“Good Bye,” FHM Telah “In Memorium”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 8 Januari 2016 | 15:11 WIB

Dibaca: 0 kali

“Last Edition. Good Bye”

“Keluaran terakhir. Selamat tinggal”.

Cukup tiga puluh satu tahun.

Itulah yang dialami majalah khusus pria terbitan London, Inggris, “FHM, ” yang nggak lagi “laku” dan harus memahatkan nisannya dengan kata “in memorium.”

Ya. “FHM,” yang persis semacam saudaranya “majalah Playboy” terbitan New York, harus hengkang dari dunia nyata karena tergerus oleh kemajuan teknologi informasi.

Setelah tiga puluh satu tahun majalah khusus pria ini akhirnya berhenti terbit.

Cetakan penutup majalah bulanan tentang gaya hidup kaum adam itu keluar pada Kamis, 07 Januari 2016 dengan sampul foto Holly Willoughby, seorang presenter televisi asal Inggris.

“Keluaran terakhir, 1985-2016. Selamat tinggal”.

Demikian teks yang tertulis di halaman wajah majalah tersebut.

Sehari sebelumnya, Holly tampil di program televisi “This Morning” di ITV2 dan menginformasikan bahwa fotonya tampil di edisi pamungkas FHM.

“Inilah akhir sebuah era dan menjadi bagian dalam edisi terakhir… adalah suatu kehormatan bagi saya.”

“ Kami tumbuh bersama… tapi kini, dengan berat hati, saatnya mengucapkan selamat tinggal,” kata wanita “hot” paruh baya itu yang pernah menjadi model FHM pada delapan tahun silam.

FHM pertama kali terbit pada 1985 dengan nama For Him Magazine.

Majalah tersebut telah beredar dalam berbagai versi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Pada masa emasnya, FHM pernah mencapai oplah sebanyak hampir satu juta eksemplar sekali terbit.

Media raksasa Inggris “The Guardian,” Jumat, 08 Januari 2016, melaporkan, sirkulasi majalah ini turun drastis hingga di bawah seratus ribu eksemplar sejak tiga tahun belakangan.

Akhir perjalanan FHM itu menandai senja kala penerbitan majalah yang menyuguhkan kemolekan tubuh wanita.

Dua bulan lalu, penerbit Bauer Media sudah mengumumkan bahwa FHM dan majalah panas Zoo akan berhenti beredar.

Zoo mencetak lembar penghabisan pada Desember 2015 atau sebelas tahun sejak terbit perdana.

Penerbit majalah itu menyebutkan bahwa penutupan dilakukan karena sulitnya kondisi pasar majalah khusus pria.

Perubahan perilaku pembaca, yang lebih suka internet dan media sosial, menjadi salah satu alasan pelanggan meninggalkan media kertas.

Dua tahun lalu, majalah Nuts dan Front juga mengakhiri tarikan napasnya setelah sepuluh tahun beredar di Inggris.

Pada Maret 2015, majalah Loaded memilih hijrah ke versi online setelah dua puluh satu tahun menyapa pembaca dalam edisi cetak.

Lantas bagaimana dengan “Playboy,” sang pelopor majalah pria dewasa itu.

Playboy juga mengalami kondisi serupa.

Edisii Januari/Februari 2016-nya, dengan foto sampul Pamela Anderson menjadi keluaran terakhir yang menampilkan model bugil.

Selanjutnya, majalah berumur enam puluh dua tahun milik Hugh Hefner itu akan menyudahi konten foto-foto wanita tanpa busana.

Anda, para pria dewasa, pasti mengenal majalah kontroversial bernama Playboy.

Ya…. Rasanya tidak ada pria yang tidak mengetahui mengenai majalah yang menawarkan “fantasi” liar di benak nyaris sebagian besar pria di dunia.

Majalah Playboy yang kali pertama terbit pada tahun 1953 itu memang hadir sebagai majalah pria dewasa yang terkenal dengan foto-foto wanita bugil di halaman bagian tengah majalah.

Pada hari Senin, 12 November lalu Playboy mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan.

Majalah Playboy tak akan lagi menampilkan foto-foto wanita telanjang di dalam majalah.

Tentunya, keputusan fantastis ini akan membuat sejumlah pembaca setianya kecewa berat.

Berita ini secara perdana dilaporkan oleh The New York Times yang menguraikan bahwa Playboy sudah mulai berbenah diri untuk menanggulangi “hantaman” krisis yang dialami bisnis media cetak.

Langkah reorientasi yang dilakukan Playboy ini bertujuan untuk menangani tingginya kompetisi yang terjadi pada industri film biru dan foto seks di dunia maya.

Rencananya, majalah Playboy konsep baru akan dirilis pada Maret 2016 mendatang.

Selama lebih kurang enam puluh dua tahun, majalah berlambang kelinci ini telah menjadi ikon budaya pop di Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, Playboy telah menampilkan para selebriti wanita yang bersedia berpose tanpa busana sama sekali menutupi tubuh mereka.

Naomi Campbell, Marilyn Monroe, Drew Barrymore, hingga Lindsay Lohan pernah hadir menghibur pembaca Playboy dengan foto mereka yang hadir tanpa busana.

Namun, semenjak bisnis media online meningkat, keberlangsungan hidup majalah Playboy mengalami guncangan siginifikan.

Jumlah sirkulasi terus menurun drastis. Jika pada era ’70-an sirkulasi bisa mencapai miliaran eksemplar, maka beberapa tahun belakangan hanya delapan ratus eksemplar.

Pada Agustus 2015, situs majalah Playboy sudah lebih dulu mengalami perubahan.

Situs ini hanya menampilkan foto-foto wanita berpose seksi dan tidak telanjang. Tujuannya agar foto-foto tersebut cukup layak beredar di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Memang nantinya foto-foto wanita telanjang tak lagi terlihat, tetapi foto para wanita seksi dengan pose agresif dan provokatif tetap dipertahankan.

Selain itu, tim editorial pun berencana untuk mengembangkan dan menguatkan feature lain di majalah.

“Jangan salah, bukan hanya Anda yang kecewa, keputusan ini akan membuat diri saya pada masa remaja kecewa dengan diri saya versi dewasa sekarang,” ujar Cory Jones, Editor Majalah Playboy

Komentar