Rahasia Pernikahan Bahagia Menurut Studi

Penulis: Darmansyah

Senin, 5 November 2018 | 13:32 WIB

Dibaca: 1 kali

Rasa kurang bahagia dalam pernikahan bisa disebabkan oleh berbagai hal salah satu halnya adalah kehidupan seks yang kurang menarik dan menantang baginya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di Institute of Family Studies menemukan bahwa orang-orang yang menemukan kebahagiaan penuh dalam pernikahannya adalah orang-orang yang belum melakukan hubungan intim sebelum menikah atau orang-orang yang masih perawan.

Melansir dari laman nypost.com, mereka yang hanya melakukan hubungan intim bersama pasangan sahnya akan mendapatkan hubungan pernikahan yang sangat bahagia.

Seorang sosiologi di IFS, Bradford Wilcox mengungkapkan, “Lebih sedikit pengalaman lebih baik, ini bisa membuat seseorang sangat bahagia dalam pernikahannya.

Mereka yang tidak tertarik pada hubungan intim tanpa komitmen, setelah menikah ia cenderung lebih setia dan lebih berkomitmen hanya pada pasangan mereka.”

Para ahli menyebutkan jika memiliki banyak pasangan sebelum menikah bisa membuat seseorang merasa kurang puas dengan pernikahannya.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang berkomitmen dan hanya setia pada pasangannya, ia akan menerima pernikahannya dengan baik, tulus dan bahagia.

Meskipun tiap pernikahan mempunyai karakterisktik yang unik dan berbeda, tetapi pernikahan yang sehat memiliki ciri-ciri dan tanda yang seragam.

Bohong merupakan akar dari suatu pengkhianatan. Jika dalam suatu pernikahan tidak dilandaskan kejujuran satu sama lain, niscaya pernikahan itu tidak akan bertahan lama.

Di sini yang perlu Anda lakukan adalah berbicara jujur, tak peduli seberapa memalukan atau seberapa bermasalahnya ucapan yang akan Anda katakan pada pasangan. Jujur tidak mudah, mengingat setiap orang akan memiliki kebohongan kecil.

Namun, yang juga penting, hargai bagaimana pasangan Anda ketika ia berkata jujur, dengan begitu kondisi mental dan hubungan pernikahan Anda akan sehat dan bahagia.

Pernikahan yang sehat memang gampang-gampang susah diwujudkan. Ini semua tergantug bagaimana Anda mempercayai pasangan Anda yang merupakan modal awal pernikahan dimulai.

Keharmonisan sebuah keluarga bergantung dengan mengkomunikasikan setiap masalah yang ada

Seks yang dilakukan setelah sah menikah merupakan seks yang paling membahagiakan. Selain perbuatan Anda sudah halal, masa depan lain bisa diwujudkan dengan seks tersebut.

Salah satunya ya dengan mewujudkan kehidupan pernikahan yang sehat. Untuk Anda para pasangan suami istri, seks adalah bumbu penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Lakukan secara rutin, paling tidak seminggu satu sampai dua kali.

Cobalah untuk melakukan hal-hal yang pernah Anda lakukan saat masih dalam masa-masa sebelum menikahi. Kencan, berlibur berdua, menonton konser, atau hiking dan berolahraga bersama sesekali.

Temukan waktu untuk bisa berbincang intim dan dari hati ke hati sesekali sesaat sebelum tidur.

Jangan lupa untuk memberikan semangat satu sama lain, dan juga saling mendukung perkembangan masing-masing demi terjalinnya hubungan yang harmonis antara Anda dan pasangan.

Buat pasangan Anda menjadi prioritas Anda, baik itu di luar maupun di dalam keluarga. Banyak yang mengatakan bahwa ketika menikah dan memiliki anak, anak menjadi prioritas utama.

Nah, ini yang harus diluruskan. Anak memang penting, tetapi pasangan Andalah tetap wajib dijadikan prioritas.

Mengapa? Setelah mereka dewasa nanti, anak-anak yang Anda prioritaskan akan tumbuh hidup bersama pasangan dan keluarganya sendiri, “meninggalkan” Anda dan pasangan kembali sendirian.

Ketika tinggal Anda dan pasangan hidup berdua inilah, dikhawatirkan hubungan Anda dan pasangan menjadi hambar karena prioritas Anda dahulu bukan pada pasangan yang sehidup semati.

Jadi, kuatkan ikatan hubungan satu sama lain, usahakan jangan terputus. Karena tua nanti hanya ada Anda berdua dan pasangan.

Menikah tanpa adanya cekcok namanya, ya, bukan pernikahan. Pernikahan yang sehat belum bisa dibilang goals tanpa adanya argumen.

Ketika terjadi cekcok baiknya Anda dan pasangan saling berempati satu sama lain. Maksud dari berempati adalah memposisikan diri Anda pada posisi pasangan.

Dengan begitu, Anda bisa memandang masalah dari sudut yang berbeda. Setelah itu, Anda bisa menemukan letak masalah yang sesungguhnya dan menyelesaikan dengan logika serta perasaan.

Setelah ada argumen, baiknya ada permintaan maaf. Buang jauh-jauh gengsi gengsi jika memang Anda terbukti bersalah pada pasangan.

Jika gengsi meminta maaf dibiarkan terus menerus terjadi, yang ada nanti hanyalah sakit hati dan penyesalan yang selalu datang di akhir.

Dengan meminta maaf, mental dan perasaan Anda akan lebih sehat, mengingat pernikahan yang dibangun menuju pernikahan yang sehat.

 

Komentar