Airin, Walikota Dengan Harta Rp 103 Miliar

Penulis: Darmansyah

Kamis, 10 Oktober 2013 | 17:03 WIB

Dibaca: 33 kali

Airin Rachmi Diyani, Walikota Tangerang Selatan, pantas disebut sebagai pejabat paling tajir, dengan kekayaan lebih dari Rp 103 miliar. Kekayaan Airin, istri Chaery Wardhana alias Wawan, adik kandung Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten, terungkap setelah suaminya ditangkap KPK karena menyogok Akil Mochtar, hakim Mahkamah Konstiusi sebesar Rp 1 miliar dalam kasus Pilkada Lebak.

Kekayaan Airin, mantan Ratu Jawa Barat, dihasilkan dari bisnis “dinasti” keluarga suaminya yang menguasai hampir seluruh jabatan publik dan proyek besar di Banten. Dengan menguasai jabatan public, gubernur, bupati dan walikota di provinsi Banten, Wawan, suami Airin, memungut rente dari proyek yang dikerjakannya.

Airin, siang ini, Kamis, 10 Oktober, datang menjenguk suaminya yang ditahan di Rumah Tahanan KPK setelah kembali dari Harvard, Amerika serikat. Ia diizinkan pulang oleh Kemendagri untuk menyelesaikan kasus suaminya.

Sebelumnya Airin, bersama dengan belasan kepala daerah di Indonesia belajar dalam program singkat di Harvard tentang kebijakan publik. Mereka dikirim oleh Kemendagri untuk mendapatkan pengetahuan tentang pelayan masyarakat dan ilmu pemerintahan.

“Nanti setelah selesai menjenguk suami saya akan bicara,” kata Airin di Gedung KPK. Airin, ketika turun dari mobil di KPK hanya mengembang senyum dan lebih banyak tutup mulut.

Dia tak mau menjawab ketika wartawan meneriaki tentang harta kekayaannya yang mencapai Rp103,9 miliar dan kepemilikan sejumlah mobil mewah.

Suaminya Chaery Wardhana kini meringkuk ditahanan KPK setelah ditangkap bersama Akil Mochtar, Rabu pekan lalu KPK menangkap suami Airin, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, yang diduga melakukan upaya suap ke Ketua Mahkamah Konstitusi dalam pemilihan Bupati Lebak

Airin dan Atut dicari pengunjung Internet karena dampak kasus Akil Mochtar. Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dan kakak iparnya, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, menjadi dua kata kunci yang paling dicari dalam sepekan ini.

Airin dikabarkan turut menikmati aliran usaha Wawan. Penelusuran Tempo menemukan bahwa Wawan dan Airin memiliki sejumlah perusahaan yang kerap terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur di Provinsi Banten. Sedikitnya ada lima perusahaan yang dalam akta mencantumkan nama Airin, suaminya, atau keluarga sebagai pemegang saham.

Penangkapan Tubagus Chaeri ini terbilang mencengangkan. Dari rumah Wawan, KPK menemukan belasan mobil mewah. Wawan disebut-sebut sebagai operator Dinasti Banten.

Tertangkapnya Wawan disebut-sebut sebagai awal keruntuhan Dinasti Banten. Apalagi, KPK sudah menetapkan status cegah untuk Gubernur Atut. Jumat, 11 Oktober 2013, KPK akan memeriksa Atut sebagai saksi.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan, Wakil Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah yang juga adik Ratu Atut Chosiyah, membantah bahwa keluarganya membangun dinasti politik di Provinsi Banten.

“Kami masih berduka, kini Wawan menjadi penghuni rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi. Kami juga bingung kok disebut-sebut Dinasti Banten,” kata Ratu Tatu Chasanah.

Dijelaskan Tatu, bukan hal mudah keluarganya menghadapi ujian yang kini tengah dihadapi. Apalagi menghadapi penilaian masyarakat dan media yang sudah menvonis Wawan, Atut, dan keluarganya.

“Rasanya kok sudah mendahului jalannya proses hukum dan bahkan cenderung menghakimi. Syukur kami memberi pemahaman kepada anak-anak dan para keponakan tentang masalah ini. Supaya mereka memahami masalah ini yang sebenarnya, termasuk disebut-sebut soal Dinasti Banten,” katanya.

Tatu menyatakan bingung soal sebutan Dinasti Banten. “Saya juga bingung dengan istilah ini… Karena kami sekeluarga mengikuti mekanisme demokrasi yang berlaku di negara kita. Enggak tahu dasarnya apa disebut Dinasti?”

Bila dinasti politik dianggap salah, menurut dia, pihaknya mempersilakan diatur mekanisme. “Jangan dampak dari sistem atau mekanisme yang berlaku ditimpakan kepada kami tak ada itu dinasti-dinastian,” kata Tatu, sambil memberi lambang atau emoticon sedih.

Komentar