Siapa Yang Tidak Takut Penuaan Dini

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 7 Juli 2015 | 18:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Penuaan dini? Ya, siapa yang tidak takut dengan dua kata itu. Terlebih wanita.

Anda pernah menghadiri t reuni dengan teman-teman semasa sekolah? Tentu terselip pembicaraan ketika menemukan seorang teman yang terlihat tua.

Yang lainnya, ada juga teman yang dari dulu begitu-begitu saja.

Ya juga ketika sebuah studi menemukan beberapa orang secara biologis memang lebih cepat tua. Mereka terlihat seperti orang di usia enam puluhan sementara yang lain masih terlihat berusia dua puluhan.

Hal itu bukan saja terlihat dari hasil pemeriksaan medis. Ketika mahasiswa diperlihatkan gambar beberapa sukarelawan dari penelitian itu, mereka dengan benar menunjuk orang-orang yang menua lebih cepat.

“Beberapa orang dalam peneitian cohort kami sama sekali tidak mengalami penuaan fisiologis,” kata Daniel Belsky dari Center for the Study of Aging and Human Development, Duke University yang memimpin penelitian tersebut.

“Dalam tubuh mereka terlihat sama, dua belas tahun tidak mengubah apa pun. Di sisi yang ekstrim yang lain, ada orang-orang yang menua dua sampai tiga kali lebih cepat,” imbuhnya.

Untuk penelitian tersebut, Belsky dan rekan-rekannya menggunakan data ratusan berpartisipan. Mereka diamati dalam studi medis sejak dilahirkan di rumah sakit. “Mereka diikuti dengan interval teratur sejak dilahirkan,” katanya.

Tim penelitian tersebut mengukur delapan belas hal yang terkait dengan penuaan.
“Kami menggunakan ukuran medis pada paru-paru, ginjal, hati, jantung, sistem kekebalan tubuh dan integritas DNA mereka,” ujarnya.

“Kami mengukur tekanan darah mereka, tinggi badan, berat badan dan lingkar pinggang,” tambahnya.
Peneliti juga menguji fungsi paru-paru dan membuat mereka latihan naik sepeda untuk menguji kebugaran.

Peneliti pun mengukur IQ dan membandingkan skornya dengan tes semasa anak-anak dan menanyakan apakah mereka kesulitan naik tangga sambil membawa barang belanjaan keperluan sehari-hari.

Beberapa dari sukarelawan berusia 38 terlihat berusia rata-rata, tetapi ada juga terlihat seperti berusia dua puluh enam.

Namun, beberapa terlihat lebih tua dalam tes tersebut. “Mereka memiliki tekanan darah lebih tinggi, kolesterol lebih tinggi, kadar peradangan lebih tinggi, sistem kekebalan terbebani. Mereka tidak bernapas dengan lega. Dan mereka kelebihan berat badan serta memiliki problem metabolik,” tutur Belsky.

Skor mereka terlihat seperti orang berusia lima puluh dan enam puluhan. Demikian yang dilaporkan tim penelitian itu pada proceeding National Academy of Sciences.

Dalam penelitian tersebut para sukarelawan juga menjalani tes fungsi fisik. Tes itu di antaranya meliputi uji keseimbangan, koordinasi, kekuatan, naik tangga.

“Sukarelawan yang tampak menua fungsi fisiologinya kurang bagus pula fungsi fisiknya. Mereka berusia tiga puluh delapan tetapi sudah mengalami masalah dalam keseimbangan, koordinasi dan kekuatan,” kata Belsky.

Tes intelegensi juga menampakkan penuaan. “Kita tahu ketika bertambah usia, kita jadi kurang cerdas.

Kami melihat sampai usia tiga puluh delapan, peserta penelitian yang fungsi fisiologisnya menua lebih cepat menampakkan tanda-tanda penurunan fungsi kognitif,” tuturnya.

Hal yang paling menarik perhatian adalah penuaan yang terlihat pada wajah. Tim tersebut menunjukkan foto-foto beresolusi tinggi kepada mahasiswa Duke yang tidak tahu mengenai penelitian tersebut atau juga tak tahu orang yang difoto berusia 38 tahun. Para mahasiswa diminta menebak usia orang-orang di foto tersebut.

“Para mahasiswa menebak peserta penelitan yang menua lebih cepat terlihat lebih tua,” kata Belsky.
Ia menyebut hal ini efek reuni ke-dua puluh.

“Bila Anda ingin diyakinkan bahwa penuaan terjadi dengan kecepatan berbeda pada orang dewasa muda, pergilah ke reuni SMA ke-dua puluh dan melihat ke sekitar,” katanya.

Hal yang belum dapat dikatakan peneliti adalah apakah mereka yang terlihat lebih tua akan meninggal lebih dahulu, atau apakah mereka bisa mengubah proses penuaan itu dengan perubahan gaya hidup. Mereka tidak memberi tahu masing-masing peserta penelitian bagaimana skor mereka, karena belum yakin akan maknanya.

Tim tersebut akan melanjutkan mengamati para sukarelawan Selandia Baru tersebut dan akan melakukan tes lagi ketika mereka berusia empat puluh lima.

Komentar