“Selera” Lelaki Stress Itu Wanita “Berisi”

Penulis:: Darmansyah

Senin, 21 November 2016 | 09:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “daily mail” datang dengan sebuah tulisan menarik, sedikit menggelikan dan dihasilkan dari sebuah penelitian “berbau” ilmiah.

Isi tulisan itu menyangkut tentang selera lelaki dengan  kadar stres tinggi yang lebih tertarik pada wanita berbadan besar.

“Mereka lebih tertarik pada model berukuran plus seperti Ashley Graham dibandingkan wanita kurus seperti Rosie Huntington-Whiteley,” tulis “daily mail” Senin, 21 November 2016.

Ditulis, para ahli mempercayai ini.

Penyebabnya?

Wanita kurus cenderung lebih rapuh dan menunjukkan ketidakmampuan untuk bereproduksi.

Riset baru ini merupakan yang pertama membuktikan stres dapat mengubah persepsi kita tentang siapa yang lebih menarik hanya dalam hitungan hari.

Studi ini dilaksanakan oleh University of St Andrews, Skotlandia. Mereka menemukan preferensi terhadap wanita berubah bergantung lingkungan yang dialami.

Peserta penelitian yang berusia pertengahan dua puluhan ditunjukkan wajah lima wanita dan diminta pendapatnya mana yang paling menarik.

Wajah-wajah dari komputer ini bervariasi dalam berat badan. Setiap peserta diminta menilai wajah dalam tiga waktu berbeda dalam interval sekitar tiga hari di antara setiap sesi.

Pria yang mengalami sepuluh hari training intensif dalam kamp tentara menemukan wanita kuat dan lebih maskulin yang paling menarik.

Mereka juga melaporkan kadar stres lebih tinggi, ketegangan fisik, tekanan mental, nyeri dan berada jauh dari zona nyaman.

Mereka yang tidak stres memilih wanita lebih kurus. Selera ini tidak berubah selama periode yang sama.

Pemimpin penelitian Dr. Carlota Batres dari University St Andrews mengatakan,”Perubahan preferensi seperti itu mungkin bermanfaat, karena mereka diberi kesempatan lebih banyak untuk membentuk kemitraan dengan mereka yang lebih siap bertahan melawan penyakit atau ketersediaan makanan yang tak menentu.”

“Ini akan sangat berharga bahwa kita mengubah jenis orang yang kita sukai di kala stres dan kita mengidentifikasi fenomena itu hanya dalam tiga hari adalah sangat menarik,” katanya.

“Lingkungan yang berat sangatlah ringan dibandingkan dengan seseorang yang tiba-tiba mengalami kemiskinan parah, misalnya, ketika kita mengharapkan perubahan jadi lebih dramatis.”

“ Ini membuktikan siapa yang kita anggap menarik amat sensitif terhadap lingkungan di sekitar kita,” katanya.

Penemuan penelitian ini diterbitkan di Journal Ethology. Penelitian ini mendukung teori evolusi bahwa fisik wanita kurus menandakan adanya penyakit.

Prof.David Perrett yang juga terlibat dalam penelitian mengatakan,”Studi-studi sebelumnya menemukan bahwa populasi yang hidup di daerah sulit cenderung memilih wanita yang lebih berbobot.”

“Tetapi belum ada bukti perubahan lingkungan mengubah preferensi seseorang pula. Tampaknya ketika kita kesulitan, wanita yang terlihat tangguh jadi lebih menarik.”

Pada tulisan yang sama, “daily mail,” juga mengungkapkan tentang seorang wanita akan merasa stres jika berada jauh atau terkucil dari kelompoknya.

Penelitian terhadap tikus membuktikan hal tersebut. Tim peneliti dari Universitas Calgary menguji level stres pada tikus jantan dan betina. Tikus-tikus yang sejak lahir sudah hidup dipisah sesuai jenis kelaminnya kemudian ada yang diisolasi dari kelompoknya.

“Banyak spesies, termasuk manusia, menggunakan interaksi sosial untuk mengurangi efek stres. Faktanya, hilangnya ikatan sosial juga membuat stres,” kata Dr.Jaideep Bains, ketua peneliti.

Dalam penelitian pada tikus itu diketahui bahwa wanita muda lebih sensitif pada stres sosial dibanding kan pada laki-laki.

“Ini berarti ikatan sosial lebih penting bagi perempuan. Mereka juga lebih sensitif jika ditinggalkan kelompoknya,” katanya.

Juga diungkapkan stress bisa memperparah nyerii lambung atau sering disebut maag

Ketenangan batin memang berkaitan erat dengan masalah pencernaan. Penelitian-penelitian juga menyebutkan ada “komunikasi silang” antara pencernaan dengan otak.

Stres sendiri memiliki efek tidak langsung pada kesehatan pencernaan, ditambah juga dengan kurang tidur dan pola makan yang buruk.

Penelitian yang dilakukan analisis konsumen Mintel menemukan, delapan puluh delapan  persen wanita menderita penyakit gangguan pencernaan dalam satu tahun terakhir, sedangkan pada pria angkanya sekitar delapan puluh tiga persen.

Sakit perut atau nyeri lambung itu jarang disebabkan karena intoleransi makanan, infeksi atau virus. Hampir 30 persen orang dewasa yang mengalami nyari lambung menyalahkan stres. Di urutan kedua adalah pola makan yang buruk, kemudian kurang tidur.

Virus menjadi penyebab empat belas persen keluhan perut, selain juga konsumsi alkohol.

Perempuan memang lebih sering mengalami stres berat dan juga kecemasan, dibandingkan dengan pria.

Menurut Dr.Bernard Corfe, peneliti bidang molekular gastroenterologi, stres memang jadi pemicu gangguan pada saluran cerna.

Namun, stres juga menyebabkan perubahan pola makan dan pola tidur, yang akhirnya juga memengaruhi fungsi usus.

Menurut Jack Duckett, analis senior dari Mintel, gangguan perut pada wanita bisa terkait dengan siklus menstruasi.

“Tapi bisa juga karena wanita adalah pengasuh utama anak sehingga mereka gampang tertular kuman yang mungkin dibawa anak,” katanya.

Komentar