Wouw…! Ganja Sebagai “Obat” Kanker

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 17 Oktober 2013 | 13:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Wouw..! “medicaldaily.com,” sebuah situs yang memuat jurnal kesehatan, mendaulat hasil penelitian para periset dari St. George’s University, London, sebagai kecemerlangan lewat keberhasilannya menjadikan daun ganja sebagai obat anti kanker.

Tapi, tunggu dulu! Jangan salah paham. Obat kanker yang ditemukan oleh para periset itu adalah hasil dari kemampuan mereka mengisolasi enam sifat “teler”nya sehingga tidak mengandung senyawa hallusinogen. Setelah mengisolasi enam senyawa yang bikin “teler” itu, para periset mengembangkannya sebagai obat bagi penyembuhan kanker yang efektif.

“Studi ini merupakan langkah penting dalam membuka misteri ganja sebagai salah satu sumber pengobatan,” kata peneliti, Dr Wai Liu, seorang ahli di St,George’s yang selama tiga tahun terakhir berkutat di laboratorium untuk menetralisir dampak “memabukkan” daun ganja.

Liu menambahkan, penggunaan cannabinoid sebagai salah satu pengobatan antikanker memiliki prospek yang cukup besar. Berdasarkan National Cancer Institute, cannabinoid dalam ganja memiliki efek pengobatan dengan mengaktifkan sel penerima di sistem saraf pusat dan daya.

Senyawa yang disebut cannabidiol itu mampu mengubah gen yang bertanggung jawab dalam penyebaran kanker payudara. Meski ditemukan pada daun ganja namun senyawa itu tidak memberikan efek psikoaktif.

Para ilmuwan dari California Pacific Medical Center di San Francisco yang melakukan riset lainnya sudah mengenali potensi cannabidiol lima tahun lalu. Dalam penelitian di laboratorium senyawa tersebut menghentikan perkembangbiakan sel kanker payudara manusia.

Kemudian ketika diuji pada tikus, hasilnya sama. Karena itu kini para peneliti sedang mempersiapkan uji klinis untuk memperoleh bukti-bukti lebih kuat. “Hasil data praklinik sudah cukup kuat, tidak ada efek toksik. Namun masih diperlukan riset yang lebih dalam,” kata Dr.Sean McAllister, salah satu peneliti.

Para peneliti berharap mereka bisa memakai senyawa itu dalam sebuah pil. Obat tersebut juga akan diujicoba untuk dikombinasikan dengan kemoterapi.

Kanker payudara yang agresif biasanya memiliki level protein ID-1 yang sangat tinggi. Protein tersebut berperan penting dalam terjadinya penyebaran kanker. Ketika sel yang mengandung protein ID-1 terpapar canabidiol, sel itu bukan cuma berhenti menyebar tapi juga kembali menjadi sel yang normal.

Kanker lain yang diketahui memiliki level protein ID-1 sangat tinggi adalah kanker leukimia, kanker paru, ovarium, dan kanker otak.

Selama satu decade terakhir banyak penelitian yang berusaha membuktikan khasiat ganja untuk terapi pengobatan, salah satunya kanker. Namun, penerapan hasil riset ini selalu terganjal kandungan senyawa hallusinogen dalam cannabinoid yang memabukkan.

Sampai saat ini, US Food and Drug Administration atau badan yang bertanggungjawab terhadap makanan dan obat di Amerika serikat belum menyetujui ganja sebagai pengobatan untuk kanker, maupun penyakit lainnya.

Cannabinoid, termasuk dronabinol dan nabilone, hanya disetujui sebagai perlakuan untuk mengatasi efek samping pengobatan kanker.

Hasil riset yang baru saja dirilis itu membuktikan masih terbatasnya pengetahuan tentang cannabinoid. Hasil riset berupa senyawa cannabinoid non-hallusinogenik ini ternyata umum ditemukan dalam cannabinoid.

“Senyawa ini bisa mengganggu perkembangan sel kanker, dan mencegahnya tidak tumbuh kembali. Dengan dosis yang tepat, senyawa ini bisa membuat sel kanker menghancurkan dirinya sendiri,” kata Liu.

Dalam riset ini, enam senyawa tersebut disuntikkan pada sel kanker leukimia. Hasilnya, senyawa menunjukkan sifat antikanker, sama seperti cannabinoid jenis tetrahydrocannabinol. Namun, keenam senyawa ini tidak menunjukkan efek samping senyawa hallusinogen. Liu mengatakan, tahap riset selanjutnya adalah memadukan enam senyawa ini dengan pengobatan yang telah ada.

“Dengan mengombinasikan keduanya, akan diperoleh pengobatan yang lebih efektif untuk mengatasi kanker. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh enam senyawa dalam ganja juga tidak mahal sehingga memungkinkan pengobatan lebih murah,” kata Liu.

Komentar