Gempa Bener Meriah Butuh Kantong Mayat

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 Juli 2013 | 11:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Pergerakan tim Satgana PMI, mulai pagi ini, melakukan identifikasi korban yang tertimbun longsor di kawasan perbatasan Bener Meriah dengan Aceh Tengah, terutama terkonsentrasi di Kecamatan Ketol. Kecamatan ini, terutama dengan desa-desa seperti Blang Mancung, merupakan kawasan terparah gempa sesar Selasa lalu.

Proses evakuasi, seperti dilaporkan kontributor “nuga.co” Zaini Ruslan dari posko Masjid Baitulsalihin, Aceh masih terus berlangsung. Sebanyak 35 personel Satgana serta mencari korban yang kemungkinan masih tertimbun longsor.

Saat ini kebutuhan yang sangat mendesak bagi tim evakuasi adalah kantong mayat. Sedangkan untuk pengungsi membutuhkan tenda keluarga, selimut, terpal, dan lampu penerangan. Selain itu, dibutuhkan juga makanan siap saji, makanan bayi bagi warga pengungsi.

Menurut laporan yang terus di “update” 300 rumah mengalami rusak berat atau sedang di Aceh Tengah. Ruas jalan di KM 92 di Kecamatan Kebayan, Takengon, terputus. Selain itu dua masjid rusak. Diperkirakan di masjid-masjid itu masih tertimbun 21 orang korban. Di Bener Meriah rumah yang rusak parah mencapai 22 unit.

Korban meninggal, menurut Zaini Ruslan, sangat simpang siur. Terakhir ia mencatat 31 orang dan luka 280 orang. Di lapangan “updaqte” data kacau. “Kalau mau data akurat ada di BNPB,” kata seorang petugas lapangan.

Gempa berkekuatan 6,2 skala richter mengguncang Kabupaten Bener Meriah pada Selasa, 2 Juli 2013 pukul 14.38 WIB dengan titik pusat di 43 kilometer renggara Kabupaten Bireun, 50 kilometer barat laut Kabupaten Aceh Tengah, 181 kilometer tenggara Banda Aceh, Aceh. Kedalaman gempa 10 kilometer.

Pascagempa banyak warga yang bertahan di lokasi bencana. Mereka memilih mendirikan tenda di depan rumah masing-masing.

“Pengungsi dipusatkan di tenda-tenda milik Dinsos dan TNI, tapi ada juga yang tidak mau bergabung, karena mereka jaga rumah. Beberapa warga buka tenda di depan rumah mereka yang rusak,” ujar seorang petugas relawan.

Selain pengungsi, sambungnya, masih ada beberapa warga yang dirawat di rumah sakit lantaran trauma. Dia juga sempat menemui anak-anak yang tertimpa reruntuhan bangunan. “Data saya dapat dari RSU Bener Meriah ada puluhan orang yang terluka dan trauma dan hingga kini masih dirawat,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, masih ada sejumlah anak-anak yang hingga kini belum ditemukan. Saat kejadian, mereka tengah mengaji musala di kampung Kulempara Kanis, Dusun Benara, Kecamatan Timang Gajah.

“Informasi yang saya, masih ada sekitar 20 anak yang belum ditemukan, dan yang ketemu baru lima orang. Saat gempa terjadi mereka sedang mengaji di musala,” terangnya.

Komentar