Sains Jelaskan Pasangan Hidup Langgeng

Penulis: Darmansyah

Rabu, 14 Februari 2018 | 08:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Otak memiliki peran penting saat kita dilanda jatuh cinta. Dan sains menemukan  hal menarik pada pasangan yang langgeng sampai usia senja.

Memang, dengan tanpa  disadari, kita memiliki perasaan khusus pada orang lain dan selalu ingin mendampinginya.

Ini adalah perasaan normal yang sebenarnya dituntun oleh otak.

Ya, seperti ditulis laman “usa today,” hari ini, Rabu, 14 Februari, otak juga berperan dalam menangani cinta.

Saat kita sedang jatuh cinta, sebenarnya otak sedang dibanjiri oleh bahan kimia yang membuat kita merasa bahagia yang disebut dopamin.

Hal ini dibuktikan oleh Antropolog Biologi, Helen Fisher, yang memindai 100 otak orang saat sedang jatuh cinta.

Ia menemukan, saat manusia sedang jatuh cinta maka ada bagian otak yang melepaskan dopamin, zat kimia yang memicu perasaan bahagia, rasa percaya diri, dan juga motivasi.

“Saya telah lama berpikir bahwa cinta adalah emosi atau serangkaian emosi.”

“ Rupanya ini memang dorongan yang berkembang jutaan tahun lalu untuk terus bersama dengan satu orang di waktu yang lama,” kata Fisher yang berafiliasi dengan Rutgers University, New Jersey menjelaskan meski seks berhubungan dengan cinta, namun kedua hal tersebut berbeda.

Ada orang yang jatuh cinta terlebih dahulu kemudian muncul keinginan seksual, ada yang berhubungan seksual kemudian memiliki ikatan emosi, ada pula yang berhubungan seksual tanpa cinta sama sekali.

Ia berkata bahwa saat orang sedang jatuh cinta mereka sebenarnya masih dapat melihat kekurangan dari pasangan, tapi otak mengabaikannya.

Cinta mematikan bagian otak di belakang dahi yang disebut korteks prefontal. Bagian ini terlibat dalam pemikiran kritis dan pengambilan keputusan.

Nah, saat kita berfokus pada orang lain maka akan terjadi aktivasi ekstra dopamin.

Meski demikian, penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog klinis dari Chicago, Mona Fishbane, justru menemukan bahwa gairah cinta hanya dapat bertahan selama satu sampai dua tahun. Hal ini pun disetujui oleh ahli lain.

Lalu bagaimana dengan kakek nenek yang selalu bersama hingga di usia senja mereka?

Fisher mengatakan pada pasangan yang berpuluh tahun terus bersama memiliki pola aktivasi otak yang menarik.

Pemindaian otak menunjukkan bahwa mereka sangat berempati, mampu mengendalikan stres dan emosi, serta mampu mengabaikan hal negatif dan fokus pada hal yang positif.

“Jika Anda juga ingin memiliki hubungan awet hingga berpuluh tahun, Anda memerlukan sikap empati, menonjolkan yang positif, dan bisa mengendalikan stres,” kata Fisher.

Sedangkan untuk memicu sistem otak untuk terus jatuh cinta, Fisher menyarankan pasangan untuk melakukan hal baru bersama, seperti pergi ke tempat baru, liburan, dan melakukan aktivitas yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Hal ini dapat memicu melepaskan dopamin dan membantu mempertahankan hubungan yang romantis.

Selain itu, sentuhan fisik juga dapat memicu melepaskan oksitosin yang menyebabkan tumbuhnya ikatan.

“Pertahankan perasaan cinta, pertahankan perasaan tertarik, pertahankan pikiran positif, kendalikan emosi diri sendiri, berempati, dan katakan hal-hal baik kepada pasangan. Itulah yang diminta otak Anda,” katanya.

Fishbane yang fokus meneliti hubungan yang langgeng mengungkapkan bahwa ada neurobiologi berbeda di sistem otak pasangan yang langgeng sampai tua.

Saat salah satu pasangan sedang memberikan kritik keras yang dapat memicu respon fight or flight, yakni reaksi fisiologis maupun psikologis apabila seseorang menghadapi bahaya yang mengancam dirinya, maka hormon stres membanjiri Amigdala  atau bagian otak yang berperan melakukan pengolahan terhadap reaksi emosi seperti rasa takut.

“Bila hal seperti itu terjadi pada pasangan, mungkin setelah itu akan muncul rasa canggung karena tidak tahu apa yang diinginkan dan tidak tahu bagaimana kembali membuat senang pasangannya. Maka strategi yang dilakukan adalah menarik diri atau mundur dari hubungan,” kata Fishbane.

“Saat amigdala diaktifkan, maka akan mematikan daerah otak yang dapat merenung dan bijaksana. Sehingga akan jauh lebih mudah tersulut emosi daripada menenangkan diri,” sambungnya.

Dari hal tersebut, Fishbane berkata kunci untuk mempertahankan hubungan agar langgeng adalah menonaktifkan emosi tersebut.

Dibanding mengkritik pasangan, dia menyarankan lebih baik menanyakan apa yang salah dan berkata jujur kepada pasangan.

“Begitu mereka memecahkan masalah yang membuat stres tinggi, pasangan bisa kembali menjadi penyayang dan berempati lagi,” kata Fishbane.

Selain itu sain juga mengungkapkan,  adanya rasa takut hidup sendiri t setelah putus dengan pasangan.

Rasa takut itu merupakan tanda bahwa hubungan yang Anda miliki tidak sehat, kata Asisten profesor Fakultas Psikologi di Universitas Negeri Wayne di Detroit,  Stephanie Spielmann

Spielmann meneliti sejumlah orang dewasa di Amerika Utara dan Kanada yang rata-rata berusia tiga puluh tahun, berasal dari kalangan sarjana, dan masyarakat umum.

Hasil surveinya cukup mengejutkan. “Saat perasaan takut hidup melajang menguat dan tidak terkontrol, besar kemungkinan seseorang akan rela menjalani hubungan kembali, meskipun tidak ada lagi rasa cinta terhadap pasangannya,” kata Spielmann.

“Sekarang kita mengerti bahwa kecemasan seseorang menjadi lajang tampaknya memainkan peran kunci dalam hubungan tidak sehat,” tambahnya.

Tragisnya, dunia internet dengan menawarkan kencan secara online akan memperburuk kondisi seseorang yang memiliki ketakutan tersebut.

“Bagi mereka yang rasa takutnya besar, cenderung tertarik menggunakan berbagai media atau pilihan online untuk bertemu dengan pacar baru atau melacak mantan mereka,” kata Spielmann.

“Risiko yang mungkin terjadi adalah hubungan baru akan berakhir lebih buruk atau hubungan yang kualitasnya lebih rendah,” katanya dikutip dari Thestar

Kondisi seseorang yang merasa takut untuk hidup sendiri tanpa pasangan selama hidupnya disebut “anupthaphobia”.

Menurut Geoff MacDonald dari profesor di Fakultas Psikologi, Universitas Toronto, masalah psikologis tersebut bisa terjadi baik pada pria dan wanita.

“Kami menemukan bahwa pria dan wanita memiliki kekhawatiran yang sama tentang menjadi lajang dan memiliki pola menghadapi rasa itu yang serupa. Ini membantah anggapan bahwa hanya wanita saja yang takut menjadi lajang,” kata Macdonald, dikutip news.artsci.utoronto.ca.

Spielmann menganjurkan untuk tidak terlalu takut dan cemas. Buang pikiran bahwa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga dan tuntutan harus menikah.

“Cobalah fokus saat mengambil keputusan terbaik untuk kebahagiaan Anda sendiri,” katanya.

Komentar