Desa Serampah Terbelah Diayak Gempa

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 Juli 2013 | 22:16 WIB

Dibaca: 3 kali

Memang dahsyat gempa sesar dengan kekuatan 6,2 skala richter di Bener Meriah. . Kedahsyatannya itu dibuktikan dengan terbelahnya sebuah desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.

Camat Ketol, Muhammad Saleh, mengatakan, desa yang terbelah itu bernama Serampah yang mengalami kerusakan sangat parah karena semua rumah rusak berat dan banyak warga menderita luka-luka.

“Ada enam korban meninggal di Serampah ini, semuanya sudah dikebumikan,” kata Saleh. Menurutnya longsor di Serampah terjadi di sejumlah titik. Badan jalan menuju desa di pedalaman itu banyak mengalami keretakan. Hingga hari ini perjalanan ke Serampah belum begitu mulus. Alat berat masih membersihkan materail longsor yang menutup badan jalan.

Perbukitan di dekat sungai longsor ke dalam sungai, sehingga airnya meluap ke permukiman. Sebagian tanah di desa itu juga ambles seperti terbelah dua, setelah diguncang gempa.

“Kemungkinan besar tidak layak huni lagi. Kampung itu seperti terbelah dua, jalan-jalannya sudah retak-retak,” tutur Saleh.

Dia menyebutkan sekira 200 warga Serampah kini diungsikan ke kampung lain yakni Kute Gelime. Belum diketahui kapan mereka bisa kembali ke desanya, karena kondisinya hingga sekarang belum memungkinkan untuk kembali.

“Walaupun semuanya sudah dievakuasi, tetapi Serampah tidak langsung sepi begitu saja. Anak-anak muda kampung tetap diminta untuk tinggal di desa. Mereka diminta untuk menjaga rumah-rumah yang ditinggalkan warga,” ujar Saleh.

Selain Serampah, kampung lain yang terparah akibat gempa di Kecamatan Ketol adalah Desa Bah, Pantan Penyo dan Jerata. “Ketiga kampung ini masih dibuka dengan alat berat, insya Allah beberapa jam lagi bisa sudah bisa diakses,” katanya.

Sementara itu TNI Angkatan Udara yang l melakukan pemetaan lokasi kerusakan akibat gempa 6,2 skala richter di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah terhadang cuaca buruk.

Pesawat TNI AU sudah berputar-putar di udara selama dua jam dengan pesawat CN 235, namun tak bisa merekam gambar. “Untuk sementara belum ada hasilnya karena terkendala cuaca buruk,” kata kapten pilot Mayor (Pnb) Yoyon Kuscahyono, Kamis (4/7/2013).

Yoyon mengaku menerbangkan pesawatnya setinggi 11.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan prosedur terbang di atas dataran tinggi, seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah. Namun, hujan dan kabut tebal membuat pihaknya sulit melihat daratan.

“Selama tidak kelihatan tanah, kami tidak bisa turun. Akhirnya untuk sekarang kami tidak bisa ambil gambar,” ujarnya. Pihaknya akan mencoba lagi besok pagi bila cuaca memungkinkan

Komandan Lanud Sultan Iskandar Muda, Kolonel (Pnb) Wisnu Murendro menambahkan, hasil pemetaan kerusakan gempa ini akan diserahkan kepada pemerintah untuk memudahkan penanganan pascagempa.

Pemetaan melalui udara ini dialakukan karena Bener Meriah dan Aceh Tengah yang letaknya di lembah gunung sulit diakses melalui darat. Terlebih, sehabis pascagempa, longsor terjadi di sejumlah titik.

Komentar