Sedih, Bahagia dan Lantas Kematian

Penulis:: Darmansyah

Senin, 14 Desember 2015 | 09:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Penelitian sangat kontradiktif kini terjadi di antara para ilmuwan mengenai hubungan kesedihan, kebahagiaan dan kematian.

Para ilmuwan, berdasarkan penelitian di Inggris dan Australia, gagal menjelaskan kausalitas terbalik di antara ketiganya.

“Penyakit tidak membuat Anda bahagia, tapi ketidakbahagiaan itu sendiri tidak membuat Anda sakit,” ujar Dr Bette Liu, salah seorang peneliti di University of New South Wales di Australia.

Dikutip BBC, Senin, 14 Desember 2015, serangkaian studi menunjukkan bahwa kebahagiaan seseorang bisa menunjukkan seberapa lama mereka akan hidup.

Ini terkait dengan hormon stres dan lemahnya kekebalan tubuh yang bisa meningkatkan risiko kematian.

Kerap didengar dan bahkan ada penelitian yang menyebut sedih bisa menyebabkan seseorang sakit dan kemudian meninggal di usia dini.

Namun penelitian terbaru menyatakan sebaliknya.

Dalam analisis yang dilakukan selama satu dekade dan diterbitkan di jurnal Lancet ini menyebut penelitian sebelumnya bingung antara sebab dan akibatnya.

Meskipun memang para ahli berpendapat ketidakbahagiaan di masa kecil kemungkinan memiliki dampak panjang.

Dalam penelitian selama sepuluh tahun, peneliti mengklaim tidak menemukan efek langsung ketidakbahagiaan atau stres dengan kematian pada satu juta perempuan.

Prof Sir Richard Peto dari University of Oxford yang juga terlibat dalam penelitian menuturkan perokok ringan memiliki risiko kematian dini dua kali lipat.

Sedangkan perokok reguler memiliki risiko kematian dini tiga kali lipat. Namun kebahagiaan tidak relevan dalam kasus ini.

Ketidakbahagiaan bisa saja menjadi penyebab tidak langsung kematian dini, jika hal itu diikuti dengan gaya hidup mulai mengonsumsi alkohol dalam jumlah banyak atau jika menjadi makan berlebihan.

Namun dampak secara langsungnya pada kematian, kembali ditekankan peneliti: tidak ditemukan.

Dr Philipe de Souto Barreto dan Profesor Yves Rolland dari University Hospital of Toulouse di Prancis, mengatakan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

“Karena kebahagiaan di periode kritis, misalnya masa kanak-kanak, bisa memiliki konsekuensi penting pada kesehatan di masa dewasa,” ujarnya.

Kehilangan orang yang dicintai tentu membuat ketidakbahagiaan.

Tapi, sebuah penelitian dari St George University of London di Inggris, menunjukkan bahwa rasa kehilangan bisa menjadi lebih dari sekadar kesedihan.

Risiko stroke atau serangan jantung akan meningkat dua kali lipat, tiga puluh hari setelah kematian pasangan.

Penelitian ini pernah diterbitkan oleh Journal of American Medical Association Maret 2014.

Para peneliti mencatat bahwa, kadang-kadang, kesedihan dapat menyebabkan stres fisik tambahan dan juga bisa membuat orang kehilangan minat untuk makan atau lupa untuk minum obat.

Untuk menyelidiki kematian sebagai faktor risiko masalah jantung, tim peneliti menilai tingkat stroke atau serangan jantung pada pasien di atas usia enam puluhan yang pasangannya meninggal, kemudian dibandingkan dengan yang individu yang pasangannya masih hidup.

Dr Sunil Shah, penulis dan dosen senior di St George University of London, mengatakan, “Kita sering menggunakan istilah patah hati untuk menyebut rasa sakit akibat kehilangan orang yang kita cintai dan penelitian kami menunjukkan bahwa, rasa kehilangan dapat memiliki efek langsung pada kesehatan jantung.”

Telah ada bukti dari studi sebelumnya yang menunjukkan, kehilangan pasangan dan kesedihan dapat menyebabkan perubahan dalam pembekuan darah, tekanan darah dan kontrol detak jantung, kata Dr Shah.

“Selain itu, kami juga menemukan dalam studi lain, dalam beberapa bulan pertama setelah kematian, orang mungkin tidak konsisten minum obat rutin mereka, seperti obat penurun Kolesterol atau aspirin,” tambahnya.

Semua hal ini berkontribusi terhadap risiko serangan jantung atau kekambuhan penyakit kardiovaskular.

Dr Iain Carey, peneliti senior di universitas yang sama mengatakan, “Kami melihat peningkatan kejadian serangan jantung atau risiko stroke dalam waktu satu bulan setelah pasangan seseorang meninggal.

Nampaknya, ini adalah hasil dari respon fisiologis yang buruk terkait kesedihan yang akut.”

Dia juga menambahkan, “Pemahaman yang lebih baik dari faktor psikologis dan sosial terkait kejadian kardiovaskular akut, harus bisa mendorong kita mengupayakan pencegahan dan perawatan klinis yang lebih baik untuk orangtua kita yang sedang terguncang karena kehilangan pasangannya. ”

Penelitian lain juga melaporkan, kesepian dapat meningkatkan angka kematian dini pada orang tua.

Penelitian ini mengungkapkan, bahwa kesepian ekstrim hampir setara dengan status sosial ekonomi yang kurang beruntung dalam hal menjadi faktor risiko untuk kematian dini.

Peneliti juga menceritakan tentang sebuah penelitian lain yang menunjukkan, bahwa kematian orang yang dicintai di masa kecil akan memengaruhi kesehatan mental orang yang bersangkutan ketika dia dewasa.

Komentar