Tampilan Kebahagiaan Palsu di Medsos

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 22 Juni 2017 | 10:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Banyak orang  yang membuat kebohongan di media sosial agar hidupnya dinilai sempurna dan bahagia

Dan ia menjadikan media sosial sebagai aktivitas menaikkan citra diri dan  profesionalitas .

Ya, membangun citra diri yang positif di media sosial memang perlu, tetapi jangan sampai melakukan kebohongan.

Berdasarkan riset dari Learnvest, lima puluh persen generasi milenial mengakui mereka mengunggah foto di media sosial agar dinilai mampu berlibur atau makan di tempat yang lebih mahal dibanding kehidupan mereka sebenarnya.

Survei itu dilakukan terhadap seribuan responden.

Tak sedikit pula orang yang sampai berhutang untuk membiayai gaya hidup palsu dari yang sebenarnya mereka mampu.

Ada juga orang yang membuat kebohongan di media sosial agar hidupnya dinilai sempurna dan bahagia.

Menurut Fran Walfish, ahli psikoterapi, banyak orang nekat melakukan pembohongan kepada pengikut di media sosial karena mereka ingin menimbulkan kecemburuan dan membuat diri mereka lebih disukai, terutama untuk para mantan dan pasangan mereka saat ini. Namun, ada juga karena alasan nilai materialistis.

Selain itu, berdasarkan studi tlima tahun silam yang dipublikasi di Journal of Personality and Social Psychology, generasi milenial memang lebih mengutamakan uang, penampilan dan ketenaran.

Apa pun alasannya, yang jelas unggahan tersebut berdampak negatif.

Sebagian besar generasi milenial mengatakan merasa tertekan mengikuti gaya hidup orang yang dilihatnya di media sosial.

Pengeluaran pun akan bertambah karena tergiur memiliki gaya hidup teman yang dianggapnya sempurna.

Menurut survei, tak sedikit orang yang membiayai sesuatu di luar kemampuannya, misalnya berlibur, gara-gara melihat foto keren orang lain di media sosial sedang liburan di tempat eksotis.

Rasanya wajar jika kita juga berteman dengan rekan-rekan kerja di media sosial. Tetapi, jangan sampai aktivitas di media sosial menurunkan citra profesionalitas di kantor.

Media sosial bisa menjadi alat yang tepat untuk membangun personal branding atau citra yang kita ciptakan kepada publik. Hal ini bisa menambah nilai profesionalitas kita untuk menapaki jenjang karier.

Aturan menggunakan media sosial terus berganti.

Sekitar sepuluh tahun lalu sangat tabu berteman dengan rekan kerja di media sosial, rata-rata pekerja usia dewasa muda hanya berteman dengan enam belas teman kerja mereka.

Laporan dari Pew Research menunjukkan, lima puluh satu persen pekerja yang menjadi responden mengatakan bahwa media sosial memperlihatkan banyak informasi tentang rekan kerja mereka.

Sebanyak dua puluh sembilan persen karyawan menemukan sesuatu di media sosial yang menurunkan pandangan terkait profesionalitas rekan kerja mereka.

Untuk itulah kita perlu bijak dan berhati-hati menggunakan media sosial kita. Berikut adalah tips apa yang boleh dan sebaiknya dihindari ketika menjalin pertemanan di media sosial dengan rekan kerja.

Itu artinya batasi interaksi dengan bos di media sosial seperti Facebook atau Instagram.

“Anda ingin mereka menghormati Anda secara profesional sehingga Anda bisa maju dalam karir Anda,” kata personal branding expert and author of “The Etiquette of Social Media”, Leonard Kimi.

Ketika atasan Anda melihat status galau atau foto liburan Anda dengan pakaian renang, citra profesional Anda mungkin bisa hancur.

Kim menyarankan agar kita sebaiknya berteman dengan rekan yang memiliki posisi sama atau berbeda divisi.

Tapi aturan ini tak berlaku untuk LinkedIn yang merupakan tempat para profesional saling “memamerkan diri”.

Justru sebaiknya kita berteman dengan banyak orang, termasuk para atasan atau orang-orang inspiratif di profesi Anda.

Berteman dengan orang yang berbeda di media sosial yang berbeda sangat dianjurkan.  LinkedIn dan Twitter adalah media untuk mempopulerkan profil profesional Anda, membagikan berita perusahaan dan hal lain yang terkait pengembangan karier Anda.

Hal ini tak berlaku untuk Facebook dan Instagram, yang bisa kita isi dengan aktivitas pribadi, seperti anak, hewan peliharaan, atau foto liburan.

“Snapchat adalah happy hour,” tambah Sun. Jika kita sangat dekat dan bisa pergi untuk ke kafe untuk minum, maka tak ada salahnya berteman di Snapchat,” kata Winnie Sun, konsultan keuangan di Millennial Matters

Jika kamu belum pernah makan siang atau berbicara dengan rekan kerja secara langsung, maka jangan kirim permintaan pertemanan di media sosial.

“Jangka waktu untuk berteman di media sosial yakni setelah Anda membangun ikatan pribadi, minimal satu hingga dua bulan,” kata Kim.

Dia juga menyarankan untuk berteman lebih dahulu di Twitter, daripada di Facebook.

Jika seseorang memberikan lampu hijau dengan mengirim permintaan pertemanan di LinkedIn, itu membuka pintu peluang berhubungan di media sosial lebih kuat di masa depan.

“Jika mereka menerima, kirim pesan secepatnya, ‘Terima kasih telah berhubungan, saya sangat senang untuk bergabung’,” kata dia.

Kemudian jika dia membalas, maka Anda tahu bahwa dia memiliki kepribadian yang hangat.

Bila percakapan berlanjut, Kim menyarankan mengirim pesan kembali setelah beberapa bulan bahwa Anda mungkin akan mengirim pertemanan di Facebook dan mulai membangun suasana di sana.

Apakah Anda merasa nyaman dengan rekan kerja yang melihat unggahan pribadi Anda?

Jika Anda menggunakan Facebook dan Twitter sebagai bisnis, misalnya mengunggah berita perusahaan dan perkembangannya, maka berjejaring dengan rekan kerja Anda adalah hal lumrah.

Komentar