Suka Cari Perhatian? Itu Perilaku Histrionik

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 10 November 2017 | 09:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Dalam hidup Anda, pasti Anda pernah menemui seseorang yang sangat senang cari perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Dia pun akan melakukan segala macam cara agar dirinya tetap menjadi pusat perhatian. Ternyata perilaku seperti ini bisa jadi salah satu bentuk penyimpangan.

Orang tersebut mungkin tidak menyadari bahwa dirinya mengidap suatu kelainan perilaku.

Kelainan perilaku yang mungkin diderita si pencari perhatian dikenal dalam dunia kesehatan mental dengan istilah histrionik.

Kelainan perilaku histrionik adalah sebuah gangguan kepribadian yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan memahami citra dirinya sendiri.

Penderita histrionik cenderung membutuhkan pengakuan dan pujian dari orang lain sebagai tolak ukur untuk menilai dirinya sendiri.

Akibatnya, orang tersebut jadi haus akan perhatian.

Dia pun akan melakukan berbagai cara agar keberadaan atau pengaruhnya diakui oleh orang lain, misalnya dengan bersikap dramatis atau berlebihan.

Para pakar psikologi sepakat bahwa kelainan perilaku histrionik bukanlah sebuah gangguan yang cukup serius atau berbahaya.

Penderita histrionik justru biasanya pandai bersosialisasi dan membangun relasi dengan orang baru.

Namun, pada beberapa kasus, penderita histrionik akut bisa mengalami depresi dan gangguan waham

Selain itu, berbagai komplikasi yang ditimbulkan kelainan perilaku histrionik misalnya dalam ranah sosial dan profesional akan membuat penderitanya kesulitan menjalani fungsi normal sehari-hari.

Sebaiknya penderita histrionik segera menemui psikolog atau psikiater untuk mencegah berkembangnya kelainan ini.

Selain cari perhatian, penderita kelainan perilaku histrionik juga akan menunjukkan gejala-gejala lainnya.

Jadi jika Anda atau orang yang Anda kenal memiliki tanda-tanda dan gejala berikut ini, jangan ragu untuk menghubungi tenaga kesehatan mental profesional.

Hingga saat ini, penyebab pasti kelainan perilaku histrionik pada seseorang belum ditemukan.

Akan tetapi, para peneliti mengamati bahwa gangguan kepribadian ini bisa muncul baik karena faktor biologis maupun karena faktor lingkungan.

Faktor biologis biasanya dipengaruhi oleh genetik. Jika dalam keluarga seseorang ada riwayat kelainan perilaku histrionik, dirinya pun jadi lebih berisiko menderita kelainan tersebut.

Sementara itu, peran lingkungan biasanya lebih mudah untuk diamati dalam munculnya kelainan perilaku histrionik.

Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh kelainan perilaku histrionik bisa dipelajari dan ditiru oleh seorang anak dari sosok yang membesarkannya seperti orang tua atau pengasuh.

Selain itu, anak juga bisa menunjukkan gejala-gejala histrionik jika tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tuanya, meskipun orang tuanya tidak menderita kelainan perilaku histrionik.

Hal ini akan jadi semakin parah jika orang tua atau pengasuhnya tidak bisa mendisiplinkan atau mengendalikan tingkah laku anak yang suka cari perhatian tersebut.

Kelainan perilaku histrionik sulit untuk disembuhkan karena biasanya si penderita akan menolak penyembuhan.

Dia tak akan mengakui dengan mudah bahwa dirinya mengidap sebuah kelainan perilaku, bukan sekadar suka cari perhatian.

Namun, biasanya semakin penderita histrionik beranjak dewasa, dia pun semakin bisa mengendalikan gejalanya.

Perawatan yang disarankan bagi orang dengan kelainan perilaku histrionik biasanya berupa psikoterapi.

Psikoterapi ini umumnya berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama sampai penderita histrionik bisa menilai dirinya sendiri tanpa pengakuan atau penegasan dari orang lain.

Jika orang dengan kelainan perilaku ini mengidap depresi atau kecemasan, biasanya psikolog akan merujuk pada psikiater yang akan meresepkan obat penenang atau antidepresan.

Komentar