Empat Kabupaten Barat-Selatan Yang Diterjang Banjir Masih Belum Normal

Penulis: Darmansyah

Rabu, 15 Mei 2013 | 13:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Pasca diterjang banjir yang memorak-porandakan jaringan infrastruktur, lahan pertanian, pemukiman dan menyebabkan ribuan orang  mengungsi di empat kabupaten pesisir barat selatan Aceh, Singkil, Aceh Selatan, Nagan Raya dan Simeulue, kini penduduk di”hantui” kesulitan hidup yang mengakibatkan harga kebutuhan pokok melambung.

Kontributor “nuga.co,” di Aceh bagian barat-selatan, Daniel Aziz, melaporkan masyarakat di pusar bencana, seperti Kluet Utara, Kluet Selatan, Pasie Raja maupun Kluet Tengah di Aceh Selatan menghadapi “bencana” baru akibat hancurnya jaringan jalan desa dan gagalnya panen hasil pertanian.

Di Singkil, kondisinya jauh lebih parah. Hingga kini sebagian masyarakt masih berada di tempat pengungsian dengan keterbatasan kebutuhan harian. Rumah-rumah penduduk di beberapa kecamatan di Kabupaten Singkil masih terendam, walau pun ada yang sudah pulang membersihkan pemukimannya.

Di Nagan Raya, terutama Kecamatan Tripa dan Tripa Makmur, yang  selama puluhan tahun menjadi langganan usai pengrusakan lahan gambut, masih bergulat dengan cuaca ekstrim yang terus menumpahkan curah hujan tinggi.

Masyarakat di Tripa Makmur, terutama, seperti sudah terbiasa menjalani ritual banjir yang secara rutin datang beberapa kali dalam setahun. Luapan Krueng Tripa akibat kerusakan hutan  di hulunya dan hancurnya lahan gambut yang diubah fungsinya menjadi perkebunan dituding sebagai penyebab makin tak terkendalinya terjangan banjir.

Menurut Daniel Aziz, yang melakukan “on the spot” untuk melaporkan kondisi terakhir banjir besar di kawasan pantai barat-selatan itu, penduduk kini menghadapi ketidakpastian hidup. Bantuan tanggap darurat yang di koordinir oleh badan penanggulangan bencana kabupaten bekerja tidak professional.

Mereka tidak mampu mencapai titik-titik kritis daerah bencana. Mereka juga, lapor Daniel untuk “nuga.co,” tidak tahu cara mengkoordinasikan penyampaian bantuan. “Acak-acakan,” katanya. Ia juga tidak melihat keseriusan provinsi untuk mem”back up” pekerjaan para satuan tugas dan relawan di lapangan.

Di Kluet Utara, Daniel menyaksikan lahan pertanian dan rumah-rumah penduduk yang hancur. Daerah yang diterjang banjir, seperti dilaporkannya, adalah kawasan marjinal yang secara struktural penduduknya memang sudah miskin dan hidup dari pertanian.

Atikah, seorang janda yang ditemui Danil di Kuta Fajar Kluet Utara, mengatakan, ia tidak tahu akan berbuat apa. Rumahnya rusak dan padinya yang siap panen hancur. “Tak ada lagi yang diharapkan,” kata janda dua anak yang “dhuafa” itu.

Menurut Atikah, bantuan yang datang dari pemerintah masih seadanya. Ia kini terpaksa menumpang di rumah saudaranya. “kalau ditempat pengungsian serba tidak pasti,” ujarnya dengan cemberut.

Sementara itu badan penanggulangan bencana di Singkil dan Aceh Selatan mengatakan, penyaluran bantuan kepada penduduk yang terkena bencana sudah disalurkan. Diakui oleh mereka, ada daerah-daerah yang terisolir dan sulit dijangkau. Tapi pihak tetap mengusahakan kelancaran bantuan dengan bekerjasama dengan relawan.

Banjir besar yang melanda empat kabupeten di pesisir barat dan selatan Aceh, disebabkan adanya pusat tekanan rendah di sebelah barat laut r Samudera Hindia menyebabkan  terjadinya cuaca ekstrem.

Hingga saat ini pusat tekanan rendah tersebut masih kuat sehingga akan berpengaruh pada cuaca di Aceh dan sekitarnya. Akibatnya banjir merata di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, Nagan Raya dan Simeulue sejak pekan lalu.

Khusus untuk kawasan Singkil, banjir makin diperparah oleh terjadinya pasang laut yang menenggelamkan kota Singkil sendiri. Pulau Sarok, Kilangan dan Aneuk Laot tenggelam.  Akibatnya, banjir di kawasan Ujung Bawang sudah mencapai ketinggian sekitar dua meter,” kata Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan.n.

Banjir, katanya,  mengepung daerah setempat dengan kondisi semakin parah karena bersamaan dengan pasang purnama merambah daratan Aceh Singkil. Namun, kata dia, upaya evakuasi warga dari sejumlah desa yang terkepung banjir terus dilakukan tim SAR bersama TNI dan Polri serta tim relawan lainnya.

“Upaya evakuasi membantu warga untuk diungsikan ke lokasi yang jauh dari jangkauan banjir terus dilakukan,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan elektronik menyebutkan upaya pencarian korban banjir di beberapa tempat menyulitkan tim karena air masih tinggi.

Saat ini, Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang memimpin rombongan dari Banda Aceh membawa bantuan logistik untuk membantu masyarakat korban banjir di sejumlah daerah di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Daniel mencatat, di Aceh Selatan hujan deras disertai angin kencang dan banjir terjadi di enam kecamatan yaitu Kecamatan Sawang, Kluet Tengah, Kluet Utara, Bhagia, Bangkongan, dan Kluet Selatan. Ribuan rumah terendam banjir hingga ketinggian dua setengah meter..

Di Kecamatan Kluet Tengah sebanyak 13 desa terendam banjir dengan 6.630 jiwa terdampak, sedangkan di Kecamatan Bakongan 270 KK (1.070 jiwa) dan di Kecamatan Sawang 65 KK terendam banjir.

“Sedangkan di Desa Ujung Manki Kecamatan Bakongan 14 rumah hilang diterjang ombak karena abrasi pantai. Beberapa jembatan hanyut,” kata Sutopo. Di Kabupaten Aceh Singkil 16 desa di Kecamatan Singkil terendam banjir dengan tinggi 1 meter pada Jumat (10/5). Sebanyak 4.569 KK (19.611 jiwa) terdampak oleh banjir tersebut.

Di Kabupaten Simeulue banjir merendam 10 kecamatan pada Jumat (10/5) pukul 02.00 WIB. Banjir dipicu oleh hujan selama 5 hari berturut-turut disertai angin kencang. Akibatnya 892 KK (4.817 jiwa) terdampak banjir. Sebanyak 576 KK diantaranya mengungsi sementara di sejumlah tempat penampungan.

Bencana tersebut juga memakan korban jiwa. Seorang anak, Andri (5), meninggal dunia tertimpa pohon kelapa di rumahnya di Desa Miten, Simeulue Barat.

Komentar