“CNN:” Surface-to-air Missile Hancurkan MH17

Penulis: Darmansyah

Jumat, 18 Juli 2014 | 09:04 WIB

Dibaca: 0 kali

Malaysia Airlines mengulang peristiwa dramatis kembali dengan ditembaknya MH17, sebuah Boeing 777 tercanggih diklasnya, dengan peluru kendali atau missil di ketinggian tiga puluh tiga ribu kaki di atas wilayah udara Ukraina, berdekatan dengan Rusia, dan mengundang simpati dari masyarakat internasional.

Penembakan pesawat dengan peluru kendali ini menandai sebuah peristiwa keji terhadap jalur penerbangan sipil, yang telah disepakati sebagai penerbangan aman sesuai dengan konsensus global.

Peristiwa yang diucapkan dengan nada getir oleh PM Malaysia, Najib Razak, merupakan kejadian kedua kalinya yang dialami Malaysia Airlines setelah empat bulan lalu sebuah pesawatnya dari jenis yang sama dalam penerbangan ke Tiongkok hilang tak berjejak.

Pemerintah Malaysia menyatakan peristiwa kali ini, penembakan pesawatnya, sebagai kejadian yang tragis dan membuat luka mendalam bagi negaranya.”Ini adalah hari yang tragis, yang juga menjadi tahun yang tragis Malaysia,” ujar Perdana Menteri Malaysia Najib Razak seperti yang dilansir situs resmi Malaysia Airlines, Jumat 18 Juli 2014.

Najib menyampaikan duka yang mendalam bagi para kru dan penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut. Terlebih sebanyak lima belas kru, termasuk dua pilot merupakan warga negara Malaysia.

“Kami memahami apa yang terjadi, pikiran dan doa kami dengan keluarga dan teman-teman bagi mereka yang ada di penerbangan. Saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang harus mereka lalui saat ini. Penumpang penerbangan dan kru ada dari berbagai negara. Tapi hari ini, terlepas dari kebangsaan, kita semua bersatu dalam kesedihan,” ungkapnya.

Najib juga mengatakan, rute penerbangan yang mellintasi wilayah Ukraina tersebut telah dinyatakan aman oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional. Meski telah dilaporkan bahwa pesawat tersebut jatuh karena ditembak roket, PM Najib belum mau memastikan penyebabnya. Pihaknya juga telah mengirimkan tim khusus untuk menyelidiki kejadian nahas tersebut.

“Pemerintah Malaysia akan mengirim penerbangan khusus untuk Kiev, membawa bantuan Malaysia khusus bencana dan tim rescue, serta tim medis,” katanya.

“Pihak berwenang Ukraina percaya bahwa pesawat itu ditembak jatuh. Pada tahap awal ini, bagaimanapun, Malaysia tidak dapat memastikan penyebab tragedi ini. Tapi kita harus dan kami akan mencari tahu persis apa yang terjadi pada penerbangan ini,” tambahnya.

Sebelumnya, pada 8 Maret 2014, Malaysia juga dirundung duka dengan hilangnya Malaysia Airlines MH370. Hingga kini masih belum jelas kabar hilangnya pesawat yang mengangkut 227 penumpang tersebut. Berbagai negara ikut serta untuk mencari keberadaan pesawat rute Kuala Lumpur-Beijing tersebut.

Dalam siaran “breaking news”nya, jaringan televisi berita Amerika Aerikat, “cable news network,” atau “CNN,” menduga, pesawat Malaysia Airlines MH17 dijatuhkan roket saat terbang di atas daratan Ukraina. Hingga kini belum ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Namun diskusi soal misil yang digunakan sudah mencuat.

CNN membuat analisis jenis senjata apa yang bisa menjatuhkan sebuah pesawat Boeing 777-200 di udara yang sedang terbang di ketinggian tiga puluh tiga ribu kaki. Sejumlah komentar ahli dan pihak yang berwenang dikumpulkan, termasuk dari pihak Ukraina.

Pertama, ada Anton Gerashchenko, penasihat kementerian dalam negeri Ukraina yang menuliskan analisa di status facebooknya. Dia menyebut, teroris yang menyerang MH17 menggunakan sistem Buk surface-to-air misil, yakni sebuah misil yang memang diluncurkan dari darat untuk menjatuhkan target di udara.

Pakar militer Nick de Larrinaga mengatakan, misil yang bisa menjatuhkan MH17 bukan senjata yang dimiliki oleh kalangan separatis atau pemberontak, terutama yang beroperasi di wilayah timur Ukraina. Menurutnya, para pemberontak biasanya menggunakan misil yang ditembakkan dari punggung, atau shoulder-missile, namun itu jangkauannya hanya lima belas riburibu kaki.

Karena itu, dugaan yang paling kuat sebagai penyebab jatuhnya MH17 adalah misil jarak jauh dari darat atau biasa disebut surface-to-air missile dan air-to-air missile. “Tapi menurut saya yang paling kuat adalah surface to air missile,” ujar analis militer Rick Francona.

Satu alat yang paling populer di Rusia adalah sistem misil Buk. Senjata itu dikembangkan sejak era Uni Soviet dan kini dioperasikan oleh Rusia, termasuk kekuatan militer Ukraine.

Sistem missil itu dikenal dengan nama SA-11 di negara-negara NATO. Alat itu yang paling mungkin untuk menjatuhkan Malaysia Airlines. Senjata itu hanya ada di pasukan militer negara Rusia.

“Pasukan Rusia yang ditempatkan di perbatasan Ukraina mungkin memiliki senjata ini,” ujar seorang analis lain kepada CNN.

Ada juga kemungkinan lain seperti senjata misil S-200 yang dioperasikan oleh Ukraina, sama seperti S-300 dan S-400 yang dimiliki Rusia.

Apapun jenis senjata yang dipakai, yang pasti butuh pelatihan dan koordinasi untuk melepaskan senjata seperti itu. Dan hal ini, tidak lazim digunakan oleh kalangan pemberontak.

Komentar