“Doa Keampunan Kami dari Arafah”

Penulis: Darmansyah

Senin, 14 Oktober 2013 | 11:38 WIB

Dibaca: 1 kali

“Kami menunggu saat wukuf. Masih menannti datangnya dhuha sembari terus memanjatkankan doa,” pesan pendek yang disampaikan Kamarullah, seorang jamaah calon haji kelompok terbang tujuh Banda Aceh dari Arafah. Kemarin ia menelepon dari atas bus saat masih dalam perjalanan ke Arafah.

Kamarullah menceritakan dengan sendu bagaimana iringan manusia yang terus bersambung dari Mekkah ke Arafah. Ia sendiri, memberitahu, baru tiba di Arafah bakda zuhur. Padahal ia berangkat pada sift pertama.

“Sempat ngelantur arah bisnya. Tapi kembali lagi ke jalan yang benar setelah diberi petunjuk oleh petugas. Maklum bis Saptco milik pemerintah Saudi itu disopiri oleh seorang asal Yaman, yang belum hafal rute Arafah berjarak 14 kilometer dari pemondokan.”

Wukuf Arafah akan di mulai menjelang tengah hari nanti, atau empat jam mendatang. Perbedaan waktu antara WIB dengan Mekkah berkisar empat jam. Wukuf adalah puncak haji. Dan Haji itu adalah wukuf.

Di Arafah akan berarak doa menuju arash. Doa yang berarak itu akan menutup langit dan menggelantung syaitan dalam apungannya. Doa di Arafah adalah doa kekhusyukan. Doa insani. Bukan doa “gelondongan.” Ia adalah doa kesadaran atas dosa-dosa setiap insani sebagai hamba.

Arafah, seperti ditulis dari pesan pendek Kamarullah, sangat menggentarkan dan menggetarkan. Semua dosa dan kesalahan secara beiringan membuncah dimemori. “Semuanya. Tak ada yang tersisa. Hanya Allah yang tahu. Dan Hanya Dia yang bisa mengampunkan. Dan kepadaNya kita minta keampunan.”

Televisi Saudi yang secara langsung menyiarkan situsi Arafah mengatakan, seluruh calon haji dari berbagai penjuru dunia sudah siap untuk melaksanakan wukuf. Mereka ada yang berada di tenda-tenda, di bawah jembatan di lapangan terbuka bahkan di bukit-bukit.

Sorot televisi itu juga memperlihatkan bagiamana penuh sesaknya manusia menengadahkan tangan. Bahkan, pagi ini, Jabal Rahmah, sebuat bukit yang diyakini oleh umat Islam sebagai pertemuan Adam-Hawa setelah berpisah dalam hitungan waktu, penuh seak. Para calon haji dari berbagai negara dan bangsa duduk di atas batu atau disela-sela pepohonan perdu sembari terus berdoa.

Semuanya penuh khusyuk menanti saat matahari tergelincir. Kumandang doa dan bacaan ayat-ayat Al Quran terus berkumandang. Bergema dan reporter televise Saudi terua berpindah sorot dari tiap sudut Arafah.

Arafah kali ini, menurut laporan dari otoritas haji Indonesia, berbeda dari kondisi sebelumnya. Saat jamaah tengah khusuk beribadah di dalam tenda, situasi berbeda justeru terlihat di Balai Pengobatan Haji Indonesia Arafah.

Pasien yang datang seakan tidak pernah putus. Jamaah silih berganti masuk dan keluar BPHI. Penanggung jawab BPHI Arafah, Suradi, mengaku, kedatangan pasien seakan tidak pernah berhenti.

“Hampir setiap keloter yang datang pasti ada saja dirawat bahkan ada satu jamaah yang harus menjalani cuci darah.”

Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim-nya akan melakukan perawatan selama 24 jam. “Mereka kebanyakan menderita kelelahan dan kekurangan cairan atau dehidrasi,” tuturnya.

Dia pun membagi tips agar jamaah tidak menderita kedua hal tersebut. “Jangan memakasakan diri melakukan aktivitas di luar tenda, apalagi langsung terkena sengatan sinar matahari,” paparnya.

“Istirahat yang cukup dan banyak minum, minimal dalam satu jam kira-kira250 cc air. Makan buah serta makan makanan yang sudah disediakan dengan baik,” lanjutnya

Komentar