Wanita Tak Menarik Cenderung Selingkuh?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 14 Februari 2018 | 09:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah mitos “tua” yang selama ini banyak dianut orang tentang wanita cantik cenderung tidak setia , seperti ditulis laman “telegraph,” berhasil dipatahkan  oleh para penelitia di Florida University.

“Telah ditemukan telaah hebat yang  mematahkan mitos bahwa perempuan menarik atau cantik tidak setia,” tulis “telegrap.”

Untuk itu, anggapan wanita cantik tak setia atau mudah selingkuh mungkin harus dihilangkan dari pikiran kita.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh periset AS justru menemukan bahwa wanita yang menganggap dirinya menarik ternyata jauh lebih mungkin untuk setia.

Hal yang sama juga ditemukan pada wanita yang telah banyak mengalami pengalaman campur aduk sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka setia dan tidak selingkuh.

Sebaliknya, wanita yang merasa dirinya “pas-pasan” secara fisik dan menyandang predikat sebagai wanita “baik-baik” justru lebih mungkin untuk selingkuh.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti asal Florida State University.

Mereka mengamati dua ratus tiga puluh tiga pasangan yang baru menikah dan mendokumentasikan keintiman hubungan mereka, termasuk kepuasan perkawinan, komitmen jangka panjang, dan apakah mereka telah terlibat dalam perselingkuhan saat masih bersama.

Hasil yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Pscychology memperkirakan bahwa munculnya perselingkuhan dipicu daya tarik diri sendiri dan pasangan.

“Secara khusus, daya tarik personal dikaitkan dengan perselingkuhan di kalangan wanita. Wanita yang kurang menarik justru lebih cenderung terlibat dalam perselingkuhan,” kata Jim McNulty penulis utama dalam penelitian tersebut .

Timnya juga menemukan bahwa pria cenderung terlibat dalam perselingkuhan saat pasangan mereka kurang menarik.

Anehnya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang puas dengan kehidupan seks mereka lebih cenderung selingkuh.

Peneliti menjelaskan, walaupun kehidupan seks rumah tangga mereka memuaskan dan dianggap positif, tetap saja akan mencari jenis hubungan lain.

Penelitian ini juga menemukan bahwa orang-orang yang cenderung dianggap biasa saja jauh lebih menarik perhatian dibanding mereka yang secara fisik menarik.

Peneliti menduga alasan di balik perilaku tersebut adalah pengalaman di masa lalu.

“Orang tidak menyadari apa yang mereka lakukan atau mengapa mereka melakukannya. Proses ini sebagian besar spontan dan tanpa usaha. Ini mungkin terbentuk secara biologis atau pengalaman masa anak-anak,” kata Dr McNulty.

Selain itu, sebuah survei di Perancis menemukan, alasan wanita berselingkuh karena suami malas mengerjakan tugas rumah tangga.

Sebuah poling terharap sepuluh ribu wanita mengungkapkan, tujuh puluh tiga persen yang tergerak untuk selingkuh karena pasangannya terlalu sedikit membantu pekerjaan rumah tangga.

Survei tersebut dilakukan oleh Gleedon, situs kencan untuk orang yang sudah punya pasangan tetap. Pelanggan wanita menjawab survei tersebut.

Poling itu diluncurkan untuk mengidentifikasi alasan utama wanita di situs itu yang tergoda untuk tidak setia.

Hampir sembilan dari sepuluh responden mengatakan, mereka terganggu oleh kurangnya bantuan saat melakukan pekerjaan rumah tangga. Sementara 84 persen menyebutkan kurangnya bantuan tugas rumah tangga itu memicu pertengkaran.

Hasil survei ini perlu diwaspadai pria kulit putih yang ditemukan paling malas mengangkat badan untuk pekerjaan rumah tangga.

Sedangkan, pria kulit hitam Karibia cenderung mau berbagi tugas rumah tangga.

Berita ini muncul setelah peneliti dari University of Michigan menemukan para suami menciptakan waktu ekstra tujuh jam untuk pekerjaan rumah tangga seminggu dan tetap istri yang melaksanakannya.

Selain itu masih ada kemungkina selingkuh itu dipengaruhi oleh gen.

Mungkin sulit dipahami mengapa seseorang berselingkuh meski sudah menikah.

Berdasarkan penelitian, seseorang yang selingkuh ternyata juga dipengaruhi oleh faktor DNA. Peneliti membaca kode genetik pada reseptor dopamin atau hormon bahagia para responden.

Hasilnya, sekitar lima puluh persen individu yang memiliki tipe gen alel panjang mengaku pernah berselingkuh, sementara mereka yang memiliki gen alel pendek sebanyak dua puluh dua persen mengaku pernah berselingkuh.

Pembacaan gen ini juga bisa menunjukkan apakah seseorang memiliki perilaku berisiko, seperti menggunakan obat-obatan terlarang.

Hormon lain yang berkaitan dengan perselingkuhan, yaitu vasopressin. Hormon ini dilepaskan ketika ada kontak fisik dengan orang lain yang berkaitan dengan sosial.

Akan tetapi, faktor genetik ini dinilai bukan menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan seseorang berselingkuh.

Menurut peneliti dalam video The Science of Cheating, selingkuh bukan hanya disebabkan faktor gen, melainkan juga dipicu masalah keuangan, emosional, dan terlalu banyak minum alkohol.

Di samping pengaruh gen, menurut peneliti, hal yang utama adalah bagimana seseorang bisa mengontrol perilakunya dan memutuskan untuk tetap setia dengan pasangan atau tidak.

Komentar