Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Orgasme

Penulis: Darmansyah

Senin, 6 November 2017 | 09:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Meskipun alasan untuk berhubungan seks bisa sangat bervariasi dan kompleks, mencapai orgasme pada umumnya adalah tujuan utamanya.

Setiap manusia diciptakan unik dan berbeda, maka dari itu, mendeskripsikan satu kalimat untuk menggambarkan orgasme adalah hal yang mustahil.

Satu hal yang dapat disetujui oleh banyak orang adalah mencapai orgasme merupakan pengalaman menyenangkan yang sangat intens.

Jadi, apa itu orgasme? Jika ragu, bukalah kamus. The Oxford English Dictionary mendefinisikan orgasme sebagai “sebuah pergerakan tiba-tiba, kejang, kontraksi, atau getaran sebuah lonjakan gairah seksual.”

Merriam-Webster menggambarkan pengalaman seksual ini lebih terinci, menyatakan bahwa orgasme adalah, “ledakan pelepasan neuromuskular pada puncak gairah seksual yang biasanya disertai dengan ejakulasi air mani pada pria dan kontraksi vagina pada wanita.”

Peneliti seks terkemuka, Dr. Alfred Kinsley pernah mengatakan bahwa orgasme, “dapat disamakan dengan klimaks crescendo  dan keheningan tiba-tiba dicapai oleh orkestra emosi manusia… sebuah ledakan ketegangan.”

Banyak orang sudah tahu apa yang diperlukan untuk mencapai orgasme, mengapa beberapa orang tidak bisa mencapai klimaks, dan mengapa kita memiliki reaksi seksual ini, kebanyakan dari kita belum tahu tentang apa yang terjadi secara fisik ketika kita sedang menjalani pengalaman ini.

Dikutip dari WebMD, William Masters and Virginia Johnson  menciptakan istilah “respon siklus seksual” untuk menggambarkan urutan kejadian yang dilalui tubuh saat.

Respon siklus seksual dibagi menjadi empat tahap: gairah seksual, masa stabil, orgasme, dan resolusi.

Tidak ada batas jelas di mana suatu tahap dimulai dan berakhir — semua ini menjadi bagian dari proses yang berkelanjutan dari respon seksual.

Perlu diingat bahwa siklus ini adalah garis besar yang sangat umum dari apa yang terjadi pada tubuh masing-masing saat kita menjadi terangsang secara seksual. Ada banyak variasi antara individu, serta di antara peristiwa seksual yang berbeda.

Baik pria maupun wanita melalui empat fase tersebut, yang membedakan hanyalah waktu. Pria biasanya mencapai orgasme lebih dulu saat berhubungan seksual, sementara wanita bisa memakan waktu hingga lima belas menit untuk mencapai poin yang sama.

Ada peningkatan vasocongestion, atau pembengkakan jaringan yang disebabkan oleh tambahan aliran darah, yang menyebabkan tiga tanda umum dari gairah: puting menegang, kulit memerah, dan ereksi.

Di saat yang sama, otak Anda dibanjiri oleh hormon kuat: dopamin dan oksitosin, khususnya.

Dopamin, yang dilepaskan pertama kali, memicu motivasi — dalam konteks ini, motivasi untuk mencapai orgasme. Oksitosin, yang datang kemudian, membuat Anda merasa terikat

Sebagai pasangan hormon, dua neurotransmitter ini dapat menjelaskan mengapa kita merasa langsung — walau hanya sebentar — terikat dengan pasangan kita ketika kita mulai merasa bergairah.

Otak laki-laki dan perempuan tidak selalu merespon dengan cara yang sama terhadap rangsangan pembangkit gairah.

Pria menunjukkan aktivitas otak yang lebih dalam amigdala sementara wanita hampir tidak ada.

Jika rangsangan seksual terus terjadi, tahap berikutnya dalam siklus respon seksual akan terjadi. Fase ini, yang disebut tahap stabil

Selama fase plateau, rangsangan gairah dapat mencapai tingkat paling tertingginya, dapat hilang, dan kemudian timbul kembali beberapa kali.

Begitu Anda mencapai puncak tahapan plateau, orgasme akan mengikuti. Selama orgasme, segala ketegangan seksual dilepaskan.

hanya tepat sebelum orgasme, detak jantung, pernapasan, tekanan darah, dan ketegangan otot mencapai puncak tertinggi mereka.

Orgasme adalah tahapan klimaks dari keempat rangkaian respon siklus seksual. Tahapan ini juga merupakan tahapan respon seks tersingkat, biasanya hanya berlangsung selama beberapa detik.

Pada pria, perubahan fisiologis saat mencapai orgasme termasuk cairan air mani yang terkumpul di dalam bola uretra.

Kondisi ini terjadi ketika seorang pria merasa yakin akan mengalami orgasme, atau yang disebut dengan “keniscayaan ejakulasi”. Selanjutnya, penis melepaskan ejakulasi. Kontraksi juga terjadi pada penis selama fase orgasmik.

Bagi wanita, fase orgasmik akan ditandai dengan kontraksi dari sepertiga dinding vagina terdepan dengan irama delapan ketukan persepuluh detik. (Jumlah dan intensitas kontraksi bervariasi tergantung pada orgasme yang dialami individu.) Otot-otot rahim juga berkontraksi, meski hampir tidak terasa.

Pada umumnya, fase orgasmik akan dapat dirasakan ketika laju pernapasan, denyut nadi, dan tekanan darah terus meningkat.

Ketegangan otot dan pembengkakan pembuluh darah akan mencapai puncaknya. Kadang, orgasme datang dengan refleks “menggenggam” pada otot tangan dan kaki.

Untuk pria dan wanita, ada empat jenis saraf yang bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi ke otak selama orgasme.

Saraf hipogastrik mengirimkan sinyal dari rahim dan leher rahim pada wanita, dan dari prostat pada pria; saraf panggul mentransmisikan sinyal dari vagina dan leher rahim pada wanita, dan dari dubur pada kedua jenis kelamin; saraf pudenda mentransmisikan dari klitoris pada wanita, dan dari skrotum dan penis pada pria; dan saraf vagus mentransmisikan dari leher rahim, rahim, dan vagina pada wanita.

Meskipun kedua jenis kelamin ini cenderung terlibat dalam perilaku berbeda saat melakukan aktivitas seks, otak pria dan wanita tidak terlalu berbeda.

Selama orgasme, lateral orbitofrontal cortex — daerah otak di belakang mata kiri — nonaktif selama orgasme.

Wilayah ini dianggap memberikan alasan logis dan kontrol perilaku.

Otak dari kedua pria dan wanita saat orgasme dikatakan terlihat seperti otak dari orang yang terpengaruh oleh heroin, dilansir dari Medical Daily, menurut sebuah studi dari Journal of Neuroscience.

Perbedaan antara kedua jenis kelamin terletak pada periaqueductal gray atau PAG — bagian dari otak yang diaktifkan ketika seorang wanita terlibat dalam hubungan seksual.

PAG adalah bagian dari otak yang mengontrol respon fight-or-flight, dan itu tidak diaktifkan pada pria ketika mereka mencapai orgasme.

Studi juga menemukan bahwa perempuan mengalami penurunan aktivitas di amgydala dan hippocampus ketika mereka mencapai orgasme, yang membantu mengontrol ketakutan dan kecemasan.

Apa artinya perbedaan ini?

Para peneliti berteori bahwa bagian-bagian otak yang aktif ini adalah karena wanita perlu merasa aman dan santai untuk mencapai orgasme, sesuatu yang mungkin tidak penting untuk orgasme pria.

Para peneliti juga percaya bahwa laki-laki mungkin tidak terlalu dipengaruhi oleh oksitosin, yang dilepaskan selama orgasme.

Oksitosin dapat menginspirasi perasaan kedekatan, kasih sayang, dan keintiman, dan beberapa orang berteori bahwa ini adalah alasan mengapa wanita mungkin lebih rentan untuk terbawa perasaan setelah berhubungan seks. Para peneliti menunjukkan bahwa kadar testosteron dalam otak laki-laki mungkin memerangi oksitosin dan membuat kaum pria kurang terpengaruh oleh perasaan mesra, membuat kencan dan seks kasual memiliki makna yang dangkal bagi mereka.

Setelah fase orgasme turun, individu akan disambut oleh fase resolusi atau pemulihan, yang ditandai oleh kembalinya fungsi normal tubuh lambat laun.

Bagian-bagian tubuh yang mengeras dan membengkak juga perlahan kembali ke ukuran dan warna normalnya. Fase ini ditandai dengan rasa kebahagiaan dan kenyamanan umum, peningkatan keintiman dan, seringnya, kelelahan.

Selain itu, perbedaan utama antara fase orgasmik perempuan dan laki-laki adalah bahwa jauh lebih banyak wanita daripada laki-laki yang memiliki kemampuan fisik untuk mencapai orgasme berkali-kali dalam waktu singkat tanpa harus “terjatuh” ke dalam fase plateau terlebih dahulu.

Namun demikian, fenomena multiorgasme akan bergantung pada stimulasi rangsangan yang terus berlanjut dan juga minat seksual dari masing-masing pihak.

Seorang wanita bisa tidak selalu mengalami salah satu di antara faktor penentu ini, maka dari itu orgasme berulang tidak terjadi dalam setiap hubungan seksual.

Di sisi lain, setelah ejakulasi, pria akan memasuki tahap pemulihan yang disebut periode refraktori.

Selama tahapan refraktori, orgasme lebih lanjut atau ejakulasi secara fisiologis tidak memungkinkan.

Durasi dari periode refraktori bervariasi antara satu pria dengan yang lain, dan biasanya akan semakin panjang mengikuti bertambahnya usia.

Namun, beberapa orang dapat belajar untuk mencapai orgasme tanpa ejakulasi, sehingga memungkinkan untuk mencapai orgasme berulang kali.

Komentar