AS Minta Maaf Atas Pendaratan Pesawat Militernya di Bandara Blang Bintang

Penulis: Darmansyah

Rabu, 22 Mei 2013 | 09:44 WIB

Dibaca: 4 kali

Duta Besar  Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel, akhirnya, mengakui kesalahan pendaratan pesawat militernya, dari jenis komuter  bermesin dua, yang tidak mengantongi izin di Pangkalan Udara Sultan Iskandar Muda Senin siang lalu. Scot  yang mengatasnamakan pemerintah Amerika Serikat, dalam akun @america, tidak hanya mengakui kesalahan, tetapi juga minta maaf atas keteledoran itu.

Pesawat jenis Dornier 328  berbaling-baling dan bermesin dua itu, bukan pesawat dari jenis “jet” yang oleh banyak orang salah dipersepsikan,  berangkat dari Sri Lanka menuju Singapura itu ditahan pihak TNI AU selepas mendarat karena kehabisan  bahan bakar.

Ketika diperiksa, pesawat yang  memiliki kapasitas lima belas tempat duduk, atau sejenis Cessna atau Twin Otter itu, diawaki dua warga sipil dan tiga anggota militer AS  dan  tidak bisa menunjukkan dokumen izin melintas di Indonesia.

“Pesawat militer AS memang melintas wilayah udara Indonesia dan mendarat di Banda Aceh kemarin. Pesawat ini bermaksud untuk mengisi bahan bakar,” ujar Dubes AS Scot Marciel, dalam akun di @america.

Menurut Scot, memang ada kesalahan dari pihak perencana perjalanan militer. Mereka  memiliki izin diplomatik untuk melintasi Indonesiayang sudah kadaluarsa. “Jadi hanya memang masalah izin diplomatik. Hal ini memang kesalahan dari pihak kami dan militer. Tidak ada maksud lain dari pendaratan pesawat itu,” tegasnya.

Pesawat itu pun sudah dibebaskan untuk terbang setelah mendapatkan izin terbang di wilayah Indonesia. Danlanud Sultan Iskandar Muda, Kolonel Supriabu, mengatakan, pihaknya mengizinkan pesawat tersebut terbang kembali setelah perizinan sudah dilengkapi.  Mereka terbang pada pukul 07.15 WIB  kemarin.

Supriabu menuturkan, malamnya lima awak pesawat itu menginap di Banda Aceh dengan pengawasan ketat dari petugas imigrasi. Lima awak pesawat adalah Tutle Colton Timothy (pilot), Priest Chyntia Ellizabeth (co-pilot/perempuan), Faire Loren Mattjew (teknisi), Moreno David Antonio, dan Sanchez Gaona Diego.

Menurut Supriabu, mereka sudah menargetkan turun di Bandara Sultan Iskandar Muda untuk pengecekan bahan bakar dan mengira izin melintasnya sudah diurus. “Mereka pikir sudah ada yang mengurus izin di darat,” sebutnya.

Seharusnya, seorang pilot wajib membawa dokumen berupa izin terbang pesawat asing  yang biasanya dinamakan “security clearance” dan izin berada di Indonesia “diplomatic clearance.”

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kemarin, setelah pesawat itu diiznkan terbang untuk melanjutkan perjalanan,  mengatakan,   pesawat dengan nomor registrasi 963075 itu mendarat karena mau mengisi bahan bakar. Tetapi surat izinnya untuk sehari berikutnya.

Purnomo menambahkan, pendaratan pesawat tersebut juga tidak menggangu hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia. “Tidak ada hubungan diplomatik yang terganggu. Mereka punya izin tapi datang lebih cepat. Masalah teknis itu diselesaikan di tempat saja,” ujarnya.

Komentar