Stres Pekerjaan Bisa Ganggu Ritme Hidup

Penulis: Darmansyah

Rabu, 21 Februari 2018 | 14:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebanyak delapan puluh persen dari hari-hari buruk yang dialami oleh banyak orang dipicu oleh stres terkait pekerjaan.

Memang, secara umum, bekerja keras adalah hal yang baik.

Bekerja keras bisa membantu Anda meningkatkan potensi diri serta mengejar jenjang karier yang lebih baik. Namun, bekerja terlalu keras sampai menimbulkan stres akibatnya bisa fatal.

Penelitian menunjukkan bahwa stres bisa menyebabkan kematian dini atau kematian yang mendadak.

Maka, sebaiknya jangan remehkan stres yang muncul saat bergelut dengan berbagai tekanan yang Anda hadapi di kantor.

Untuk Anda tahu, stres adalah sebuah kondisi yang bisa menghantui Anda perlahan-lahan, sehingga kadang Anda tidak menyadarinya.

Terutama saat berhadapan dengan pekerjaan, banyak orang menyepelekan atau tidak begitu memahami berbagai gejala yang menandakan munculnya stres.

Stres karena pekerjaan juga sering dikenal dengan sebutan job burnout.

Ada beberapa contoh gejala stres karena pekerjaan.

Selalu merasa kurang  meskipun sudah tidur cukup atau mengonsumsi minuman berkafein, kehilangan semangat dan dorongan untuk berangkat ke kantor dan bekerja dan muncul pikiran-pikiran negatif seputar kehidupan profesional Anda, misalnya soal apa yang Anda kerjakan, orang-orang dalam tim kerja Anda, atau hasil yang akan dicapai

Lainnya, gangguan kognitif seperti sulit berkonsetrasi atau mengingat dan kinerja yang menurun, misalnya tidak bisa memenuhi tenggat waktu atau target yang ingin dicapai

Timbul masalah pribadi dengan rekan kerja, klien, atasan, bahkan keluarga di rumah

Mengabaikan kesehatan dan perawatan diri, misalnya dengan cara merokok, terlalu banyak minum kopi, lupa makan, atau minum obat tidur setiap malam

Tidak bisa melepas pikiran dari pekerjaan Anda bahkan saat Anda sedang tidak bekerja atau di kantor

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University School of Medicine, stres pada manusia bisa mengakibatkan kematian mendadak karena ritme jantung yang tidak normal. Penelitian yang diterbitkan oleh American Heart Association dalam jurnal bertajuk Circulation ini mengungkapkan bahwa stres karena pekerjaan atau studi atau apa pun yang melibatkan kinerja dan prestasi seseorang bisa mengubah irama detak jantung manusia.

Aritmia atau gangguan irama jantung yang terjadi pada orang yang stres terjadi lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan daripada mereka yang mengalami aritmia karena alasan lain.

Tekanan mental ternyata sangat berpengaruh pada sirkuit jantung. Jika stres yang dialami terlalu berat, Anda bisa tiba-tiba mengalami serangan jantung yang bersifat fatal atau mematikan.

Penelitian lain oleh para ahli di Columbia University Medical Center juga mendukung hasil penemuan Yale University School of Medicine.

Dalam studi yang berlangsung selama enam tahun tersebut, diketahui bahwa mereka yang memiliki masalah jantung dan mengalami stres berat berisiko melalui ‘periode rentan’.

Periode ini adalah masa-masa di mana seseorang rentan mengalami kematian mendadak yang disebabkan oleh stres dan komplikasi pada jantung.

Biasanya periode yang rentan ini berlangsung kira-kira selama dua setengah tahun. Setelah melewati periode tersebut, penelitian yang melibatkan lima ribu peserta ini menyimpulkan bahwa risiko kematian dini atau kematian mendadak akan berangsur-angsur menurun.

Dampak dari stres karena pekerjaan sudah sering dibahas, misalnya kondisi kesehatan yang menurun.

Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh Indiana University Kelley School of Business baru-baru ini mengungkapkan fakta baru.

Stres berkepanjangan karena situasi pekerjaan bisa memotong harapan hidup alias mempercepat kematian seseorang.

Penelitian yang berlangsung selama tujuh tahun tersebut menemukan bahwa orang yang hanya memiliki sedikit (atau tidak ada sama sekali) kendali terhadap pekerjaan mereka cenderung lebih cepat meninggal daripada mereka yang lebih fleksibel dalam bekerja.

Ada dua faktor yang dipertimbangkan untuk mencapai kesimpulan tersebut.

Faktor pertama adalah besarnya tuntutan pekerjaan yang dihadapi peserta penelitian, antara lain seperti banyaknya pekerjaan, lamanya waktu bekerja, dan konsentrasi yang dibutuhkan. Faktor kedua adalah kendali atas pekerjaan mereka.

Kendali atas pekerjaan contohnya adalah keleluasaan untuk memutuskan sendiri work flow atau jadwal kerja yang paling sesuai, kebebasan untuk berpendapat, dan kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri.

Hasil dari penelitian tersebut cukup mengejutkan.

Mereka yang tuntutan kerjanya sangat tinggi dan tidak memiliki banyak kendali terhadap pekerjaannya menunjukkan angka kematian yang lima belas persen lebih cepat daripada orang-orang kebanyakan.

Sementara itu, mereka yang memiliki kendali penuh terhadap pekerjaannya memiliki harapan hidup tiga puluh empat persen lebih lama daripada mereka yang tidak memiliki kendali terhadap pekerjaannya.

Untuk menghindari stres karena pekerjaan, Anda harus benar-benar memahami sifat dan kebiasaan Anda sendiri.

Dengan mengenali kebiasaan kerja Anda, Anda pun akan lebih mahir dalam menyesuaikan diri terhadap tekanan dan masalah yang muncul.

Pastikan juga bahwa Anda benar-benar menyukai pekerjaan Anda. Dengan demikian, tantangan yang Anda hadapi akan terasa lebih ringan.

Namun, jika beberapa tanda stres sudah mulai dirasakan, bersegeralah menyempatkan waktu untuk menenangkan diri.

Mungkin Anda merasa sudah tidak punya waktu lagi, tetapi ingatlah bahwa memaksakan diri untuk bekerja di bawah tekanan juga tidak akan membuat Anda lebih produktif.

Lebih baik cari waktu sejenak untuk beristirahat dan melakukan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian seperti menghabiskan waktu bersama keluarga.

Saat melakukan ini, hindari dulu alat-alat elektronik Anda supaya tidak tambah stres dan terus teringat-ingat pada pekerjaan.

Komentar