Tidur dengan Lampu Menyala Atau Mati?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 16 Mei 2018 | 09:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang bisa membantah bahwa tidur bukan  merupakan salah satu aktivitas yang wajib kita lakukan dan dengan waktu yang tepat.

Orang dewasa membutuhkan tujuh hingga delapan jam untuk tidur, sedangkan anak-anak dan remaja membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh jam.

Melewatkan waktu tidur tentu tidak baik untuk tubuh dan dapat merusak sistem sirkulasi pencernaan pada tubuh.

Tidak hanya itu, penerangan saat tidur pun akan berakibat buruk pada kesehatan.

Jadi, bagaimana sebaiknya tidur?

Dengan lampu menyala atau mati? Pentingnya tidur tanpa menggunakan lampu sekecil apapun cahayanya telah diteliti oleh para ahli. Menurut Joyce Walsleben, PhD., anggota asosiasi dosen di New York University School of Medicine, meskipun kita tertidur, cahaya tetap dapat terdeteksi oleh kelopak mata dan otak kita tidak akan memproduksi melatonin.

Walsleben juga berkata bahwa kita membutuhkan kegelapan dalam kamar segelap yang masih bisa kita hadapi tanpa menyandung sesuatu

Cahaya lampu di malam hari merupakan faktor risiko yang signifikan untuk mengembangkan kanker payudara, menurut para peneliti yang mengkaji data dari  ribuan perempuan dan menerbitkan hasil penelitian mereka di Chronobiology International.

Namun ilmuwan lain berpendapat bahwa setiap gangguan pada ritme sirkadian dapat memicu pelepasan hormon stress dan inilah yang dapat meningkatkan risiko kanker.

Sirkulasi tubuh dua puluh empat jam kita mengontrol beberapa hormon seperti, ghrelin, insulin dan serotonin yang berpengaruh kepada nafsu makan, penyimpanan lemak, dan mood.

Oleh karena itu, hal-hal yang mengganggu sirkulasi bisa menyebabkan kegemukan, diabetes tipe 2, dan depresi. Bahkan, dokter dan ilmuwan juga menjadi khawatir akan penemuan kasus ini oleh American Medical Association.

Beberapa ahli percaya bahwa menyalakan lampu pada malam hari dapat menyebabkan efek biologis.

Sebuah studi di Harvard menemukan bahwa pencahayaan lampu kamar pada larut malam yang berasal dari lampu pijar dapat mengurangi tingkat melatonin, sehingga kita menjadi sulit tertidur.

Bukan hanya lampu yang di atas kepala kita saja yang membahayakan, namun seluruh tingkat pencahayaan yang dapat ditemukan di rumah pada malam hari seperti layar komputer, televisi, dan ponsel dapat menekan sekresi melatonin.

Pada tujuh tahun lalu, sebuah studi menyebutkann bahwa pencahayaan yang dihasilkan oleh layar komputer lima jam sebelum tidur dapat memengaruhi ritme sirkadian dengan menunda pelepasan melatonin.

Penelitian melapokan bahwa rotasi shift pekerja, mengakibatkan naiknya tingkat pencahayaan pada malam hari, dan mempengaruhi siklus menstruasi pekerja wanita.

Penelitian tersebut melibatkan tujuh puluh ribu lebih wanita yang berpartisipasi dalam Nurse Health Study II.

Sekitar satu dari lima partisipan bekerja pada shift malam selama paling tidak satu bulan dalam dua tahun sebelum studi tersebut diselenggarakan.

Semakin banyak waktu shift kerja yang dihabiskan, semakin tidak teratur siklus menstruasi mereka.

Gangguan tidur sangat terkait dengan risiko depresi dan pengalaman depresi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry menunjukkan bahwa pencahayaan di malam hari, meskipun redup dan hanya setara dengan lampu tidur, dapat meningkatkan perubahan fisiologis seperti yang terjadi pada hewan pengerat.

Pada hamster, cahaya redup di malam hari memicu perilaku seperti depresi dan perubahan pada otak.

Hal ini dapat terjadi akibat ritme sirkadian yang terganggu dan juga penekanan melatonin, menurut Tracy Bedrosian, seorang kandidat PhD pada departemen ilmu saraf di The Ohio State University di Colombus.

Kabar baiknya adalah bahwa gejala akan menghilang ketika kondisi pencahayaan normal kembali.

Komentar