Tukang Begadang Cepat Mengalami Penuaan

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 27 Februari 2013 | 11:08 WIB

Dibaca: 0 kali

BAGI  tukang begadang, alias orang yang  suka mengurangi  jam tidurnya, diminta berhati-hati dengan bahaya kerusakan genetik yang ditimbulkannya. Selama ini tukang begadang hanya mengeluhkan dampak kelelahan dari kebiasaan buruknya, Tapi, ternyata, berdasarkan penelitian para ilmuwan terbaru begadang juga dapat menimbulkan kerusakan pada genetik.

Salah satu dari akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan genetik bagi para tukang begadang adalah mengalami percepatan penuaan. Penuaan yang diakibatkan oleh kebiasaan mengabaikan jam tidur ternyata sangat cepat disbanding dari sangkaan para ahli terdahulu.

Kerusakan yang ditimbulkan dari aktifitas begadang ini bisa lebih buruk lagi bila kerusakan genetik menimbulkan perubahan perilaku dan dapat memicu perkembangan penyakit yang sifat generatik.

Makanya, tidak salah kalau Rhoma Irama, dengan lagunya Begadang, telah mengingat kita tentang akibatnya. “Badan lesu, semangat hilang,” tutur Pak Haji, begitu Rhoma di sapa, dalam liriknya di tahun delapanpuluhan.

Untuk itu, para ahli menyarankan kepada mereka yang bekerja  atau  memiliki aktivitas sosial untuk mengurangi kebiasaan mengurangi jam tidur itu. “ Tapi tahukah anda, begadang terus menerus selama beberapa hari ternyata sangat berpengaruh secara genetik? ingat para ahli yang dilansir oleh surat kabar  terkenal di Inggris “Guardian”

Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Surrey Sleep Research Centre di Surrey University, dipimpin oleh Prof. Derk-Jan Dijk, mengungkapkan bahwa orang yang jam tidurnya kurang dari 6 jam selama beberapa hari berturut-turut mengalami perubahan pada susunan gen yang aktif di dalam tubuhnya.

Hal tersebut terungkap dari hasil tes darah yang dilakukan terhadap individu sampel yang terdiri dari 14 pria dan 12 wanita, yang berusia antara 23 – 31 tahun.

Hasil tes darah menunjukkan bahwa pada orang yang mengalami kurang tidur, 267 gen menjadi lebih aktif, sedangkan 444 gen lainnya aktivitasnya menjadi terhambat.

Beberapa perubahan terjadi pada gen yang terkait dengan kondisi kesehatan orang tersebut. Diantaranya, perubahan aktivitas gen yang mengatur metabolisme, gen yang mengatur respon terhadap inflamasi serta gen yang berpengaruh pada stress dan penuaan.

Peneliti menduga, perubahan yang terjadi pada gen yang mengatur metabolisme bisa berpotensi menimbulkan penyakit diabetes atau obesitas. Sementara, perubahan gen yang mengatur respon terhadap inflamasi, berpotensi menyebabkan penyakit jantung.

Temuan ini mengejutkan peneliti yang terlibat. “Yang mengejutkan kami , ternyata perbedaan durasi tidur yang sangat sedikit ini memberikan perubahan yang besar,” kata Dijk seperti dikutip The Guardian, Senin (25/02/2013).
“Ini mengindikasikan bahwa gangguan waktu tidur tenyata berdampak lebih besar dibandingkan sekedar membuatmu merasa lebih letih,” tambahnya.
Sementara, Jim Horne, profesor psikofisiologi di Sleep Research Centre di Loughborough University memberikan argumentasi yang berbeda.

Ia mengatakan potensi bahaya dari kurang tidur yang terjadi di penduduk masa kini dan kebutuhan untuk tidur malam selama 8 jam seringkali terlalu dilebih-lebihkan.

“Hasil penelitian ini memang menjadi bukti pendukung untuk masalah tersebut, namun yang perlu diperhatikan adalah, partisipan yang terlibat dalam penelitian ini seolah ‘dipaksa’ mengurangi jam tidur mereka. Kondisi ini bisa menyebabkan stress pada diri mereka,” katanya.

Horne menambahkan, “Kita harus hati-hati dalam mencerna hasil penelitian ini dan tidak mengeneralisasinya. Ada orang yang terbiasa tidur selama enam jam dan mereka senang dengan itu. Disamping itu, tidur bisa beradaptasi pada beberapa perubahan, dan sebaiknya dinilai berdasarkan kualitasnya, bukan sekedar kuantitasnya.”

Komentar