Rumah Minimalis Itu Ternyata Lebih Sehat

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 25 November 2016 | 10:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Rumah minimalis?

Jangan khawatir!

Rumah  yang kini lebih disukai masyarakat karena anti-pemborosan  unsur materialistis, ternyata memiliki dampak baik yang lain. Lebih sehat.

Ya, konsep bangunan minimalis sendiri mengutamakan nilai kesederhanaan tanpa menghilangkan kadar estetika.

Skemanya yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan ruangan, membuatnya digandrungi oleh mereka yang menginginkan gaya hidup yang praktis.

Membangun rumah minimalis sama dengan menghemat penggunaan bahan bangunan beserta aksesoris yang dianggap tidak penting.

Satu hal yang ‘haram’ dari gaya minimalis adalah menampilkan ornamen secara berlebihan.

Tak pelak sejak kemunculannya, istilah “ornament is a crime” lekat dengan tren arsitektur ini.

Nah, tahukah Anda bahwa ternyata rumah minimalis punya fungsi lain yakni kesehatan bagi penghuninya?

The Journal of Social and Personal Relationships menyebut pekerjaan rumah tangga yang berantakan sangat berperan besar terhadap rasa stres di diri anggota keluarga

Terlebih jika orangtua bekerja, maka bisa menyebabkan mereka tertekan akan keadaan tersebut.

Dalam hal ini, gaya minimalis sesungguhnya mampu menyingkirkan kondisi demikian, mengingat sifat sederhananya memungkinkan rumah lebih mudah diatur. Apa saja misalnya?

Gaya minimalis di rumah sangat berlaku dalam menentukan fungsi sebuah ruang.

Jika menjunjung tinggi minimalis, sudah pasti daftar perabot yang ada dalam suatu ruang lebih ringkas.

Oleh karenanya, ruang yang lebih lapang akan menimbulkan efek rileks, tidak sesak, dan memberi banyak nafas untuk penghuni rumah.

Peran pencahayaan juga merupakan kunci utama dalam menyuguhkan interior minimalis. Rupanya, instalasi lampu yang benar akan membuat perasaan pemilik rumah lebih santai.

Riset menunjukkan bahwa pencahayaan ruang yang terlalu terang, bisa menimbulkan perasaan terburu-buru.

Sedangkan jika terlalu redup, maka siapapun akan merasa terjebak atau tertutup.

Jadi rumusnya, pandailah dalam mengatur pencahayaan agar tidak menjadi terlalu terang atau terlalu gelap.

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa otak bereaksi positif terhadap hal yang bersifat simetris.

Maka dari itu, keseimbangan rumah dipastikan menjadi penentu reaksi otak penghuninya.

Jika rumah terlihat rapi dan bersih, otomatis anggota keluarga akan merasa tenang dan betah di dalamnya.

Ini juga berlaku dalam urusan warna yang diterapkan gaya minimalis. Bila pada rumah modern atau maroko permainan warna dianggap sah, berbeda halnya dengan minimalis.

Untuk itu, dalam menciptakan rumah minimalis, pemakaian material berbau alam sangat diperlukan. Contoh warnanya pun lebih ke arah klasik seperti putih, krem, abu-abu, dan cokelat tua.

Rupanya ketentuan ini bukan tanpa alasan, karena warna-warna netral sesungguhnya berfungsi untuk memacu otak mengenali ruang secara menyeluruh tanpa ada hambatan dari aksen yang mencolok.

Tak salah memang jika setiap orang menginginkan rumahnya disemati berbagai aksesori menarik, seperti shabby chic yang tengah hits akhir-akhir ini.

Berdasarkan pertimbangan, aksen-aksen tematik dinilai mampu membuat rumah kaya akan kesan cantik dan segar.

Sayangnya, pengaplikasian pernak-pernik yang terlalu banyak bisa menimbulkan sumber penyakit tanpa disadari.

Misalnya keranjang anyaman yang ditujukan sebagai pemanis ruang, justru menjadi sarang nyamuk demam berdarah  yang sangat membahayakan keselamatan anggota keluarga.

Kendati demikian, bukan berarti penghuni tidak boleh sama sekali menempatkan pernak-pernik di dalam rumah.

Asal benar penempatannya dan rajin dibersihkan, maka kekhawatiran akan penyakit bisa diminimalisir.

Seperti dikutip laman Brightside,  rumah minimalis terutama  ala Jepang benar-benar memperlihatkan adat keluarga Jepang untuk memahami dan menghargai segala hal.

Bahkan di beberapa rumah, orang-orang Jepang lebih memilih untuk tidak menggunakan ranjang mewah. Mereka merasa cukup nyaman tidur di atas kasur tanpa ranjang.

Bukan hanya bangunan saja yang memiliki nuansa minimalis, bahkan penggunaan perabotan disesuaikan dengan kebutuhan satu keluarga.

Kesederhanaan juga tercermin pada kamar tidur dan ruang kerja yang hanya berisikan sepasang meja dan kursi. Dalam ruang kerja hanya tersedia satu meja untuk menulis atau membaca.

Sirkulasi udara hingga cahaya bahkan diperhitungkan dengan tepat, tak membutuhkan banyak lampu yang menempel. Sebab penggunaan jendela dan pintu telah dirancang seefektif mungkin.

 

Komentar