Gempar, Di Bireuen Ada Jaringan Mucikari Seks

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 Februari 2013 | 15:22 WIB

Dibaca: 4 kali

BIREUEN kembali gempar. Kegemparan itu  bukan lagi oleh kasus ajaran sesat atau perdagangan narkoba, tapi terbongkarnya jaringan esek-esek yang melibat mucikari dan anak baru gede (ABG)  dalam  “praktek” bisinis jasa komersial.

Terbongkarnya kasus ini oleh Kepolisian Resor Bireuen dimulai dari penangkapan yang mereka lakukan terhadap lima mucikari dan seorang pemakai jasa seks komersial. Dari hasil pelacakan, usai penangkapan itu, polisi mengusut keterlibatan anak baru gede  dan pemakai jasa perbuatan haram ini beserta jaringannya yasng ternyata sudah berlangsung beberapa lama.

Sejumlah ABG yang sudah diidentifikasi, ternyata masih berstatus  siswi SMP dan SMA. Mereka  sudah dimintai keterangan oleh penyidik. Sedang sisanya  masih ditelusuri untuk menggali banyak bukti baru untuk membuka seluruh jaringan yang bisa menghancurkan moral remaja ini.

“Benar tiga dari delapan ABG sudah membuat laporan resmi dan mengakui keterlibatan mereka,” kata Kasat Reskrim Polres Bireuen, Iptu Benny Cahyadi, Kamis (7/2/2013), kepada wartawan.

Para  remaja itu bukan hanya berasal  Bireuen, tapi juga datang dari kota lainnya dari beberapa kecamatan di kabupaten itu. Seperti Juli, Jeunib dan Samalanga. Tentang masih adanya korban lain dari praktek mucikari ini, diakuinya pihak kepolisian telah mengantongi sejumlah nama yang akan terus diusut  untuk mendapat data akurat sejauh mana keterlibatannya.
“Setelah dimintai keterangan, korban yang masih berstatus siswi SMP ini kita kembalikan ke keluarga. Saat ini kita upayakan menelusuri data para pemakai jasa bisnis prostitusi ini,” tambah Benny.
Diungkapkan, jaringan ini terorganisir secara  rapi mulai dari  pencarian remaja sekolahan, penampungan, dan penawaran kepada pemakai. Sebuah rumah yang dicurigai sebagai tempat penampungan di kawasan Pulo Kiton, Kecamatan Juang,.

Diungkapkan pula, untuk bayaran sewa kamar mucikari menarik sewa kepada pelanggan sebesar Rp 100 ribu. Praktek ini juga bisa dilakukan di kamar-kamar  sebuah hotel  yang belum diketahui.

 

Komentar