Awal Ramadhan Tahun Ini Berbeda-beda

Penulis: Darmansyah

Selasa, 17 Juni 2014 | 09:50 WIB

Dibaca: 0 kali

Awal Ramadhan tahun ini dipastikan akan berbeda-beda, setelah Muhammdiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air telah memutuskan untuk memulai puasa pada 28 Juni 2014.

Sementara itu Nahdlatul Ulama, organisasi besar lainnya, telah mmengambil ancer-ancer memulai 1 Ramadhan sehari setelahnya, yaitu 29 Juni 2014. Namun begitu NU belum memutuskan jatuhnya permulaan Ramadhan tahun ini.

Pemerintah sendiri memiliki kecenderungan memulai puasa pada 29 Juni 2014. Tapi keputusan untuk memulai Ramadhan ini juga belum diputuskan.

Perbedaan permulaan bulan Ramadhan itu dimungkinkan karena adanya perbedaan cara penetapan oleh masing-masing organisasi Islam itu. Perbedaan ini kemungkinan besar akan terjadi lagi pada 1435 Hijriah atau 2014 Masehi.

Hakim L Malasan, dosen astronomi di Jurusan Astronomi, Institut Teknologi Bandung, menegaskan perbedaan ini terjadi sebab adanya dua paham dalam penentuan awal Ramadhan, atau secara umum awal kalender Hijriah.

Metode pertama mendasarkan pada perhitungan astronomis dan matematis, disebut hisab. Cara kedua adalah berdasarkan visibilitas atau penampakan hilal atau bulan baru, disebut rukyat.

Kriteria hisab sebelumnya disebut kriteria wujudul hilal. Muhammadiyah adalah organisasi massa yang menganut prinsip ini. Dengan cara ini, bulan baru ditentukan hanya dengan perhitungan.

Dalam perkembangannya, ada kriteria hisab imkan rukyat yang disusun oleh tim Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) sebagai upaya menyatukan perbedaan antara hisab dan rukyat.

Hakim mengatakan, perbedaan permulaan Ramadhan tahun ini didasarkan pada kemungkinan hilal untuk diamati.

Hakim mengatakan, “Tanggal 27 Juni petang, jarak antara tenggelamnya Bulan dengan Matahari cuma 3 menit.”

Saat bulan baru, Matahari, Bumi, dan Bulan terletak pada satu garis lurus. Bulan dan Matahari tenggelam pada waktu yang hampir bersamaan.

Bagi pihak yang menganut wujudul hilal, permulaan puasa sudah bisa ditetapkan, yaitu pada 28 Juni 2014 sebab dasarnya hanya perhitungan.

Namun, bagi pihak yang menganut imkan rukyat, awal puasa sulit ditetapkan pada tanggal itu. “Karena jaraknya cuma sebentar, maka pengamatan hilal akan sulit,” katanya.

Cahaya Matahari terlalu menyilaukan sehingga pengamat di Bumi cenderung kurang sensitif dalam melihat bulan baru yang berbentuk sabit supertipis.

“Jadi mereka yang mendasarkan pada imkan rukyat akan menyatakan bahwa Ramadhan jatuh pada 29 Juni 2014,” jelas Hakim.

Pada 18 Juni 2014 petang, jarak tenggelamnya Bulan dan Matahari sudah cukup lama, sekitar 1 jam.

Hakim mengungkapkan, teknologi sebenarnya bisa menyelesaikan permasalahan perbedaan awal puasa, misalnya dengan teleskop yang lebih canggih atau astrofotografi.

Namun, yang lebih dibutuhkan adalah kemauan untuk mengubah pandangan dan keterbukaan sehingga awal ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri bisa disatukan.

Menurut Hakim, menoleransi perbedaan saja tidak cukup. Pemerintah perlu berperan sehingga awal ibadah dan hari raya sesama umat bisa disatukan.

Komentar