Wanita Lebih Rentan Depresi Dibanding Pria

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 6 Maret 2018 | 09:32 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa  wanita dua kali lebih mungkin mengalami depresi dibanding pria.

Data terbaru Pusat Statistik Kesehatan Nasional Amerika Serikat menemukan, tidak ada penurunan angka depresi yang signifikan di AS selama dekade terakhir, tapi menunjukkan perbedaan besar pada orang yang menderita depresi.

Dan penelitian kedua menemukan bahwa sebagian besar orang yang menderita depresi tidak mendapatkan perawatan.

“Wanita hampir dua kali lebih mungkin mengalami depresi,” tulis tim di NCHS, bagian dari Centers for Disease Control and Prevention, seperti dilansir dari Women’s Health.

Pada periode dua tahun lalu sebanyak lima puluh koma lima persen pria dilaporkan memiliki gejala depresi, sedangkan wanita sepuluh koma empat persen.

Depresi juga dipengaruhi oleh etnis dan pendapatan.

“Depresi lebih rendah di antara orang dewasa Asia non-Hispanik, dibandingkan dengan orang kulit putih Hispanik, kulit hitam non-Hispanik atau non-Hispanik,” tulis para peneliti.

Secara keseluruhan, orang dewasa Asia non-Hispanik memiliki prevalensi rendah  dibandingkan dengan Hispanik, kulit putih non-Hispanik, dan orang kulit hitam non-Hispanik

Sementara orang dengan pendapatan rendah juga cenderung mudah depresi.

Depresi bisa mempengaruhi kehidupan pribadi dan sosial.

“Sekitar delapan puluh persen orang dewasa melaporkan setidaknya mengalami kesulitan dengan pekerjaan, rumah, dan aktivitas sosial karena depresi mereka,” tulis para peneliti.

Lantas apa bedanya antara depresi dengan stress.

Ya, seperti diketahui, hampir setiap orang pernah mengalami stres.

Stres adalah hal yang normal dan justru baik bagi Anda dalam situasi tertentu.

Ketika Anda sedang dilanda stres, misalnya karena tumpukan pekerjaan atau karena Anda sedang merencanakan pernikahan, Anda akan semakin terpicu untuk fokus pada masalah dan meningkatkan kinerja.

Namun, Anda perlu berhati-hati karena kalau sudah terlewat stres, Anda bisa jadi menderita depresi. Bahkan pada beberapa kasus, depresi bisa muncul tanpa didahului oleh stres.

Stres dan depresi sering kali digunakan oleh awam sebagai istilah yang dapat dipertukarkan. Padahal, kedua hal ini memiliki perbedaan mendasar.

Cara kerja stres dan depresi tidaklah sama, maka penanggulangannya pun akan berbeda pula.

Jika tidak ditangani dengan benar, depresi bisa membahayakan kesehatan jiwa, jasmani, hingga nyawa.

Jadi, penting bagi Anda untuk mengenali perbedaan stres dan depresi agar bisa merawat diri dengan tepat sebelum terlambat.

Stres biasanya dimulai dari rasa kewalahan akibat banyaknya tekanan dari luar dan dalam diri seseorang yang telah berlangsung cukup lama.

Stres bisa mendorong Anda untuk semakin bersemangat menghadapi tantangan, tapi juga bisa mematahkan semangat Anda. Ini karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam menghadapi stres.

Ketika Anda dilanda stres, tubuh Anda membaca adanya serangan atau ancaman. Sebagai mekanisme perlindungan diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon dan zat-zat kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin.

Akibatnya, Anda akan merasakan dorongan energi dan peningkatan konsentrasi supaya Anda bisa merespon sumber tekanan secara efektif.

Tubuh juga akan secara otomatis mematikan fungsi-fungsi tubuh yang sedang tidak diperlukan, misalnya pencernaan.

Namun, apabila stres muncul pada saat-saat yang tidak diinginkan, darah akan mengalir ke bagian-bagian tubuh yang berguna untuk merespon secara fisik seperti kaki dan tangan sehingga fungsi otak menurun. Inilah sebabnya banyak orang yang justru sulit berpikir jernih saat diserang stres.

Berbeda dengan stres, depresi adalah sebuah penyakit mental yang berdampak buruk pada suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya.

Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter. Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik.

Orang yang terserang depresi biasanya akan merasa hilang semangat atau motivasi, terus-menerus merasa sedih dan gagal, dan mudah lelah.

Kondisi ini bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih. Maka, orang yang menderita depresi biasanya jadi sulit menjalani kegiatan sehari-sehari seperti bekerja, makan, bersosialisasi, belajar, atau berkendara secara normal.

Siapa pun bisa terserang depresi, terutama jika ada riwayat depresi dalam keluarga terdekat Anda. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi daripada pria.

Jika ternyata Anda mengalami depresi, Anda harus segera mengambil tindakan. Depresi merupakan penyakit yang bisa disembuhkan kalau penanganannya tepat.

Namun, depresi tidak bisa disembuhkan oleh Anda seorang diri. Anda membutuhkan bantuan orang lain.

Cobalah untuk menjalani sesi konseling bersama psikolog atau psikiater. Anda juga mungkin akan dirujuk untuk menjalani berbagai terapi seperti Terapi Kognitif Perilaku  dan psikoterapi.

Untuk membantu Anda mengatasi kegelisahan atau tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut, pengobatan dengan antidepresan dan obat penenang bisa menjadi solusinya.

Obat tidur juga mungkin ditawarkan bagi Anda yang mengalami insomnia atau sulit tidur. Ingatlah bahwa terserang depresi bukan kesalahan Anda, tapi Anda bisa melawannya.

Ceritakan situasi Anda dengan jujur pada orang-orang terdekat Anda agar mereka bisa mendukung dan membantu Anda sembuh lebih cepat.

Jangan menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja karena dampaknya sangat berbahaya. Berbagai studi telah menemukan hubungan yang sangat erat antara depresi dengan penyakit hati dan gagal jantung.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita depresi memiliki kemungkinan lebih banyak terserang obesitas akibat perubahan pola makan yang drastis dan kurang berolahraga.

Jika tidak ditangani secara serius, depresi di usia muda bisa menurunkan kemampuan otak serta meningkatkan risiko Alzheimer dan stroke.

Dalam beberapa kasus, mereka yang sudah terserang depresi berat cenderung mencoba untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Maka, sudah saatnya Anda menanggapi stres dan depresi dengan serius. Kenali perbedaannya dan segera tangani stres dan depresi sebelum terlambat.

Komentar