalam masa kepresidenan Hasan Rouhani, menggelar parade militer untuk memperingati Perang Iran-Irak. Dalam parade tersebut, Iran menunjukkan persenjataan tercanggihnya.

Salah satu senjata yang dipamerkan yakni rudal yang diklaim dapat menjangkau wilayah Israel. Rudal benama Sejil dan Ghadr tersebut masing-masing memiliki jarak jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan, Iran tidak memiliki pikiran untuk menyerang negara lain. Iran hanya akan melawan jika diserang terlebih dahulu.

“Selama 200 tahun Iran tidak pernah menyerang negara lain,” tegas Rouhani, seperti dikutip Al-Jazeera.

“Sekarang juga masih sama, pasukan dari Republik Islam Iran dan para pemimpinnya tidak akan melakukan penyerangan. Tetapi kita akan melakukan perlawanan terhadap setiap penyerangan sampai kita mendapat kemenangan,” beber Rouhani.

Israel memang beberapa kali mengancam akan menyerang Iran. Negara Zionis itu takut dengan program nuklir yang dikembangkan Iran. Israel menuduh Iran mengembangkan nuklir untuk dibuat menjadi senjata. Padahal, Pemerintah Iran terus menjelaskan program nuklirnya bertujuan damai.

Sementara itu di Gedung Putih, Barack Obama,untuk pertama kalinya, mengakui Amerika Serikat bertanggungjawab atas peristiwa kudeta pada 1953 di Iran. Kudeta itu menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis.

AS mengganti Mossadegh dengan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang memimpin Iran secara diktator. AS meminta Shah Pahlevi mengamankan kepentingan perusahaan migas AS di Iran.

Shah Pahlevi sendiri dilengserkan dalam revolusi Islam pada 1979. Iran pun menjadi negara yang menganut teokrasi hingga kini.

Pemerintah Iran menggunakan peristiwa Kudeta 1953 untuk menolak tekanan demokratisasi dari Barat. Mereka berdalih AS dan sekutunyalah yang pertama kali menghancurkan demokrasi di Iran.

“Hubungan buruk kedua negara memiliki sejarah yang panjang. Warga Iran mengecam aksi AS menggulingkan pemerintahan Iran yang sah pada masa Perang Dingin,” ujar Obama dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB ke-68, seperti dikutip Guardian, Rabu.

“Butuh waktu lama untuk memperbaiki rasa tidak percaya di antara kedua negara,” lanjut Obama.

Walaupun mengakui kesalahan AS di masa lalu, Obama bersikeras agar Iran kembali ke jalan demokrasi. Dia meminta Iran mengikuti tekanan Barat untuk membuka diri dan menghentikan program nuklirnya.

“Hubungan kedua negara akan membaik jika isu program nuklir bisa diatasi,” tutur Obama.

Sebagian pengamat menyatakan, pengakuan Obama tersebut sengaja diberikan untuk menyenangkan hati rezim Iran.

AS ingin membuka kembali proses diplomasi mengenai isu nuklir setelah Hassan Rouhani menggantikan Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran. Tidak seperti Ahmadinejad yang berwatak keras, Rouhani merupakan tokoh moderat yang mengutamakan diplomasi.

Komentar