Anas Mundur Dari Demokrat, Karir Politiknya Tamat

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 Februari 2013 | 10:06 WIB

Dibaca: 0 kali

“DENDAM” Anas Urbaningrum atas perlakuan dirinya oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat belum berakhir. Anas, yang sehari sebelumnya meninggikan nada retorikanya dalam pernyataan pengunduran dirinya sebagai ketua umum partai berlambang bintang “mercy” itu,  hari ini, Senin, masih melakukan manuver lewat  “punggawa” setianya,  Saan Mustopa, yang merilis  tentang pengunduran dirinya dari keanggotaan Partai Demokrat.

Nada pernyataan Saan, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, yang juga  teman seperjuangan Anas ketika memimpin PB HMI di periode akhir 1990—an,  gaungnya makin surut. Para pengamat yang biasanya menggebu-gebu membuat pernyataan lewat media nampak mengendur dengan rilis baru itu.

Sebelumnya, pernyataan Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus gratifikasi proyek olahraga terpadu Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Pernyataan KPK itu menghebohkan jagat perpolitikan tanah air dan membuat Partai Demokrat menjadi sasaran serangan pengamat dengan analisa, retorika dan spekulasi yang berseliweran dan saling menyatakan pembenaran pendapatnya.

Anas sendiri baru memberikan keterangan Minggu di Kantor DPP Demokrat, Kramat Raya, Jakarta. Pernyataan itu itu secara terselubung menyerang Majelis Tinggi Demokrat sebagai biang dari seluruh masalah, “idem ditto” SBY. Anas mengatakan dengan retorika memelas bahwa ia akan membuka banyak lembaran yang akan menjadi bahan bagi partainya.

Anas juga mengatakan, ia merupakan bayi yang tidak direstui kelahirannya di partai. Ia mengatakan banyak tahu tentang permainan yang mengantarkannya ke pesakitan di KPK.

Menurut seorang jurnalis senior yang mengikuti “trend” pemberitaan media, mengatakan, pernyataan Ana situ hanyalah sebagai upaya untuk mengundang simpati public. Biasanya trend pemberitaan seperti itu akan cepat mengelupas dab dilupakan. Ia menunjuk penetapan Andi Malarangeng sebagai tersangka yang hebohnya tak sampai satu pekan.

Heboh Anas ini hanya temporer. Ia sudah menjadi “kartu mati.” Dalam kecenderungan media tak lama lagi pemberitaan Anas akan menjadi “spam” yang menempati “rating” terbawah. “Saya berani menantang, berita Anas akan menjadi tersingkir,” katanya.

Sementara itu, Saan Mustopa mengatakan, Anas Urbaningrum tak hanya mundur sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat, tetapi juga mundur sebagai kader Demokrat. Pernyataan mundur sebagai Ketua Umum disampaikan Anas pada Sabtu (23/2/2013) lalu. Pengunduran diri ini disampaikannya sehari setelah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi dalam proyek Hambalang.
“Otomatis keluar juga. Dia mundur sebagai Ketum dan juga kader,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa, di Gedung Kompleks Parlemen, Senin (25/2/2013).

Menurut Saan, pengunduran diri Anas itu tidak perlu disertakan dengan surat kepada Majelis Tinggi ataupun Dewan Pimpinan Pusat. Saan mengungkapkan, menurut Anas, ia mundur karena tak ingin menjadi beban partai. “Jadi dia, Mas Anas, tidak akan membuat surat pengunduran diri karena tidak ada keharusannya memang,” tegas Saan.

Seperti diberitakan, Anas Urbaningrum mundur dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat setelah dinyatakan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Hambalang. Dengan mundurnya Anas, posisi ketua umum kosong. Dalam pidatonya, Anas juga menyebutkan bahwa pengunduran dirinya ini bukanlah akhir segalanya.

Tentang pernyataan Anas  Minggu siang yang mengindikasi ia punya informasi terhadap penetapannya sebagai tersangka  ditanggapi beragam oleh pengamat. Secara jujur perlawanan Anas akan selesai bersamaan dengan dimulainya pemeriksaan dirinya di KPK kelak. Kalau pun ia tidak segera di periksa Anas akan kehabisan bahan untuk menggegapgempitakan publik. Sebenarnya Anas harus menyadari, karir politiknya sudah berakhir.

Ia tidak akan mampu membalikkan sangkaan KPK. Sebab menurut sebuah sumber, KPK punya bukti yang membuat Anas tak mampu melawan.”Kalau sudah duduk sebagai pesakitan sulit untuk memperbaiki posisi tawar,” katanya.

Komentar