Brutal, Militer Mesir Bunuh Ratusan Pendemo

Penulis: Darmansyah

Minggu, 28 Juli 2013 | 06:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Dua Presiden Mesir terguling, Mohammad Morsi dan Hosni Mubarak, ditempatkan dalam di satu tempat, Penjara Torah di pinggiran Kairo. Penempatan dua mantan presiden yang di “kudeta” militer diputuskan oleh pihak keamanan sebagai upaya untuk mengisolir mereka dari hubungan luar.

Penjara Torah adalah semacam “kamp” konsentrasi dengan penjagaan yang amat ketat dan merupakan penjara yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Kairo.

Pemindahan Morsi ke Penjara Torah diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri Mesir Mohamed Ibrahim Sabtu malam, dan menurut kantor berita AP, pemindahan itu telah berlangsung beberapa hari setelah presiden dari kubu Ikhwanul Muslimin itu ditahan di Markas Garda republik.

Sementara itu, jaringan televise Al-Jazera, dalam siaran “live”nya subuh Minggu, menayangkan bentrok yang masih berlangsung diseputar Kairo. Di Timur Kairo, menurut Al Jazera, sedikitnya 38 pengunjuk rasa tewas setelah pihak keamanan melepaskan tembakan peluru tajam.

Namun, pada Minggu pagi, rilis di laman resmi Ikhwanul Muslimin menunjukkan kalau jumlah korban tewas mencapai angka 120 orang.

Imam Besar Al-Azhar, Sabtu tengah malam, mengutuk tewasnya puluhan orang pendukung presiden terguling Mohammad Morsi dan menyerukan pemerintah segera menyelidiki insiden itu. “Para imam Al-Azhar mengecam kematian puluhan warga dalam insiden hari ini,” kata Sheikh Ahmed al-Tayeb.

Dia menambahkan, pemerintah harus segera menggelar penyelidikan dan menjatuhkan hukuman bagi siapapun yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tragis tersebut.

Puluhan pendukung Mohammad Morsi ditembak mati pada Sabtu pagi dalam bentrokan paling berdarah sejak kelompok pro dan anti-Morsi turun ke jalan memperjuangkan tujuan mereka masing-masing.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Mesir, menyalahkan Ikhwanul Muslimin sebagai biang bentrokan berdarah itu. Kemendagri membantah telah menembaki para pengunjuk rasa dengan peluru tajam dan mengklaim hanya menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Berdasarkan klaim pendukung Morsi, lebih dari 100 orang tewas dalam insiden itu. Sedangkan seorang wartawan AFP menhitung setidaknya 37 jenazah berada di sebuah rumah sakit lapangan Ikhwanul Muslimin di masjid Rabaa al-Adawiya, Kairo.

Sedangkan tim kesehatan mengatakan di beberapa rumah sakit menerima sedikitnya 29 jenazah. Laman itu juga mewartakan kalau 4.500 pendemo lainnya mengalami luka-lyka. “Korban luka kebanyakan lantaran tembakan senjata saat bentrok dengan aparat keamanan di Naser Street, Kairo,” demikian laman tersebut.

Rusuh di Kairo antara kelompok Ikhwanul Muslimin yang juga pendukung Presiden tergusur Mesir Mohamad Morsi versus para penentangnya terjadi semalaman kemarin. Tayangan televisi menunjukkan polisi menembakkan lima peluru tajam ke arah para pengunjuk rasa.

Kecaman terhadap kebrutalan pihak keamanan ini juga datang dari Menteri Luar Negeri Inggris William Hague yang menuduh pasukan keamanan Mesir menggunakan peluru tajam.

Hague juga meminta pemerintah Mesir membebaskan atau menuntut semua pemimpin politik, yang ditahan sejak tentara menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada 3 Juli. Saat ini, mantan Presiden Morsi masih ditahan.

“Saya sangat prihatin dengan peristiwa baru-baru ini di Mesir, dan mengecam penggunaan kekerasan terhadap demonstran yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa,” kata Hague dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri, Sabtu.

“Saya menyeru pemerintah Mesir untuk menghormati hak berunjuk rasa secara damai, untuk menghentikan penggunaan kekerasan terhadap demonstran, dan meminta pihak yang bertanggung jawab ditahan,” kata Hague.

Hague menyerukan “semua pihak untuk menahan diri dari melakukan aksi kekerasan” dan mengatakan jika saat ini adalah “waktu untuk dialog, bukan konfrontasi. ”

“Saya juga menyerukan kepada pemerintah Mesir untuk melepaskan pemimpin politik yang ditahan setelah peristiwa 3 Juli atau menuntut mereka sesuai dengan hukum. Tuntutan tersebut harus bebas dari kecurigaan bahwa itu bermotif politik,” kata Hague.

Komentar