Al-Azhar Diserbu Pengikut Morsi

Penulis: Darmansyah

Minggu, 28 Juli 2013 | 14:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, salah satu lembaga pendidikan tertua di dunia, Sabtu malam 29 Juli 2013, diserang oleh pendukung Mohammad Morsi karena perannya dicurigai terkooptasi dengan penguasa, dalam hal ini militer, usai kudeta terhadap tokoh Ikhwanul Muslimin ituf

PendukungMorsi sangat tidak senang terhadap peran Al-Azhar, terutama komentar para “syech,” guru besarnya, yang cenderung tidak memihak pendemo dan selalu mencari alternative damai dengan penguasa.

Puncak kemarahan itu mereka lampiaskan dengan menduduki kampus paling prestise di kalangan umat Islam Dunia itu dan memorakporandakan infrastruktur pendukungnya, sehingga pimpinan kampus menghentikan kegiatan kurikulum.

Selama kekuasaan Hosni Mubarak, lebih dari tiga puluh tahun, Al-Azhar memiliki kedekatan dengan penguasa dan selalu memberi pengesahan terhadap kebijakannya dalam memojokkan Ikhwanul Muslimin yang mendukung Morsi.

Serangan ratusan pendukung Mohamed Morsi, menyerang Universitas Al Azhar pada Sabtu , waktu setempat, yang menyebabkan aktivitas akademis di universitas tertua kedua di dunia ini pun menjadi terkendala.

Seperti dilansir situs berita lokal Mesir, “Al Masry Al Youm,” Minggu, 28 Juli 2013, Presiden Universitas Al Azhar, Osama Al Abd, menunda ujian program pasca sarjana setelah hari raya Idul Fitri akibat kerusuhan itu. Kantor pendaftaran mahasiswa baru pun ditutup. Rencananya, aktivitas pendaftaran akan beroperasi kembali setelah dua hari kemudian.

Pendukung Morsi tampak berdiri di atap kampus dan melempar batu-batu ke arah penduduk. Akibat bentrokan itu, sejumlah mobil hangus terbakar. Para pendukung Morsi terlibat saling lempar batu dengan penduduk wilayah Duweiqa dan Mansheya. Tak hanya batu, botol kosong pun ikut digunakan sebagai senjata.

Merasa tak aman, penduduk kemudian beringsut menuju Jalan Nasr mencari perlindungan petugas keamanan. Tak lama berselang, para petugas keamanan pun mengamankan situasi.

Bentrok ini merupakan rangkaian peristiwa susulan setelah para pendukung Morsi tersebut terlibat bentrok dengan warga. Bentrokan tersebut meletus ketika para penduduk membentuk semacam komite untuk memeriksa para demonstran yang menduduki Masjid Rabaa Al Adawiya, Kairo.

Komite tersebut dibentuk untuk mencegah aksi-aksi kekerasan yang kian marak terjadi di Mesir. Apalagi, kekerasan juga baru saja terjadi di Nasr City pada pagi hari.

Sementara itu Pemerintah Indonesia sedang mempelajari situasi terakhir di Mesir untuk mengambil keputusan mengevakuasi WNI di Negara itu. “Situasinya rumit. Kita sudah pelajari apakah harus melakukan evakuasi terhadap WNI atau cukup mengimbau untuk tidak melibatkan diri. Situasinya sangat cepat berkembang,” ujar seorang staf Direkorat Perlindungan WNI kepada “nuga.co.”

Rentetan peristiwa kekerasan di Mesir masih terus berlangusng memang sangat mengkhawatirkan. Lewat akun Twitternya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengimbau agar para Warga Negara Indonesia termasuk mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Mesir agar tidak melibatkan diri dalam konflik di negeri piramid itu.

“Kepada WNI di Mesir, termasuk mahasiswa, agar hindari tempat berbahaya. Pelihara komunikasi dengan KBRI. Jangan libatkan diri dalam konflik,” tulis SBY dalam kicauannya di Twitter pada Sabtu, tengah malam.

SBY berterimakasih kepada Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizi. SBY mengungkapkan, Nurfaizi sudah melaporkan perkembangan situasi Mesir secara intensif . KBRI juga telah mengamankan para WNI di Mesir.

“Terimakasih,” ucap SBY kepada Nurfaizi lewat kicauan yang diakhiri dengan tanda *SBY* itu.

SBY juga berpendapat, PBB harus turun tangan lebih jauh guna mencegah bertambahnya korban jiwa pasca pelengseran Mohamad Morsi dari kursi Kepresidenan Mesir. PBB harus mampu mendorong agar tercipta rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai di Mesir.

“Saya berpendapat solusinya, “kompromi” di antara kedua pihak. Bukan “the winner takes all”. PBB & dunia harus mendorong dan mendukung. Ada baiknya PBB mengambil prakarsa untuk cegah pertumpahan darah yang lebih besar. Semua upaya harus ditempuh. Termasuk jalan rekonsiliasi,” usulnya.

Kementerian Luar Negeri RI menyerukan agar kekerasan di Mesir segera dihentikan. Kemenlu mendorong agar kelompok-kelompok yang bertikai melakukan rekonsiliasi.

“Jadi intinya Indonesia serukan agar kekerasan segera dihentikan. HAM dihormati, serta semangat rekonsiliasi dikedepankan,” tegas Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa ketika dihubungi detikcom, Minggu (28/7/2013).

Indonesia mengajak masyarakat internasional berpartisipasi aktif mendorong rekonsiliasi di Mesir.

“Tidak ada tempat bagi penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan. Masyarakat internasional perlu aktif mendorong upaya rekonsiliasi di Mesir,” imbuh Marty.

Mengenai WNI dan mahasiswa di Mesir, Indonesia sekali lagi meminta agar WNI meningkatkan kewaspadaan dan terus berkomunikasi dengan KBRI.

“Dan hindari tempat pengumpulan massa dan tidak melibatkan diri dalam demonstrasi,” jelas Marty.

Ketika ditanya mengenai upaya evakuasi WNI, Marty menegaskan sampai saat ini belum ada upaya evakuasi. KBRI terus memantau keberadaan WNI dengan berbagai rencana darurat.

Sementara untuk WNI yang akan ke Mesir, Kemlu menegaskan agar WNI menangguhkan kunjungannya.

“Kecuali ada sesuatu yang sangat penting, menangguhkan sementara kunjungan ke Mesir. Bila ada WNI yang berencana ke Mesir, senantiasa berkomunikasi dengan Kemlu mengenai rencana akan ke Mesir,” imbau Marty.

Komentar