Ternyata Wanita Lebih Berisiko Demensia

Penulis: Darmansyah

Selasa, 9 Oktober 2018 | 08:34 WIB

Dibaca: 1 kali

Sebuah penelitian terbaru, seperti ditulis, Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatr, hari ini, Selasa, 09 Oktober,  mengungkapkan, hampir setengah dari wanita dan sepertiga pria di atas usia empat puluh lima tahun mengembangkan gejala-gejala parkinson, demensia, dan stroke selama masa hidupnya.

Tiga kondisi itu menjadi penyebab kematian terbesar pada lansia.

Penelitian yang dilakukan oleh University Medical Center Rotterdam, Belanda ini awalnya bertujuan untuk menemukan risiko-risiko penyakit yang menyerang lansia.

Penelitian ini dilakukan selama rentang waktu 26 tahun, sejak 1990 hingga 2016. Selama periode itu, mereka getol mengecek kondisi kesehatan 12 ribu peserta penelitian.

Hasilnya, sebanyak seribuan  di antaranya didiagnosis demensia, dua ratus enam puluh dua menderita parkinson, dan seribu dua ratus  terserang stroke.

Sedangkan sisanya mengalami gangguan-gangguan kesehatan lainnya.

Dari total itu  orang dengan demensia, sebanyak empat puluh delapan persen di antaranya terjadi pada wanita dan tiga puluh enam persen pada pria.

Direktur Penelitian Alzheimer’s Research Inggris, dr Carol Routledge mengatakan bahwa penelitian tersebut menggambarkan dengan jelas penyakit-penyakit yang timbul akibat gangguan neurologi pada masyarakat. “Wanita paling rentan, terutama pada demensia,” ujar Routledge, mengutip Reuters.

Wanita berusia empat puluh lima tahun ke atas berisiko tiga puluh satu persen terkena demensia. Angka itu lebih tinggi daripada pria yang hanya berisiko delapan belas koma lima6 persen.

Selain itu Anda juga perlu tahu faktor lain yang menyebabkan seseorang “dijangkiti” demensia.

Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami demensia di usia lanjut.

Lantas apa saja itu?

Pertama faktor usia. Demensia umum terjadi pada orang-orang usia lanjut.

Demensia telah lama dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif otak sebagai efek samping penuaan alami. Itu sebabnya semakin tua usia Anda, semakin besar risiko Anda mengalami demensia.

Diperkirakan satu  dari empat belas4 lansia berusia enam puluh lima tahun hidup dengan demensia, dan pada satu  dari enam orang usia delapan puluh tahun ke atas.

Penuaan tidak hanya menyebabkan keriput di wajah dan uban di rambut kepala Anda, tapi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan kemampuannya untuk memperbaiki sel-sel yang rusak — termasuk sel-sel saraf di otak.

Usia tua juga menyebabkan kerja jantung untuk memompa darah segar tidak lagi seoptimal dulu. Otak yang tidak mendapatkan cukup darah segar lama-lama bisa mengalami penyusutan, yang kemudian memengaruhi fungsinya.

Faktor-faktor inilah yang diduga kuat memengaruhi risiko seseorang mengalami demensia di usia senja.

Untuk Anda tahu, demensia bukanlah penyakit, melainkan serangkaian gejala yang bisa menandakan adanya penyakit.

Banyak penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya demensia, seperti Alzheimer, Parkinson, hingga gangguan peredaran darah (stroke dan aterosklerosis) yang bisa disebabkan oleh kolesterol tinggi.

Penumpukan plak kolesterol dapat mempersempit pembuluh darah sehingga mengganggu aliran darah ke otak. Ini dapat merusak kemampuan sel otak untuk berfungsi dengan baik dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel otak.

Diabetes pun ternyata memiliki andil terhadap peningkatan risiko demensia, yang seringnya tidak disadari.

Sama seperti kolesterol tinggi, diabetes yang tidak terkontrol lama-lama dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang mengarah ke otak, juga dan saraf-saraf yang ada di otak.

Jika Anda selama ini selalu menunda-nunda untuk mulai olahraga, ada baiknya untuk segera bulatkan niat dan pakai sepatu olahraga Anda. Ya! Tak disangka-sangka, faktor risiko lainnya dari demensia adalah kurangnya aktivitas fisik Anda sehari-hari.

Pasalnya, minim waktu berolahraga dapat meningkatkan risiko Anda terhadap berbagai penyakit kronis yang memengaruhi fungsi otak.

Misalnya saja, penyakit jantung, gangguan sirkulasi darah, kelebihan berat badan atau obesitas, hingga diabetes — semua hal ini merupakan faktor risiko dari demensia. Selain itu, orang dewasa yang memasuki usia senja dan tidak berolahraga secara teratur akan lebih mungkin mengalami masalah dengan memori atau kemampuan berpikir.

Oleh karena itu, mulailah biasakan beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari atau minimal tiga hingga lima hari dalam seminggu

Tidak perlu berolahraga yang berat. Anda bisa memulainya dengan jalan kaki keliling komplek, bersepeda, atau berenang.

Biasakan juga untuk tidak terlalu lama duduk. Ketika bekerja di kantor, luangkan waktu untuk melakukan peregangan atau bangkit dari kursi untuk jalan-jalan sebentar (entah itu untuk ambil minum atau ke toilet).

Pola makan Anda selama ini secara tidak langsung juga ikut berperan terhadap risiko demensia di masa depan.

Kebanyakan makan makanan berlemak, yang terlalu banyak garam, juga terlalu banyak asupan gula dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang memengaruhi kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak yang menjadi pemicu demensia.

Faktor risiko lainnya dari demensia adalah depresi. Meski begitu, kaitan antar keduanya sangatlah kompleks. Satu studi bahkan melaporkan bahwa depresi dapat menggandakan risiko demensia.

Depresi diduga kuat menjadi penyebab demensia di usia lanjut lantaran gejala depresi yang membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Isolasi sosial lama-kelamaan dapat berdampak negatif pada fungsi dan kesehatan otak.

Selain itu, apabila Anda mengalami depresi dan memiliki penyakit stroke, hal ini juga akan meningkatkan risiko demensia hingga lima kali lipat. Sementara apabila Anda memiliki depresi dan hipertensi, risiko demensia Anda bisa meningkat hingga tiga kali lipat.

Depresi bisa dicegah dan/atau dikelola dengan perubahan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan pola makan sehat.

Jika Anda diresepkan obat antidepresan, konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Jangan hentikan atau mengubah dosisnya sendiri, tanpa sepengetahuan dokter, untuk mencegah risiko efek samping yang merugikan.

Komentar