Eyang Subur Minta Ajarkan Cara Tobat Kepada FPI

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 April 2013 | 11:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Kasus perseteruan antara mantan pengikut Eyang Subur dan muridnya masih mewarnai hingar bingar pemberitaan di media massa. Kasus yang menyeret sejumlah artis dan orang-orang di lingkungan pengikut Eyang Subur menjadi konsumsi masyarakat  serbuan berita dari televisi.

Dalam “dagelan” terakhirnya, yang menjadi gossip menarik di tayangan infotainment televise,  lewat sang pengacaranya, Subur menegaskan ingin meminta petunjuk cara bertobat kepada FPI. Ia sepertinya tak mau meminta ajaran jalan tobat kepada MUI. Sebab MUI dikatakan nya tidak netral.

Kasus ini  makin “menarik” setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) masuk dalam pusaran konflik antara guru dan mantan muridnya pria sepuh yang dituduh tukang teluh itu.. Berdasarkan laporan dari salah seorang sang murid  Adi Bing Slamet yang juga sebagai korban, investigasi pun dilakukan.

Sebuah keputusan akhirnya difatwakan. Ketua Bidang Fatwa MUI KH DR Ma’ruf Amin  yang  mengatakan Eyang Subur diyakini telah melakukan penyimpangan terhadap akidah dan syariah Islam.

Fatwa MUI itu tidak berhenti. Pro dan kontra pun saling bersahutan. Gonjang-ganjing perseteruan Eyang dan murid-muridnya berubah menjadi “dagelan” yang menghibur. Beragam cuplikan parodi perseteruan murid-muridnya dengan Eyang Subur dibuat sejumlah orang dan diunggah di YouTube.

Salah satu mantan murid Eyang Subur, Arya Wiguna, menjadi bahan guyonan. Luapan emosi saat menggelar jumpa pers terkait perseteruannya dengan Eyang Subur dibuat video parodi sejumlah orang.

Hasilnya? Hanya beberapa hari diunggah di YouTube, langsung mencuri perhatian banyak pihak. Beragam komentar pun bermunculan. Kasus perseteruan antara mantan pengikut Eyang Subur dan sang guru masih turut mewarnai hingar bingar pemberitaan di media massa.

Kasus  Eyang Subur dengan ajarannya yang menyimpang itu  menyeret sejumlah artis dan orang-orang di lingkungan mau pun pengikut Eyang Subur.i.

Tidak menerima sepenuhnya dikatakan mempraktekkan aqidah yang menyimpang, Ramdan Alamsyah, salah satu kuasa hukum Eyang Subur, angkat bicara mengenai keputusan Majelis Ulama Indonesia  terkait ajaran dan praktek yang dilakukan kliennya.

Ramdan mengatakan pihak MUI terlalu terburu-buru dalam mengeluarkan fatwanya, sehingga hasilnya tidak dirasa netral. “Hasil investigasi MUI itu terlalu tergesa-gesa. Itu tidak netral,” tegas Ramdan .

Ramdan mempertanyakan keputusan MUI soal penyimpangan yang dilakukan Subur. Menurut penelusuran MUI, Subur menyimpang dari segi aqidah karena dinilai melakukan perdukunan dan peramalan.

“Kalau Eyang Subur dianggap melakukan praktek perdukunan, prakteknya kapan? Di mana? Buktinya apa? Itu harus jelas dong,” tekan Ramdan.

Terkait soal memperistri lebih dari empat dalam waktu yang sama. Ramdan berpendapat, Subur akan menceraikan istrinya apabila fatwa sudah keluar dan tindakan tersebut dinilai salah. “Kalau soal istri lebih dari empat, Eyang Subur kan sudah bilang akan menceraikan kalau itu dianggap salah,” ujarnya lagi.

Eyang Subur, yang disebut-sebut sebagai “orang pintar”, mengaku bersedia memenuhi permintaan Majelis Ulama Indonesia  untuk menceraikan istri-istri kelima hingga kedelapannya. Asal tahu saja, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa Subur telah menyimpang dari syariat karena beristri lebih dari empat orang.

Tapi, diungkapkan oleh Ramdan, perceraian tak langsung dilaksanakan oleh Subur terhadap empat istri terakhirnya, yang disebut menikah siri dengan Subur. Menurut Ramdan, para istri dan anak Subur kini dalam keadaan tertekan dari segi psikologis. Oleh karena itu, ia akan meminta bantuan kepada pihak Front Pembela Islam (FPI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

“Semua anak Subur itu secara psikologis merasa terganggu. Saya akan hubungi KPAI, hubungi Kak Seto, ini pascagelombang gosip, gelombang fitnah. Saya akan hubungi FPI dan kami meminta Habib Selon (dari FPI) melakukan bimbingan,” ujar Ramdan lagi.

Selama menjadi kuasa hukum, Ramdan melihat kehidupan Subur dan para istrinya adem ayem. Menurut Ramdan pula, istri-istri Subur memiliki kriteria tertentu sehingga Subur menikah dengan mereka.

“Mereka hidup bahagia, rukun, tidak pernah ribut. Anak-anak enggak ada yang berantem. Istri-istri Subur tuh, yang dinikahi itu yang memang butuh pertolongan, seperti janda, sakit,” terang Ramdan.

 

Komentar