Ubin Bekas, Jangan Dibuang “Dong!”

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 10 Desember 2013 | 11:15 WIB

Dibaca: 4 kali

Lantai sebuah kafe dari ubin bekas, tampak eksotik dan sederhana

Ubin bekas? Biasanya dibuang saja. Kalau nggak percaya, berapa kali Anda sudah bongkar pasang lantai. Kemana ubin bekasnya. Ya, di buang. Bahkan tidak jarang, atas kesepakatan Anda dengan tukang, ubin-ubin itu dihancurkan saja untuk mempercepat proses pengerjaan lantai.

Tapi, sebuah situs yang mengkhususkan tulisannya pada eksterior dan interior rumah, “dezeen.com” memberi tip kepada Anda untuk tidak menjadikan ubin bekas menjadi bahan urukan yang dibuang percuma.

Dalam edisi terbarunya “dezeen.com,” memperkenal sebuah studio arsitektur asal Spanyol, Bach Arquitectes, yang mengumpulkan ubin-ubin dekoratif bekas dari beberapa apartemen dan menggunakannya kembali untuk merenovasi sebuah apartemen.

Proses ini dimulai ketika arsitek Anna dan Eugeni Bach diminta untuk merenovasi Urgell Apartment di Distrik Eixample, Barcelona, Spanyol.

“Di Barcelona, cukup wajar menemukan ubin dengan jenis ini di apartemen tua dari akhir abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20,” ujar Eugeni Bach seperti dikutip Dezeen.

“Masalahnya, tidak ada cukup banyak ubin untuk seluruh apartemen ini, karena beberapa ruangan (lantainya) sudah diganti dengan ubin baru,” imbuhnya.

Apartemen yang diperbarui Anna dan Eugeni Bach itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berukuran 65m2, sementara lantai kedua berukuran 40m2. Jika dijumlahkan, luas apartemen ini cukup besar.

Untuk ruangan seluas itu, memang, agak sulit mencari ubin antik. Beruntung, para arsitek yang terlibat dalam proyek ini berhasil menemukan ubin-ubin antik bekas. Ubin-ubin tersebut berasal dari apartemen lain yang juga tengah diperbaiki.

“Kami bertanya pada mereka, apa yang ingin mereka lakukan dengan ubin tua tersebut. Ternyata, mereka ingin menyingkirkannya, jadi kami mengambil ubin tersebut untuk proyek kami,” ujar Bach.

Tim arsitek yang menangani apartemen ini berhasil mengumpulkan tujuh jenis ubin. Dengan ubin-ubin tersebut, mereka mampu menutup seluruh area apartemen, termasuk ruang keluarga yang lapang, sebuah kamar anak, dan kamar mandi mungil.

Sayangnya, masih ada bagian yang tidak dapat ditutup dengan menggunakan ubin antik. Karena itulah, tim arsitek tidak tinggal diam. Mereka memadukan penggunaan ubin klasik dengan penutup lantai lainnya.

Untuk apartemen ini, mereka memilih lantai kayu. Lantai kayu digunakan untuk area tangga, lantai kedua, dan teras. Area tangga menuntun pemilik rumah menuju kamar tidur utama, kamar mandi, dan ruang kerja dibuat dengan menggunakan kayu pinus berwarna cerah.

Tangga itu pun “disambut” dengan struktur boks kayu di lantai atas yang berfungsi sebagai tempat menyimpan pakaian dan fasilitas mencuci. Meski jauh berbeda dari ubin yang digunakan untuk hampir keseluruhan apartemen, penggunaan kayu ini tidak terasa dipaksakan.

Sebenarnya, ubin-ubin tua tidak hanya bisa ditemukan di Barcelona. Cobalah mengunjungi kafe-kafe yang menggunakan bangunan tua, misalnya di daerah Cikini, Jakarta. Ubin-ubin tua yang dikenal di Indonesia umumnya terbuat dari campuran pasir dan semen.

Ubin yang dikenal dengan sebutan tegel tersebut kini sering dijumpai di kafe-kafe atau restoran berkonsep “tempoe doeloe”. Ubin jenis ini tidak hanya mampu membawa pemilik rumah dan pengunjung kafe bernostalgia secara visual, namun juga memberikan kenyamanan bagi mereka. Pasalnya, lantai tegel lebih dingin daripada keramik.

Komentar