Rumah “Origami” untuk Korban Tsunami

Penulis: Darmansyah

Kamis, 22 Mei 2014 | 15:05 WIB

Dibaca: 3 kali

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh 2004 dan Jepang pada 2011 lalu menyisakan duka bagi ratusan ribu penduduk Jepang. Sebagian besar dari mereka terpaksa meninggalkan atau malah kehilangan rumahnya.

Seperti dikutip dari situs “fastcoexist.com,” para korban bencana itu kemudian bermukim di “rumah-rumah boks” buatan pemerintah. Sayangnya, rumah tersebut tidak banyak membantu.

Interiornya yang gelap berefek negatif bagi kondisi psikologis korban. Tak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi korban bunuh diri.

Melihat kenyataan itu, sekelompok mahasiswa arsitektur dari Tokyo mengajukan diri sebagai relawan untuk mencari jalan keluar yang lebih baik.

Bersama dengan para arsitek dari Architecture Global Aid, mereka membuat rumah-rumah sementara yang terinspirasi dari seni melipat kertas khas Jepang, origami. Rumah-rumah itu menawarkan perlindungan sementara, tetapi tetap memberikan privasi bagi penduduk di lokasi bencana.

Rumah-rumah tersebut juga bisa dibongkar dan “dibangun” menjadi ruangan berukuran kecil dalam waktu singkat. Jika tidak digunakan sebagai tempat perlindungan, rumah-rumah sederhana itu bisa digunakan sebagai meja.

“Sebuah pelajaran yang sangat penting kami pelajari pada bulan-bulan setelah tsunami adalah, dalam bencana, kebutuhan dasar manusia setelah makan dan minum berhubungan dengan privasi dan keintiman,” ujar para arsitek Architecture Global Aid mengenai proyek ini.

Architecture Global Aid sebelumnya sudah membuat hunian sementara bagi daerah rawan gempa di Spanyol. Bedanya, karena Spanyol tidak berpotensi terkena tsunami, maka Architecture Global Aid membuat rumah-rumah sementara dengan karton tebal. Hunian sementara itu bisa dibangun dalam tiga menit dan disimpan dalam boks ketika tidak digunakan.

Saat ini, prototipe rumah-rumah sementara versi kayu tersebut sudah tersedia di beberapa sekolah di Tokyo dan beberapa lokasi di utara Jepang. Meski mudah disebarkan dan disimpan, rumah-rumah sementara ini tentu saja tak bisa digunakan secara permanen.

Konstruksi sederhana itu hanya bisa menawarkan tempat bernaung sementara tanpa sistem ledeng, listrik, dan keperluan lainnya.

Selain rumah origami, desain rumah kubah, seperti yang digambarkan kontributor CNBC Linda Federico-O’Murchu, sebagai sesuatu “sederhana tetapi cara cerdik”, sangat menguntungkan bai pemilik rumah dalam menhadapi bencana alam, seperti badai, gempa bumi, dan tsunami.

Florida “Hurricane Alley”, misalnya, adalah contoh rumah berkonsep kubah. Saking lengkapnya dipersiapkan menahan bencana, rumah ini dijuluki “The Super Dome”.

“Bentuk seimbang dari model kubah benar-benar kokoh dan kuat untuk menahan kekuatan tornado EF5, badai raksasa, atau gempa besar,” tulis Federico-O’Murchu.

“Dome yang terbuat dari beton dapat membelokkan runtuhan bangunan dan puing-puing terbang, bahkan pohon udara dan mobil. Plus, atap tidak akan hancur berantakan,” katanya.

Sementara itu pemenang Pritzker Prize 2014, Shigeru Ban, juga telah memperkenal bangunan rumah sederhana korban bencana Topan Haiyan yang terjadi tahun lalu.
Bagaimana bentuk hunian sementara tersebut?

Hunian sementara yang dibangun oleh Ban bernama “Paper Log House”. Hunian-hunian ini sengaja didesain sederhana agar bisa dibangun dalam waktu singkat.

“Paper Log House” tidak hanya dibangun di Filipina. Sebelumnya, Ban sudah membangun hunian sementara di India dan Turki. Namun, proyek yang telah dibuat sebelumnya, menggunakan sistem berbeda, dan memakan banyak waktu.

Untuk hunian-hunian sementara di Filipina, Ban menggunakan sistem partisi kertas hasil pengembangannya sendiri. Dia mengembangkan sistem tersebut agar bisa digunakan sebagai partisi di pusat evakuasi berupa bangsal-bangsal besar. Tentu saja, sistem yang digunakan di Filipina sudah melalui penyesuaian.

“Paper Log House” yang ada di Filipina dibangun dengan menggunakan rentetan krat soda plastik sebagai dasar bangunan. Krat-krat tersebut diberikan pemberat berupa kantung-kantung pasir. Di atasnya, Ban dan tim menggunakan sabut kelapa serta tripleks sebagai lantai hunian.

Sementara itu, dinding eksterior tiap bangunan dibuat dari anyaman bambu siap pakai. Untuk atapnya, Ban menggunakan nipah palem yang diletakkan di atas lembaran plastik sebagai atap. Mudah, murah, dan cepat waktu pengerjaannya. Bisa dicontoh dan diterapkan di daerah bencana wilayah Indonesia.

sumber : designboom.com , huffintospost dan fastcoexist.com

Komentar