Wanita Menginginkan Bos Pria

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 24 Agustus 2016 | 14:53 WIB

Dibaca: 1 kali

Women.co, sebuah perusahaan internet di San Fransisco, secara diam-diam melakukan survei tentang kepemimpinan atau bos yang disenangi oleh wanita

Hasilnya?

“Cukup mengejutkan,” rilis “women.co,” Rabu, 24 Agustus 2016..

Tujuh puluh tujuh persen karyawan pria lebih nyaman bekerja untuk bos pria dan hanya sebelas persen karyawan pria lebih suka bekerja untuk bos wanita.

Lalu bagaimana dengan karyawan wanita?

Ternyata, lebih dari setengah mereka yang disurvei  mengatakan bahwa mereka lebih suka dan nyaman bekerja untuk seorang  bos pria.

Dan hanya enam belas persen wanita dan sebelas persen pria yang mempertimbangkan jender atasan terkait kenyamanan bekerja.

Mereka menyukai atasan berdasarkan kemampuan, kompeten, dan bakat manajerial.

Namun, perlu Anda ingat bahwa hasil survei ini tidak signifikan secara stastik, hanya sebuah bahan pemikiran.

Alasan umum responden pria memilih atasan pria karena mereka bisa lebih terbuka dalam berdiskusi banyak hal.

Beberapa responden lain mengaku bahwa mereka memiliki pengalaman buruk bekerja untuk bos wanita, terkait emosional naik turun.

Lalu, sebagian besar karyawan wanita mengutarakan bahwa mereka tidak harus bersaing atau dianggap bersaing oleh bos pria.

Terakhir, karyawan wanita yang memilih memiliki bos wanita menganggap wanita lebih piawai dalam membangun komunitas dan hubungan dengan klien

Kemudian, studi juga menemukan bahwa bos wanita mudah terintimidasi baik secara emosional dan profesional.

Hal lain yang dikeluhkan karyawan terhadap bos wanita adalah ekpektasi terlalu tinggi, terlalu banyak mengandalkan anak buah, dan emosi mudah naik turun.

Selanjutnya, penemuan yang lebih mengejutkan datang dari American Management Association, yang mengatakan bahwa 95 persen karyawan wanita mengaku, karier mereka sering tidak dihargai oleh sesama wanita di tempat kerja.

Hasil survei ini sangat berbeda dengan teori yang membeberkan bahwa bos wanita lebih baik daripada pria.

Pasalnya, wanita lebih aktif dalam memberi dukungan, pintar mendelegasikan tanggung jawab, dan protektif pada anak buah terutama karyawan wanita.

Rahasia umum yang terjadi di sebuah perusahaan atau tim kerja dengan bos wanita yang dianggap diktaktor, mereka disebut dengan istilah Sindrom Ratu Lebah.

Sindrom ini mendefinisikan seorang wanita alfa yang berusaha untuk menebarkan kekuasaan dengan segala cara.

Alih-alih memberikan promosi untuk karyawan berpotensi, bos wanita justru merasa terancam dengan kehadiran anak buah yang cakap dan inovatif.

Menurut periset dari Jerman, karyawan yang memiliki bos wanita yang galak,  berpotensi tinggi menderita depresi, sakit kepala akut, sesak napas, dan insomnia.

Selanjutnya, studi menjelaskan bahwa bos wanita yang mengalami Sindrom Ratu Lebah ini, umumnya besar dengan nilai-nilai kehidupan yang secara tidak disadari memberikan tekanan.

Biasanya, anak perempuan dibesarkan dengan nasihat dan motivasi bahwa mereka cantik dan pintar.

Lalu, ketika mereka tak lagi muda dan merasa tidak menarik, mereka menjadi gelisah bakal digantikan dengan karyawan wanita lain yang lebih muda, lebih cerdas, atau siapa pun yang kompetitif mengincar posisi pemimpin.

Sebaliknya, pria tidak memiliki kekhawatiran seperti tersebut di atas. Pria cenderung lebih percaya diri dan merasa berhak mendapatkan posisi puncak di tangga karier perusahaan.

Dalam survei yang sama juga terungkap  karyawan wanita  lebih detil, berkonsentrasi, dan lebih rapi dalam merealisasikan strategi pencapaian target kerja ketimbang karyawan lelaki.

Selain itu, karyawan wanita juga dikenal memiliki kepribadian yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

Reputasi baik tersebut, bisa jadi karena sedari kecil perempuan diajarkan untuk selalu menghormati dan menghargai kaum pria.

Jadi, ketika wanita tumbuh dewasa, mereka berkembang menjadi sosok yang lebih sabar, teliti, dan pendengar yang baik.

Siapa sangka ternyata sifat-sifat feminin tersebut justru membawa mereka menjadi lebih bersinar di dunia kerja.

Komentar