Saat Otak Mencapai Kemampuan Puncak

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 3 Agustus 2017 | 09:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang tidak menginginkan  ingatannya tetap tajam sampai  tua?

Namun begitu, apakah Anda tahu  bahwa ingatan kita justru mencapai puncak di usia muda?

Ya, berdasarkan  penelitian terbaru yang diterbitkan di Jurnal Sage, hari ini, Kamis, 03 Agustus, kekuatan otak dalam memproses dan puncak ingatan terjadi saat kita berusia delapan belas tahun.

Untuk mengetahui puncak pada fungsi otak yang berbeda, tim peneliti bertanya pada ribuan orang yang berusia sepuluh hingga sembilan puluh tahun.

Tes tersebut mencakup kemampuan untuk mengingat daftar kata-kata, mengenali wajah, mempelajari nama dan kemampuan matematika.

Dalam beberapa aspek otak Anda mungkin telah melewati puncaknya, namun para ilmuwan menemukan bahwa selalu ada puncak baru.

Kosa kata, misalnya, mencapai puncaknya di usia 67, sedangkan kemampuan matematika Anda mencapai puncaknya pada usia 50.

Salah satu peneliti dari The Massachusetts Institute of Technology  atau MIT, Joshua Hartshorne, mengatakan kepada Business Insider: “Hampir pada usia tertentu, kebanyakan dari kita semakin baik dalam beberapa hal dan lebih buruk pada orang lain.”

Joshua menambahkan mungkin tidak ada usia khusus kemampuan otak kita berada di posisi terbaik dalam semua hal.

Ya  kita  sering menganggap kemampuan otak bisa  melebihi dari apa yang kita maui.

Untuk itulah  banyak orang yang  berusia paruh baya mulai memperhatikan perbaikan untuk mecegah penurunan daya ingat.

Ini karena penyakit demensia merupakan momok bagi orang yang ingin hidup sehat sampai tua.

Meskipun tidak ada jaminan kita bisa mencegah ingatan yang hilang, peneliti menemukan bagaimana cara kerja otak dan tetap sehat. Ini adalah lima langkah sederhana yang bisa Anda lakukan:

Pilih sayuran, ikan, telur, minyak kelapa dan buah-buah.

Batasi daging merah, gula dan alkohol.

Hindari makanan olahan dan kemasan sebisa mungkin.

Makanan yang sehat juga akan mengurangi resiko diabetes tipe 2, yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer.

Penelitian menunjukkan, membuat jurnal makanan adalah cara terbaik untuk peduli dengan apa yang Anda makan.

Anda bisa menggunakan pensil dan kertas atau di ponsel untuk mencatat daftar makan makanan yang boleh dan tidak.

Semua olahraga memiliki manfaat. Jika Anda belum mulai bisa berolahraga, mulailah dengan berjalan kaki.

Usahakan agar berolahraga selama tiga puluh menit selama lima hari dalam sepekan, kemudian secara bertahap tingkatkan intensitasnya.

Konsultasi dengan dokter Anda sebelum mengikuti program latihan olahraga yang lebih intens.

Sebagian orang menginstal aplikasi untuk menghitung langkah berjalan atau berlari serta kalori yang dibakar setiap harinya. Ini juga efektif membuat kita selalu aktif bergerak.

Tetap menjalin hubungan komunikasi, baik secara online atau tatap muka bagus untuk otak.

Mereka yang memiliki jejaring sosial kuat juga risikonya mengalami demensia lebih rendah. Cara lainnya adalah mengikuti komunitas, baik grup hobi atau menjadi relawan kegiatan sosial.

Hubungan sosial juga menjaga agar tidak gelisah, stres dan depresi yang berdampak negatif terhadap fungsi otak.

Orang sering lupa tentang pentingnya tidur. Ketika Anda tidur, otak Anda akan kembali jernih dan segar.

Penelitian menunjukkan tidur 7 hingga 9 jam setiap hari memiliki dampak positif bagi otak Anda.

Petuah tua menyebut “gunakan atau kehilangan”.

Ini berlaku untuk otak. Bila Anda rajin menggunakannya untuk mengingat dan fungsi kognitif lainnya, penurunan fungsinya bisa dicegah.

Bekerja, menjadi relawan, membaca, bermain puzzle dan belajar hal baru adalah cara terbaik menjaga otak Anda sehat dan aktif.

Selain itu Anda juga harus menghindari stress. Karena stress membuat otak lebih tua beberapa tahun.

Tiap orang memiliki tingkat stres berbeda-beda.

 

Yang perlu diwaspadai adalah stres besar yang dialami saat kita berusia muda, misalnya saja perceraian, kematian, atau bahkan pindah sekolah, karena dapat mempengaruhi fungsi kognitif di kemudian hari.

Tim dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health meneliti data dari ribuan  orang yang melaporkan mengalami stres selama masa hidup mereka dan menjalani tes neuropsikologis untuk mengukur kemampuan berpikir dan ingatan mereka.

Peserta rata-rata berusia lima puluh delapan tahun dengan tingkat stress tinggi seperti kehilangan pekerjaan, kematian anak, perceraian, atau tumbuh dengan orangtua pemabuk dan pengguna narkoba.

Tes tersebut meneliti beberapa area, antara lain ingatan langsung, pembelajaran verbal dan ingatan, pembelajaran visual dan ingatan, serta kemampuan menceritakan kembali.

Hasilnya menunjukkan bahwa stres berat berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk di kemudian hari. Studi ini dipresentasikan di Alzheimer’s Association International Conference di London.

Dr. Maria Carrillo, kepala peneliti Alzheimer’s Association, mengatakan peristiwa-peristiwa stres yang dipusatkan para peneliti sangat beragam, mulai dari kematian orangtua, pelecehan, kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kemiskinan, tinggal di lingkungan yang kurang beruntung, hingga perceraian.

Ketika melihat secara khusus orang Afrika Amerika, ternyata mereka mengalami 60 persen kejadian yang lebih berat daripada orang Kaukasia selama masa hidup mereka.

Peneliti mengatakan, pada orang Afrika-Amerika, setiap pengalaman stres setara dengan kira-kira empat tahun penuaan kognitif. Dengan kata lain, penuaan di otak terjadi lebih cepat dari seharusnya.

Dr. Doug Brown, peneliti bidang Alzheimer mengatakan, kecemasan dan depresi juga dianggap berkontribusi terhadap risiko demensia.

Stres dalam jangka panjang memicu efek inflamasi atau peradangan pada sel-sel tubuh. Kondisi ini dianggap mempercepat timbulnya demensia.

Para ahli percaya  bahwa gaya hidup dan pola makan sehat dapat membantu mengurangi risiko ini, bahkan bagi orang-orang yang mengalami peristiwa stres.

Komentar