Tak Punya Anak? Kok Wanita Disalahkan

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 5 November 2014 | 07:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Tak Punya Anak? Kok perempuan yang jadi biangnya!

Tidak seharusnya demikian. Dan nggak selamanya perempuan yang harus dipersalahkan kalau sebuah pasangan tidak dikaruniai anak. Lelaki juga harus bertanggungjawab akibat ketidaksuburannya.

Tapi di dalam masyarakat tradisionil, vonis terhadap ketidaksuburan atau infertilitas sering dijatuhkan terhadap perempuan, dan lelaki dipersilakan untuk mencari bini baru.

Apa itu menyelesaikan masalah dalam kehidupan pasangan suami istri? Juga tidak. Dan seharusnya lelaki juga harus menjalani pemeriksaan untuk menentukan siapa yang paling bersalah di antara wanita dan lelaki yang tidak subur.

Infertilitas atau ketidaksuburan merupakan factor utama yang mengakibatkan sulitnya sebuah pasangan mendapatkan keturunan.

Infertilitas merupakan kondisi ketidakmampuan pasangan suami istrii untuk mendapatkan kehamilan. Para ahli mengungkapkan bahwa ketika pasangan suami istrii mengalami infertilitas, maka sepertiganya disebabkan oleh wanita, sepertiga disebabkan oleh pria dan sepertiganya lagi bisa disebabkan oleh keduanya.

Salah satu penyebab infertilitas, saat ini, adalah gaya hidup dan lingkungan, terutama pada pria.
Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh pada fungsi reproduksi pria atau sperma, seperti misalnya pola
makan, obesitas, polusi udara, kebiasaan minum alkohol dan merokok, pekerjaan yang mengharuskan duduk berjam-jam dan bersinggungan dengan radiasi tinggi, serta kebiasaan memangku laptop.

Faktor lain yang bisa menjadi penyebab infertilitas pada pria, yaitu genetik, usia, gangguan hormon, kelainan organ reproduksi, penyakit infeksi dan penyakit tertentu lainnya.

Mengetahui penyebab infertilitas pada pria sangat perlu untuk dapat segera mengatasi kondisi sulit mendapatkan keturunan. Infertilitas memang tidak menyebabkan kematian, tapi tidak kunjung mendapatkan keturunan bisa menjadi ‘badai’ dalam keluarga.

Penyebab infertilitas dapat diketahui awalnya melalui pemeriksaan riwayat medis atau popular disebut “anamnesa.” Pemeriksaan laboratorium adalah bagian yang penting untuk mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan pada setiap proses reproduksi pria

Kehamilan terjadi karena adanya pertemuan antara sel telur dan sperma. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap sperma adalah bagian utama yang harus dijalankan. Pada analisa sperma, ada tiga hal yang diperiksa untuk mengevaluasi fertilitas pria adalah jumlah, kualitas gerakan dan bentuk sperma.

Untuk melakukan analisa sperma diperlukan persiapan khusus sebelumnya, yaitu tidak boleh mengalami ejakulasi, baik melalui aktivitas seksual, mastubarsi atau pun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan. Hal ini wajib dipatuhi karena akan mempengaruhi kuantitas (jumlah) dan kualitas sperma.

Pemeriksaan urin lengkap paska ejakulasi dilakukan untuk menunjang dugaan retrogade ejaculation, yaitu suatu keadaan kelainan pada saluran keluarnya sperma yang mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya, melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih.

Folicle – stimulating hormone diproduksi oleh kelenjar pituitari, organ berukuran anggur yang ditemukan pada dasar otak. Pada pria, FSH menstimulasi testis untuk memproduksi sperma yang matang. Kadar FSH relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas.

Pemeriksaan FSH kerap kali dilakukan bersama dengan pemeriksaan hormon lain yaitu luteinizing hormone untuk evaluasi infertilitas pada pria. Pengukuran kadar FSH berguna untuk menentukan penyebab jumlah sperma yang sedikit pada pria.

Sama seperti FSH, luteinizing hormone juga diproduksi oleh kelenjar pituitari dan kadarnya relatif konstan setelah masa remaja atau pubertas. LH pada pria akan merangsang tipe sel tertentu dalam testis untuk memproduksi testosteron.

Pemeriksaan FSH kerap kali dilakukan bersama dengan pemeriksaan hormon lain yaitu luteinizing hormone untuk evaluasi infertilitas pada pria. Pengukuran kadar LH berguna untuk diagnosis penyakit pituitasri atau penyakit terkait testis.

Prolaktin adalah hormon yang diproduksi oleh bagian depan dari kelenjar pituitari. Secara normal, prolaktin terdapat dalam jumlah yang sedikit pada pria dan wanita tidak hamil. Prolaktin memiliki peran utama pada proses laktasi.

Pemeriksaan prolaktin bersama dengan pemeriksaan hormon lain dapat digunakan untuk membantu diagnosis infertilitas dan disfungsi ereksi pada pria. Peningkatan kadar prolaktin pada pria dapat menyebabkan penurunan libido dan fungsi seksual secara bertahap.

Kadar prolaktin bervariasi dalam periode dua puluh empat jam, meningkat selama tidur dan mencapai puncak pada pagi hari. Secara ideal, sampel darah untuk pemeriksaan prolaktin sebaiknya diambil segera setelah bangun tidur di pagi hari dan beristirahat tenang selama 30 menit sebelumnya, atau sesuai dengan petunjuk dokter.

Free Testosteron Indeks (FTI) merupakan pemeriksaan yang direkomendasikan untuk menilai status androgen, yakni terdiri dari pemeriksaan testosteron total dan Sex Binding Globuline Hormone (SHBG).

Salah satu faktor infertilitas yang disebabkan oleh pria adalah terbentuknya antibodi terhadap sperma. Antibodi terhadap sperma merupakan fenomena autoimun, karena sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuhnya sendiri, yaitu sperma.

Antibodi ini dapat ditemukan dalam darah, plasma seminal maupun terikat pada permukaan sperma pada beberapa pria dengan penyakit testikular dan penyakit autoimun spermatogenesis.

Pemeriksaan infertilitas pada pria lebih mudah dan tidak menyakitkan, serta biayanya lebih terjangkau dibandingkan pada wanita. Oleh sebab itu, ketika satu pasutri mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.

Komentar