Dunia Bungkam Atas Pembantaian di Mesir

Penulis: Darmansyah

Senin, 29 Juli 2013 | 11:07 WIB

Dibaca: 218 kali

mesir

Supporters of Egypt's ousted President Mohammed Morsi carry an injured man to a field hospital following clashes with security forces at Nasr City, where pro-Morsi protesters have held a weekslong sit-in, in Cairo, Egypt, Saturday, July 27, 2013. Police fired tear gas to disperse hundreds of Morsi supporters, setting off clashes that lasted for hours and left tens of people dead. (AP Photo/Khalil Hamra)

Menyakitkan. Pembantaian pengikut Ikhwanul Muslimin di Mesir didiamkan dunia. Tak ada gelombang protes atas tindakan brutal itu. Semuanya bungkan. Europa, Amerika Serikat dan Negara Arab yang sesame muslim juga tak ingin mengutuk tragedi berdarah yang menelan jiwa 135 orang dan yang luka mencapai ribuah.

Bungkam. Itu satu kata yang bisa dismpulkan oleh komentar jaringan televisi berita Al-Jazzera. Amerika Serikat tak beraksi atas pembantaian itu. Terus bungkam.

Pembantaian yang dilakukan tentara Mesir terhadap pendukung mantan Presiden Mohammed Morsi disertai penggulingannya lewat sebuah kudeta, bukan kejahatan kemanusiaan bagi mereka..

Sekitar 135 pendukung Morsi tewas saat melakukan aksi protes pada Minggu 28 Juli. Mereka diberondong peluru oleh tentara yang berjaga di lokasi protes. Pemerintah Mesir membantah tentara mereka membantai para demonstran. Namun, rekaman yang tersebar di dunia maya memperlihatkan tentara yang menembak ke arah pengunjuk rasa.

Beberapa politisi AS meminta Presiden Barack Obama menunda pemberian dana bantuan untuk Mesir. Penundaan diharapkan dapat menurunkan ketegangan di Negara Firaun itu. “Kita selama ini memiliki hubungan baik dengan militer Mesir. Namun, kita harus menekankan bahwa mereka tidak bisa menembaki warganya sendiri,” ujar Senator dari Partai Demokrat Richard Durbin, seperti dikutip New York Times, Senin 29 Juli 2013.

Pihak Ikhwanul Muslimin menyatakan, akan terus melakukan aksi protes di Mesir. Mereka menuntut militer Mesir membebaskan Morsi yang mereka tahan.

Kejadian pembantaian itu dimulai ketika orang Mesir pecinta damai memprotes kudeta militer pada 3 Juli 2013 dan diserang oleh tentara Mesir pada 27 Juli 2013 malam waktu setempat, sehingga berubah menjadi pembantaian berdarah.

Sebagian dari jutaan warga sipil berkumpul di Rabia Al-Adawiyya, telah diserang di pintu masuk alun-alun oleh pasukan keamanan Mesir termasuk menggunakan amunisi. Selama serangan tersebut juga terjadi diskriminasi penembakan dengan maksud pembunuhan. Dari apa yang dilaporkan, sebanyak 55 orang dibantai, serta lebih dari 1.000 orang terluka.

“Ada perawatan medis yang cukup untuk terluka. Itu jumlah kematian terus bertambah dengan cepat. Di sisi lain dilaporkan juga di Alexandria setidaknya 11 warga sipil telah kehilangan nyawa mereka,” demikian disampaikan President IHH F Bulent Yildrim, dalam siaran persnya, Minggu (28/7/2013).

Sekelompok warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak yang melarikan diri dari serangan, berlindung di Masjid Al Ebrahim Kaid. Masjid ini dikelilingi oleh “Baltage” dan warga sipil yang mengancam keselamatan jiwa sedang menunggu bantuan.

Selain itu, dilaporkan bahwa ada ketakutan dari operasi dan pembantaian besar terhadap warga sipil
dengan sejumlah besar warga sipil, anak-anak, orangtua dan orang cacat yang berkumpul di bawah komando rezim militer yang dikudeta.

IHH pun menyerukan kepada dunia dengan keprihatinan yang mendalam atas perkembangan terhadap budaya pemilihan umum dan hak asasi manusia yang dilanggar.

“Ini sebagai panggilan kita untuk Otoritas Internasional, Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, pemimpin agama, setiap hati nurani seseorang sebagai anggota keluarga kemanusiaan dan
publik adalah tindakan segera harus diambil untuk menghentikan pembantaian di Mesir. Operasi militer harus dicegah,” pungkasnya

Komentar