Faisal Sebelumnya Dicurigai, Kok Bisa Kaya Mendadak

Penulis: Darmansyah

Minggu, 31 Maret 2013 | 14:07 WIB

Dibaca: 0 kali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Badan Narkotika Nasional (BNN)  masih mengembangkan dan mendalami kasus Faisal, bandar narkoba sindikat Aceh, yang tertangkap dua  pekan lalu di Jakarta. Pengembangan kasus ini, seperti diungkap oleh seorang pejabat di badan itu, mengingat posisi Faisal sebagai bandar besar yang memiliki jaringan luas serta telah lama menjalankan bisnis haram ini.

“Tentu dia punya jaringan luas. Dan jaringan inilah yang sedang diselidiki secara teliti. Kan tidak mudah membangun jaringan yang kemudian eksis selama tahunan. Tentu banyak orang yang ikut dalam bisnis ini. Tentu juga luas cakupan distribusi dan pemasaran narkoba yang ia sebar. Kita ingin juga teliti darimana barang itu dipasok, didistrubiskan dan diedarkan,” kata sebuah sumber.

Selain memiliki barang-barang super mewah, Faisal juga menjadi perbincangan yang sangat ramai di daerah usai ditangkap oleh BNN. Ia membuat tetangga dan teman-temannya tercengang kettika tahu hartanya melimpah dan melebihi angka Rp 38 milyar dengan asset yang bertebaran sejak dari Aceh, Jakarta dan Malaysia.

Faisal sendiri, ketika ditangkap di lobi sebuah “super mall” mewah di Jakarta, Plaza Indonesia, usai belanja kaos seharga Rp 8 juta rupiah. Banda narkoba itu terkenal menyukai barang-barang berharga “wah.” Ia juga mengoleksi kolor dengan harga perlembarnya Rp 2 juta.

Faisal ditangkap 13 Maret lalu dalam sebuah “operasi rahasia” oleh BNN. Ia merupakan target setelah beberapa bandar yang tertangkap mengarahkan pengakuannya kepada pria asal Aceh itu.

Kronologi penangkapannya dimula sejak April tahun lalu ketika BNN menciduk Murhadi dkk dengan barang bukti sabu 2,27 kg. Murhadi sudah divonis 18 tahun penjara. Selain itu, tersangka Basyarrullah, Imam Karyono, Imam Suhadi, Afdar, M Isa dan beberapa tersangka lain. Mereka sudah divonis mulai satu tahun hingga 12 tahun bui. Semua jaringan Aceh.

Dari pengakuan mereka,itulah  BNN menyimpulkan  ke satu nama bandar, yakni Faisal. Dan BNN mulai melakukan operasi di tanggal 13 Maret itu ketika Faisal terlihat di depan perumahan Rafles Hills dengan mengendarai Kendaraan Porsche No.Pol. B-99-FAI warna hitam. Kemudian Petugas BNN melakukan pembuntutan terhadapnya hingga Plaza Indonesia.
Beberapa barang bukti yang berhasil BNN adalah beberapa unit ponsel, ATM dan buku rekening, 1 unit mobil Porsche Panamera 3.6L AT tahun 2012 nopol B 99 FAI, 1 unit mobil BMW 640i putih tahun 2012, nopol B 99 FAL, 1 unit mobil Honda City hitam, uang Rp 35.027.000 dan uang RM 156.

Penyidikan pun berkembang dan mendapatkan aset lainnya yang diakui Faisal didapatnya dari hasil penjualan narkotika, 1 unit SPBU di Bireuen, 4 unit ruko di Bireuen, beberapa bidang tanah, 1 unit hotel di Bireuen, 22 sertifikat hak milik atas nama tersangka, dan berupa uang yang tersimpan di beberapa bank kurang lebih Rp 10 miliar.

Sementara itu tetangga Faisal, terutama di sekitar rumah tinggalnya di Aceh, terheran-heran dengan meningkatnya harta kekayaan pria itu. Rumah Faisal terletak di Jalan Mutiara 9, Komplek Bukit Mutiara Indah, Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.  Halaman parkirnya hingga biasanya  menampung tiga buah mobil.
Rumah ini luasnya sekitar 500 meter persegi. Menurut informasi dari warga, perabotan rumah Faisal semuanya tergolong mewah. Di halaman parkir biasa nongkrong mobil Mini Cooper warna putih dan Toyota Harrier.
“Tapi sudah sejak 1,5 tahun lalu dikosongin,” kata salah satu tetangga Faisal yang tidak mau namanya disebut. Padahal dulu, Faisal hanya mengontrak sebuah rumah yang luasnya masuk kategori type 45. Tidak berapa lama, Faisal pun membeli rumah dan tanah.
Warga pun mulai curiga karena cukup banyak orang yang tidak mereka kenal, datang ke rumah Faisal. Faisal sendiri menutup rapat-rapat identitas pekerjaannya. “Cuma senyum saja kalau ditanya. Tapi suka nyumbang. Pernah nyumbang Rp 7 juta untuk bangun kubah masjid,” sambung warga ini.

Komentar