Anas “Idem” Nazaruddin Soal “Nyanyian”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 28 Februari 2013 | 15:12 WIB

Dibaca: 3 kali

Anas  memang “petualang” dalam memanfaatkan momen. Ia menjadikan infrastruktur media sebagai ajang untuk mengumbar retorika, terutama pilihannya yang cerdik terhadap “audience share.” Untuk itulah kenapa ia dengan cepat mengiyakan permintaan wawancara khusus dengan “RCTI” di banding media televise lainnya yang juga sudah mengajukan diri.

“Ia tahu RCTI memiliki penonton yang tinggi dan setia. Ia cerdik memilih. Ia lebih Sengkuni dari Sengkuninya tokoh Kurawa dalam cerita Mahabarata,” kata seorang pengamat memberikan “joke” tentang kenapa Anas mau memenuhi permintaan redaksi RCTI untuk diwawancarai walau pun, ia juga tahu, siaran “live” itu  bukan di jam “prime time.”

Anas tidak protes ketika Redaksi RCTI menuliskan teks judul wawancara itu dengan “Perlawanan Anas.” Ia menyetujui wawancara itu tidak dalam koridor teks karena ia mengerti kalau diskenariokan akan kaku dan terikat dengan pertanyaan. “Ia memang membebaskan pewwancaranya, Arianto Ardy, untuk melakukan improvisasi sehingga ia akan tampil dengan orisinilitas dan bisa menyerang dalam bahasa eufumisme khas Jawa,” katanya.

Pemimpin Redaksi RCTI Arief Suditomo mengakui cepatnya jawaban Anas terhadap permintaan wawancara itu. Ia juga memberi alas an kenapa jam tayangnya  di  tengah malam. Itu disebabkan semua acara di RCTI sudah terjadwal rapi. Bagian pemberitaan, kata Arief, tidak bisa seenaknya meminta bagian programming untuk menayangkan wawancara khusus ‘Perlawanan Anas’ di prime time.
“Apalagi acara-acara itu pasti sudah terikat dengan pihak ketiga yaitu pemasang iklan. Jadi susah buat kami menggeser-geser program yang sudah terjadwal,” kata Arief.

Proses permintaan wawancara itu menurut Arif  berlangsung relatif cepat. Redaksi RCTI mengajukan permohonan wawancara pada Ahad, 24 Februari 2013, sehari setelah Anas berpidato mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat.

Setelah mendapat kepastian kalau Anas bersedia diwawancarai, Arief yang langsung mem-briefing tim redaksi yang ditugaskan memburu Anas. Wawancara  dilakukan pada Selasa pagi 26 Februari 2013. “Jadi inisiatif wawancara dari kami, bukan Anas,” Arief menerangkan.

Dalam proses menjelang wawancara, Arief melanjutkan, Anas tidak membatasi pertanyaan. Tidak ada titipan pertanyaan dari Anas dan Anas pun tidak meminta daftar pertanyaan sebelumnya. “Dalam prosesnya, kami tidak dipengaruhi Anas,” ujar Arief.

Lalu, apa yang membuat Anas memilih diwawancarai eksklusif dengan RCTI? “Saya pikir pertimbangan audience share. Wajar Anas mau diwawancarai RCTI karena audience share RCTI tinggi,” kata Arief. Menurut dia, audience share wawancara eksklusif itu cukup tinggi, yaitu 17 persen.

Sementara itu pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego, memprediksi, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum akan terus ‘bernyanyi’ meniru terpidana korupsi M. Nazaruddin. Anas selama ini menyimpan banyak informasi yang ia rahasiakan selama belum ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

“Akan ada efek domino,” kata Indria saat dihubungi, Kamis, 28 Februari 2013. “Anas tidak melakukan semuanya sendirian.”

Sebagai mantan Ketua Umum Demokrat, Anas diyakini mengetahui seluruh seluk-beluk keuangan partai. Indria yakin masih banyak proyek-proyek lain di pemerintahan yang digarap dan dikeruk anggarannya untuk kepentingan partai. “Kasus-kasus lain masih banyak,” katanya.

Indria memperkirakan Anas akan bertindak sama dengan tersangka-tersangka lain. Ia akan bernyanyi soal keterlibatan orang lain dalam kasus hukum yang ia hadapi. Nyanyian Anas, kata Indria, bisa dimanfaatkan penyidik sebagai informasi awal mengungkap semua yang terlibat dalam kasus korupsi.
Dalam wawancara khususnya dengan RCTI, Anas menyatakan, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mestinya menjelaskan pengakuan Nazar tentang keterlibatan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Ibas disebut juga menerima aliran dana Hambalang. Apabila Amir tak bersedia menjelaskan kepada publik, pada saatnya, Anas akan menjadi cadangan untuk menerangkannya.

Dalam pertemuan itu, SBY disebut-sebut murka mengetahui putranya, Ibas, menerima aliran duit Hambalang. “Kalau itu, tanya Pak Amir Syamsuddin, Pak Amir pernah pertama kali meminta keterangan atau informasi dari Nazaruddin tentang aliran-aliran uang salah satunya, ya, dan memang jawaban Nazaruddin mengejutkan. Dia menyebutkan beberapa orang yang menerima uang itu,” kata Anas dalam wawancara yang ditayangkan RCTI, Rabu kemarin.

Komentar