Tak Ada Lelaki Yang Sreg Bicara Mr P

Penulis:: Darmansyah

Senin, 8 Mei 2017 | 09:56 WIB

Dibaca: 1 kali

Siapa lelaki yang suka membahas tentang penis?

Menurut sebuah penelitian terbaru dari Inggris yang ditulis laman “mashable,” mayoritas lelaki tak suka kalau harus berbicara tentang Mr P itu.

“Masalah Mr P itu sudah dianggap sensitive,” tulis laman :mashable.”

Padahal sebenarnya ada begitu banyak fakta menarik tentang penis yang dapat diungkap.

Salah satunya adalah bentuk jamak penis dalam bahasa Inggris.

Ternyata, bentuk jamak dari penis dalam bahasa Inggris adalah “Penes”.

Anda tak menyangka bukan?

Mungkin sebagian dari Anda berpikir bahwa jamak penis dalam bahasa asing adalah penises. Anda salah.

Sebab, yang benar adalah “Penes”.

Menurut penelitian pada tahun delapan belas tahun silam dari University Hospital Groningen di Belanda, penis adalah bagian tubuh pria yang sangat fleksibel.

Hal ini ditemukan oleh peneliti lewat eksperimen pasangan bercinta dalam mesin MRI.

Peneliti menemukan saat pasangan bercinta dengan posisi missionary penis bisa fleksibel hingga lentur menyerupai bentuk alat permainan boomerang.

Sementara itu, majalah gaya hidup wanita, Cosmopolitan, pernah melaporkan bahwa saat ejakulasi penis bisa melepaskan sperma dengan kecepatan dua puluh delapan  mil per jam.

Lain lagi studi dari Kinsey Institute  yang merilis informasi bahwa penis yang berukuran kecil dan kenyal bisa menjadi panjang serta kencang ketika ereksi.

Berarti penis yang rata-rata berukuran kecil bisa membesar secara signifikan. Jadi, jangan terperdaya dengan ukuran  Mr P.

Sementara itu, banyak orangtua yang merasa risih atau tabu membicarakan kesehatan organ reproduksi, termasuk alat kelamin, kepada anak.

Ketika anak menanyakan tentang alat kelaminnya, orangtua biasanya akan menggunakan istilah lain untuk menamakan alat kelamin anak.

Pada anak laki-laki misalnya, penis disebut “burung”.

Akhirnya anak akan mengenal alat kelaminnya itu bernama burung.

Nama lain untuk alat kelamin mungkin dianggap orangtua agar lebih sopan untuk diucapkan, padahal tidak juga.

Ketika memberi tahu anak tentang alat kelamin, orangtua sebenarnya tak perlu memberikan istilah lain.

Sama halnya seperti organ tubuh lainnya, ketika mata disebut mata, hidung disebut hidung, telinga disebut telinga, dan lainnya.

Alat kelamin itu jangan dibeda-bedakan namanya. Bilang saja penis, bilang saja vagina. Jadi mereka enggak menganggap hal itu sesuatu yang tabu.

Ketika orangtua menyamarkan nama alat kelamin, anak akan merasa hal itu tabu untuk dibicarakan dengan orangtuanya.

Akibatnya, anak malah bertanya kepada temannya atau mencari di internet yang bisa memberikan informasi keliru.

Memberi tahu nama alat kelamin yang benar kepada anak merupakan bagian dari pendidikan seks sejak dini.

Orangtua mesti paham tahap perkembangan anak yang mungkin akan bertanya-tanya tentang keberadaan penis di tubuhnya, anak suka memegang penis, atau ada anak yang bertanya mengapa anak perempuan tidak memiliki penis.

Pendidikan seks pun diberikan bertahap sesuai dengan usia anak.

Mulai dari memperkenalkan alat kelamin, mengajari anak membersihkan alat kelaminnya agar bertanggung jawab dan belajar menghargai, hingga mengajari anak untuk menjaga organ reproduksinya itu.

Misalnya bilang, ‘Ini yang boleh pegang kamu sendiri ya atau nanti dokter kalau kamu sakit’

Contoh lain, misalnya, memberi tahu anak untuk tidak memegang ataupun memperlihatkan alat kelamin kepada teman-temannya.

Pendidikan seks sejak dini sangat penting agar anak bisa menjaga kesehatan organ reproduksinya dan tahu bagaimana menjaga organ intimnya dari orang lain.

Pendidikan seks sejak dini merupakan salah satu kunci untuk menghindari anak dari ancaman predator seksual.

Anak menjadi paham ketika ada orang yang melakukan pelecehan seksual.

Dengan begitu, anak juga tak ragu untuk menceritakan kepada orangtua ketika ada yang melakukan pelecehan seksual.

Komentar