Tren “Ngopi” Kini Berkembang Jadi “Modis”

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 10 November 2017 | 09:07 WIB

Dibaca: 5 kali

Ngopi?

Ya, begitu tren yang tumbuh dan berkembang menjadi budaya di kalangan masyarakat untuk “duduk”  dan nongkrong di kafe.

Ya juga ketika kafe menjadi pilihan untuk mengatasi kebosanan kerja dan menjadi selingan hidup kesehaarian.

Jauh sebelum merebaknya kedai-kedai kopi kekinian,”ngopi” sebenarnya sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

Tradisi minum kopi di Nusantara bisa dilakukan di pagi hari, saat waktu senggang di siang hari, bahkan sampai malam.

Meski demikian, dalam lima tahun terakhir ini kebiasaan nongkrong di kedai kopi kembali marak. Kedai-kedai kopi kini hadir dalam konsep desain yang menarik.

Instagramable kalau kata anak milenial.

Pemeharti gaya hidup dan makanan Kevindra Soemantri mengatakan peningkatan tren mengonsumsi minuman berkafein ini bisa dilihat sejak tiga tahun silam

Beberapa laporan dunia juga menunjukkan adanya peralihan dari bar ke kedai kopi. Tren tersebut juga terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta.

Kevin menjelaskan situasi itu didukung dengan peralihan ke konsumsi produk lokal. Menikmati kopi dianggap sebagai bagian mencintai produk lokal lantaran biji kopi yang melimpah ruah di Indonesia.

“Apalagi kita ada  Aceh, Bali, Tana Toraja–di mana para pelaku industri berpikir, sumbernya di sini, kenapa kita enggak manfaatkan,” kata Kevin saat acara bincang media yang diadakan oleh Halodoc

Tren ini tak luput dari pengaruh industri hiburan seperti film dan novel yang membahas soal kopi.

Menurut Kevin ada gelombang positif gerakan mengonsumsi kopi–yang mana sebelumnya sudah ada–namun baru dinikmati para pecinta kopi generasi muda.

“Memang ada pertumbuhan minum kopi dari anak-anak muda di Jakarta terutama sebelum Filosofi Kopi, tapi ini biasanya hanya pada kelas B plus atau yang memang pecinta kopi.”

Gaya hidup nongkrong sambil ngopi pun semakin kuat setelah kegiatan-kegiatan bertema kopi, seperti festival, pameran, atau coffee cuping, sering diadakan.

Tren ini dianggap mudah merebak karena budaya ngopi di Indonesia sudah ada sejak dulu di beberapa daerah. Bahkan Kevin memprediksi tren ini akan berlangsung lama, lebih dari 10 tahun.

“Daerah seperti Tana Toraja, Aceh, Medan, budaya minum kopinya kuat, jadi  hanya dimelekin aja, karena memang sudah berakar,” ujar Kevin.

Di banyak kota, kedai kopi juga memiliki fungsi yang luas.

Tak sekadar untuk menikmati kopi, kedai-kedai kopi itu juga menjadi ruang pertemuan, tempat rekreasi dan bersantai, bekerja, bahkan membuat kesepakatan bisnis.

Minum kopinya mungkin tak seberapa, tapi kumpul-kumpulnya lebih lama.

Walau penikmat kopi terus bertambah, tetapi menurut pemerhati gaya hidup dan makanan, Kevin  banyak yang belum meningkatkan pengetahuannya soal kopi.

Ketahui apa saja kesalahan yang sering dilakukan kaum urban yang mengikuti tren ngopi yang bisa berdampak pada kesehatan.

Kevin mengatakan, banyak kaum urban yang ikut-ikutan tren menyukai minuman kopi tertentu tanpa paham apa kandungan di dalamnya.

Yang sering terjadi adalah konsumsi kafein berlebih.

Riset kecil-kecilan bisa dimulai dari batas maksimal asupan kafein setiap harinya, termasuk juga jenis kopi yang aman untuk lambung.

Misalnya saja tak semua orang tahan dengan rasa kopi robusta.

Tak salah memang bila ada persepsi bahwa kopi bisa membuat tubuh lebih segar dan tak mengantuk.

Hal itu arena ada efek stimulan dari kopi ke tubuh. Beberapa orang juga mengaku lebih tenang setelah ngopi.

Namun, menurut Kevin, mempercapai mitos itu bisa membuat kita kelebihan ngopi. Apalagi jika setiap kali ngantuk, kita langsung mencari kopi.

“Yang akhirnnya menjurus ke konsumsi kopi berlebihan. Kopi seharusnya gaya hidup sehat” katanya.

Minum kopi memang bisa menyehatkan, tapi dengan catatan hanya kopi hitam saja tanpa tambahan susu, gula, atau sirup, seperti yang lazim ditemukan di gerai kopi kekinian.

Kevin mencontohkan, tambahan gula pada kopi di kedai-kedai kopi bisa lebih dari lima belas gram

Jumlah itu hampir seperempat konsumsi gula harian lima puluh gram.

“Masyarakat masih berdasar enak, enggak enak. Oke memang enak, tapi cocok enggak buat tubuh,” katanya.

Komentar