Umur Otak Bisa Dikaitkan dengan Kematian

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 2 Mei 2017 | 14:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Tim ilmuwan syaraf di London secara mengejutkan menemukan cara untuk memprediksi kematian manusia berdasarkan volume jaringan otak.

Dengan kata lain tim ilmuwan akan mengenali proses penuaan otak seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Jika usia otak lebih tua ketimbang usia kelahiran manusia itu sendiri, maka risiko kematian muda menjadi lebih besar.

Pemindaian otak yang dilakukan dihgarapkan bisa menjadi alat untuk mengidentifikasi risiko penurunan kognitif dan harapa hidup hingga lebih dari usia delapan puluh tahun.

Dengan kata lain, ilmuwan mengklaim temuan ini bisa membantu dokter memberi peringatan dini bagi pasien yang berisiko menghadapi kematian muda, hanya dengan melakukan analisa otak.

James Cole, peneliti dari Departemen Kedokteran, Imperial College London menganalisa lebih dari dua ribuan sekelompok remaja di Skotlandia.

Hasilnya?

Banyak dari remaja yang memiliki usia otak lebih tua ketimbang umur mereka sendiri.

Tim peneliti memprediksi mereka yang memiliki otak berusia lebih tua mengindikasikan adanya masalah pada kesehatan mental dan fisik.

Cole menegaskan temuannya itu akan berimbas pada kematian yang bisa datang lebih cepat.

Dalam penelitian tersebut, Cole dan rekan penelitinya melakukan pemindaian otak terlebih dahulu untuk mengestimasi usia otak seseorang.

Hasil pemindaian kemudian akan dibandingkan dengan mesin yang mempelajari algoritma.

Menariknya Cole dan tim juga menemukan otak pria cenderung berusia lebih tua daripada wanita.

Dari hasil pemindaian menunjukkan perbedaan usia otak pria delapan tahun lebih tua ketimbang wanita yang hanya dua tahun lebih tua dari usia fisik mereka.

Dalam temuan ini otak manusia yang berusia lebih tua dari umur mereka sebenarnya akan diberi skor yang lebih rendah.

Temuan ini disebut Cole dapat membantu dokter ketika memetakan permasalahan keehatan pasiennya.

Terlebih saat berbicara kesehatan, banyak orang yang hanya mempertimbangkan kemampuan fisik saja, tanpa melihat kemampuan organ dalam.

“Dalam jangka panjang akan lebih bagus saat dokter bisa memetakan potensi seseorang berdasarkan hasil scan otak. Hal ini bisa membantu mereka mengubah gaya hidup dan berpotensi memperpanjang usia mereka,” ungkap Cole seperti dilansir The Sun.

Namun begitu, ia memastikan hasil riset ini masih harus disempurakan jika ingin melakukan prediksi yang lebih akurat untuk memetakan harapan hidup seseoran

Sebuah studi baru lainnya, seperti dilansir dari AFP,  berdasarkan hasil uji laboratorium menemukan hasil menarik usai  tikus tua disuntik protein dari darah tali pusar bayi.

Para ilmuwan ini mendapati otak tikus tua ini terjaga tetap sehat.

Sebelumnya senyawa protein ini, ditemukan mempengaruhi pertumbuhan hippocampus, bagian otak yang mampu melakukan navigasi spasial dan memproses ingatan.

Ditemukan banyak dalam tali pusar tetapi kadarnya menurun sejalan dengan usia.

Adalah tim peneliti yang dipimpin oleh Tony Wyss-Coray dari Universitas Stanford yang menyuntik tikus-tikus tua itu.

Suntikan ini mendorong aktivitas di bagian hippocampus tikus sekaligus kemampuan belajar, daya ingat dan kemampuan beradaptasi dengan informai baru yang semakin membaik.

Hal ini ditunjukan dari kemampuan mereka mencari jalan keluar dari labirin laboratorium.

Menurut penelitian ini yang dipublikasikan di jurnal Nature, sel otak dimana protein bereaksi dapat menjadi target berguna untuk obat-obatan yang memerangi penurunan kognitif di antara para lansia.

Pengamat penelitian ini mengomentari jika penemuan ini sangat menarik tetapi banyak hal yang harus diwaspadai.

“Studi ini menunjukkan protein manusia dapat mengembalikan kemampuan kognitif yang semakin menua dalam tikus,” ujar Jennifer Wild, peneliti di psikologi klinis di Universitas Oxford, Inggris.

“Ini tidak berarti protein ini dapat menyembuhkan dementia (pikun) atau kognitif uzur pada manusia,” tambahnya kepada Science Media Centre.

Para ahli alzheimer mengatakan jika kesuksesan tikus percobaan ini memang menyangkut penurunan kognitif pada lansia yang secara alami terjadi. Proses ini sangat berbeda dengan dementia yang disebabkan karena penyakit.

“Walau perawatan yang diuji coba di sini mendorong beberapa aspek belajar dan ingatan pada tikus, kita tidak tahu seberapa dekat penemuan ini jika diterapkan pada manusia,” jelas David Reynolds dari Alzheimer’s Research UK.

“Penelitian ini, walau menarik, hanya melihat pada ingatan dan memikirkan perubahan disebabkan karena proses uzur, bukan untuk mereka yang mengalami dementia.”

Penyakit Alzheimer adalah bentuk paling umum dementia yang mempengaruhi empat puluh tujuh  miliar orang di seluruh dunia dan hingga sekarang belum ada obat penyembuh dan perawatan paling efektif.

Komentar