close
Nuga Life

Wanita Menikah Gemar Video Porno

Mengejutkan!!

Itu yang diungkapkan oleh laman situs  Sexologies Journal, Jumat 27 Mei 2016, ketika menulis hasil sebuah studi yang menyatakan  wanita jadi suka menonton pornografi setelah menikah.

Lantas bagaimana dengan  pria?

Di laman yang sama mereka menulis pria ternyata jadi  lebih jarang nonton video porno usai mendapatkan istri.

Dalam sebuah penelitian, periset mewawancarai seratus  pria dan wanita menikah untuk mencari tahu perubahan perilaku dan sikap terhadap seksualitas sebelum dan setelah menikah.

Dari peserta wanita, sebanyak sembilan  persen melaporkan menonton pornografi sebelum menikah, sedangkan dua puluh delapan  persen menonton setelah menikah.

Tren sebaliknya terjadi pada pria. Sekitar dua puluh tiga  persen mengatakan menontonnya sebelum menikah dan tinggal empat belas persen menontonnya setelah menikah.

Pada penelitian yang diterbitkan di Sexologies Journal ini, peneliti menyimpulkan bahwa konsumsi pornografi justru meningkat setelah menikah pada wanita dan menurun pada pria secara bermakna.

Mereka juga menemukan hasrat seksual lebih tinggi berkorelasi dengan penggunaan pornografi lebih banyak. Pria setelah menikah membangun status sosial ekonomi di tengah masyarakat. Dari sini, prioritas hidup mereka berubah dari fantasi seksual menjadi praktik seksual aktual dengan pasangan wanitanya.

Satu lagi interpretasi yang mungkin adalah pernikahan bukan faktor penentu, tetapi usia yang lebih menentukan.

Bahwa wanita lebih merasakan kurangnya stigma sosial ketika menonton pornografi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kontrol “sebelum dan sesudah menikah” dalam penelitian itu faktanya menemukan usia wanita mencerminkan bagaimana mereka terbebaskan secara seksual saat ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini menyimpulkan bahwa pernikahan sendiri tidak mengubah konsumsi poronografi itu, tetapi ada hubungannya dengan faktor usia yang lebih berpengaruh.

Penelitian ini juga mengukur preferensi pasangan menikah untuk adegan seks dipisahkan oleh jenis kelamin..

Lantas apa yang menriknya dibalik video porno?

Ya,  tokoh-tokoh dalam film tersebut memiliki bentuk tubuh aduhai, hasrat bercinta yang seolah tidak pernah padam, dan tentu saja permainan cinta dengan durasi yang sangat lama.

Semua adegan yang Anda lihat tidak menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Misalnya,hanya ada sedikit wanita yang bisa menghadapi dan juga menikmati ukuran penis yang terlalu besar.

Menurut Seymore Butts, salah satu sutradara film porno, cukup banyak aktris film porno yang sebenarnya kesakitan saat beradegan seks dengan bintang porno yang memiliki penis besar.

“Saya biasanya mengedit wajah aktris yang tampak kesakitan karena itu mengganggu. Itu bisa menghilangkan fantasi penonton,” kata Butts.

Banyak orang yang iri dengan performa para aktor film porno karena mampu berhubungan seksual dalam waktu yang sangat lama.

Padahal, sebelum kamera mulai merekam, mereka sudah mengonsumsi pil atau injeksi penis agar bisa bertahan lama.

Selain itu, pengambilan gambar juga memiliki jeda sehingga para pemainnya bisa beristirahat dan tentunya meraih ereksi kembali. Artinya, tidak ada pemain yang melakukannya secara nonstop.

Permainan seks yang terus-menerus selama bertahun-tahun karena pembuatan film ternyata berdampak negatif pada organ vital para aktor. Sebagian ada yang tidak bisa ejakulasi saat bercinta, bahkan ada yang sudah kebal dengan obat antiimpotensi yang sering mereka minum saat berakting.

Memang ada bintang porno yang bermain film murni untuk seks, tetapi jumlahnya bisa dihitung jari. Menurut Butts, berdasarkan pengalamannya, para pemainnya melakukan adegan karena uang, lalu karena ingin mendapat sanjungan, lalu kebebasan, baru karena seks.

Sebagian besar dari pemain itu tidak menikmati seks.

Ada pula pemain yang sebenarnya lesbian sehingga tidak menikmati hubungan seksual dengan pria, dan sebagainya. Namun, mereka melakukannya karena memang itu pekerjaannya, dan mereka sudah belajar bagaimana memalsukannya.

Masih diperdebatkan apakah para wanita bisa ejakulasi.

Namun, dalam film porno, apa yang Anda lihat bukan apa yang terjadi sebenarnya.

Untuk mendapatkan adegan “ejakulasi”, sering kali aktrisnya mengeluarkan urine, atau sutradara harus menghentikan pengambilan gambar agar aktris bisa mengisi vagina mereka dengan air.

Sebagian orang menganggap menonton tayangan porno bisa meningkatkan gairah seksual mereka, namun yang ditemukan sebuah studi baru justru sebaliknya.

Studi tersebut mengungkapkan, keseringan menonton tayangan pornografi justru akan menyebabkan otak menyusut dan bertambah buruknya respon seksual terhadap rangsangan.

Studi yang dipublikasi dalam JAMA Psychiatry tersebut mengklaim menjadi studi pertama yang mengaitkan antara menonton tayangan prono dengan kerusakan fisik seseorang.

Selain itu, orang yang lebih banyak menonton tayangan porno juga lahir dengan tipe otak tertentu.

Simone Kuhn, ketua studi ini dari Max Planck Institute di Berlin mengatakan, ini merupakan bukti pertama yang membuktikan hubungan antara menonton tayangan porno dan penurunan ukuran otak dan aktivitasnya dalam merespon rangsangan seksual.

Meskipun begitu, studi tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara keduanya.

Studi juga menemukan, orang yang memiliki striatum lebih kecil lebih mungkin untuk mengakses tayangan porno lebih banyak.

Striatum merupakan bagian otak tertentu yang berhubungan dengan penghargaan.

Peneliti menanyakan kepada mereka soal kebiasaan menonton tayangan porno yang mereka miliki. Peneliti juga melakukan pemindaian pada otak untuk mengetahui volume otak dan bagaimana cara organ tersebut bekerja dalam merespon rangsangan seksual.

Dari hasil studi, peneliti menemukan perbedaan mencolok antara peserta yang terbiasa menonton tayangan porno dengan peserta yang tidak. Kendati demikian peneliti belum dapat memastikan penyebabnya.

“Belum jelas apakah menonton tayangan porno yang menyebabkan perubahan pada otak atau memang orang dengan otak demikian yang lebih banyak menonton tayangan porno,” kata Kuhn.

Menurut dia, dibutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui penyebabnya.

Meskipun begitu, peneliti lainnya menyatakan, menonton tayangan porno yang tidak berlebihan mungkin tidak akan menimbulkan kerusakan apapun.