Indonesia Jadi Minta Maaf Kasus Asap

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 Juni 2013 | 20:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Indonesia jadi juga minta maaf atas kabut asap yang menyelimuti Malaysia dan Singapura. Pernyataan permintaan maaf itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Senin malam, 24 Juli 2013.

SBY mengakui kebakaran hutan dan lahan di Dumai, Riau, kali ini merupakan bencana kebakaran hutan paling berat. SBY bersama Wakil Presiden Boediono menggelar rapat kabinet terbatas untuk menanggulangi kebakaran hutan tersebut.

“Memang tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Faktor iklim, faktor cuaca turut berpengaruh. Pernah selama tiga tahun berturut-turut hampir tidak terjadi kejadian yang menonjol dari segi kebakaran lahan dan asap, tapi tahun ini memang berat,” kata SBY dalam keterangan pers di Kantor Presiden.

Lebih lanjut SBY mengatakan, selain faktior cuaca dan iklim, ada sejumlah pihak yang menyebabkan kebakaran hutan di Riau meluas.

“Ada kelalaian satu dua pihak dalam mengerjakan area perkebunan. Namun dari faktor cuaca dan iklim memberikan tekanan, antara lain uap air dari wilayah Sumatera dibawa ke Filipina, kemudian suhu yang tinggi juga membuat lahan-lahan gambut mudah terbakar. Semua itu membuat kebakaran lahan dan produksi asap di Riau menjadi tinggi,” ungkapnya.

SBY juga telah memerintahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatasi bencana tersebut. “BNPB berada di depan dan memimpin untuk mengkoordinasikan langkah-langkah mengatasi bencana asap ini,” tukasnya.

Sementara itu di Kualalumpur, Malaysia, Partai Umno melalui badan Pemuda Umno menyerahkan memorandum kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, mendesak agar Pemerintah Indonesia mengendalikan asap. Mereka menuntut Indonesia segera mengatasi kebakaran hutan.

Kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera menimbulkan kabut asap yang memenuhi Singapura dan Malaysia. Ketika asap mulai mereda di Singapura, kini giliran Malaysia yang terkena imbasnya.

Selain mendesak Pemerintah Indonesia untuk bertindak, memo dari Pemuda Umno itu juga menginginkan pihak-pihak yang terlibat dalam pembakaran lahan untuk segera di selidiki dan dikenakan hukuman berat.

“Kami menuntut agar Pemerintah Indonesia memandang masalah ini dengan serius. Kami mendesak agar Pemerintah Indonesia untuk segera meratifikasi perjanjian ASEAN mengenai polusi asap antar-negara yang berlaku pada 2013,” isi memo Pemuda Umno tersebut, seperti dikutip Bernama, Senin.

Memo itu juga berisi protes dari kurangnya tindakan proaktif dan lamban dari Pemerintah Indonesia, yang dinilai membiarkan tindakan pembakaran demi membuka ladang perkebunan kelapa sawit yang baru di Sumatera.

Pemuda Umno itu juga mengaku bahwa warga Malaysia teramat menderita akibat kabut asap tersebut. Mereka menilai Malaysia mengalami kerugian dalam segi kesehatan, emosi dan ekonomi.

Desakan kepada Indonesia sebelumnya juga dilayangkan oleh Singapura. Asap yang telah memenuhi Singapura dan Malaysia itu sudah terjadi kurang lebih selama sepekan.

Malaysia sudah memberlakukan libur kerja bagi karyawan atau pekerjaan yang berada di ruang terbuka sejak Senin. “Kami harap dalam level Indeks Standar Polusi, pekerja yang melakukan kegiatan di lapangan dan pekerja konstruksi bisa menghentikan kegiatannya,” jelas Direktur Jenderal Departemen Kesehatan dan Keselamatan Malaysia Datuk Dr Johari Basri, seperti dikutip Bernama, Senin..

“Pekerja yang mengoperasikan alat berat, akan dihadapkan pada jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap dan kondisi tersebut bisa membahayakan mereka,” jelasnya.

Menurut Johari, perusahaan di seluruh sektor disarankan untuk mempersiapkan aturan keamanan dan kesehatan untuk pekerja mereka. Johari menginginkan semua pekerja mengutamakan aturan keamanan dan kesehatan.

“Warga juga harus lebih hati-hati ketika mengendarai motor atau mobil,” imbuhnya. Minggu 23 Juni, kedua wilayah tersebut dipenuhi kabut asap tebal dengan PSI yang menembus angka 750.

Komentar