Gereja Tua di Minnesota Diubah Jadi Masjid

Penulis: Darmansyah

Kamis, 3 Juli 2014 | 11:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah puluhan gereja berubah menjadi mall dan masjid di Europa. Perancis, Inggris dan Jerman, kini, muncul kabar terbaru yang ditulis oleh sebuah surat kabar terbitan Minnesota, Amerika Serikat, “Christian Post,” tentang gereja St. John di Minnesota telah ditutup pada 2013 lalu difungsikan sebagai masjid dan pusat kebudayaan Islam.

Gereja tua itu ditutup setahun lalu karena jumlah jemaahnya berkurang. Tahun ini, tulis Christian Post,” bertepatan dengan Ramadan, gereja berumur seratus dua puluh tajuh tahun itu kembali dibuka dengan Darul Ulum Islamic Center.

“Ada banyak warga Afrika Timur di daerah ini dan rata-rata muslim. Jadi kami ingin memberikan mereka tempat untuk beribadah, pendidikan, dan ruang komunitas,” kata juru bicara gereja, Feisal M. Elmi, seperti ditulis “Christian Post.”.

Menurut catatan, gereja ini memang mengalami penurunan jemaah. Awalnya, Gereja St. John memiliki 1.400 anggota. Kini jumlahnya telah berkurang menjadi 152 kepala keluarga atau 400 anggota saja.

Islam memang tengah berkembang dengan pesat di negara adidaya itu. April lalu, gereja Katolik di Syracuse, New York, juga menerima rekonstruksi pengubahan bangunan itu menjadi masjid. Tentu saja keputusan ini sudah diberi izin oleh Dewan Perlindungan Sejarah Syracuse, sebab gereja itu didirikan berabad-abad lalu oleh imigran Jerman.

Relawan dari North Side Learning Center, sebuah organisasi kaum muslim, Yusuf Soule, mengatakan organisasinya berniat mengubah gereja yang “sudah tidak terpakai” untuk menjadi tempat ibadah umat Islam di sana. Soule juga mengatakan sudah meminta izin untuk mencopot salib di dalam gereja.

“Karena gereja itu akan jadi masjid, salib bukanlah simbol yang tepat untuk melambangkan agama Islam,” katanya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberikan penghormatan kepada Muslim Amerika atas kontribusi mereka dalam membangun negara tersebut dengan menjadi pengusaha, inovator teknologi dan pioner di bidang kesehatan.

Obama menyatakan hal tersebut saat acara makan malam sebagai bagian dari kegiatan buka puasa bersama di Gedung Putih yang diselenggarakannya untuk menghormati bulan suci umat Islam, Ramadan.
Menurut pria dengan nama tengah Hussein ini, Ramadan “merupakan waktu untuk melakukan refleksi, sebuah peluang untuk menunjukkan pengabdian kepada Tuhan melalui doa dan berpuasa, tetapi juga waktu untuk keluarga dan teman-teman untuk berkumpul bersama-sama”.

Ayah dua anak ini bergabung dengan staf administrasi, pejabat terpilih, pemuka agama dan anggota korp diplomatik saat menyelenggarakan buka puasa bersama untuk kelima kalinya ini di Sate Dining Room.

Seperti dikutip situs Time edisi 25 Juli 2013, Obama mengatakan bahwa Gedung Putih mempunyai tradisi untuk menghormati berbagai hari penting dari berbagai agama sebagai upaya untuk merayakan keberagaman yang membentuk negeri tersebut dan menguatkan kembali komitmen negara mengenai kebebasan beragama.

Pria kelahiran Honolulu Hawaii 4 Agustus 1961 ini mengatakan bahwa orang Amerika dan masyarakat Timur Tengah mempunyai tujuan bersama atas kesempatan ekonomi dan kewirausahaan.

“Kita bekerja sedikit lebih keras, kita bertujuan untuk mencapai kemajuan lebih tinggi dan kita tetap berjuang untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak dan generasi mendatang,” ujar presiden Amerika ke-44 ini.

“Tentu saja, ini bukan hanya mimpi orang Amerika, ini juga aspirasi seluruh manusia di dunia. Ini adalah hal mendasar, keinginan manusia untuk maju, untuk menemukan kejayaan yang datang dari kerja bagi anak-anak kita demi sesuatu yang lebih baik.”

Komentar