Pria Lebih Jujur Curhat ke Sahabat Prianya

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 20 Oktober 2017 | 09:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebagian besar lelaki menganggap hubungan romantis dengan wanita selalu menemui kesulitan dan hanya menambah masalah baru

Mereka lebih memilih berteman dengan lelaki dan sekali gus mencurahkan isi hatinya.

Terhadap kasusu ini banyak wanita yang marah atau kesal jika pasangan mereka lebih memilih bersenang-senang atau sekedar berkumpul bersama teman prianya hingga lupa waktu, ketimbang berkencan.

Ternyata ada alasan kuat mengapa pria cenderung lebih memilih “geng cowoknya” dibanding hubungan yang romantis.

Sebuah penelitian menunjukan bahwa pria lebih bahagia saat bersama teman lelakinya dibanding bersama pasangannya.

Sebuah penelitian berskala kecil yang dimuat dalam Men and Masculinities mengungkap, pria muda mendapatkan kepuasan emosional yang lebih dari sahabat prianya dibandingkan dengan kekasihnya.

Para pria yang terlibat dalam penelitian tersebut mengaku memiliki emosi yang lebih stabil, kebutuhan sosial yang terpenuhi dan kemampuan menyelesaikan konflik yang lebih baik saat berada dalam situasi ‘ bromance’ dibanding hubungan romantis.

Sampel penelitian tersebut terdiri dari tiga puluh mahasiswa tahun kedua yang memiliki hubungan romantis sekaligus ‘bromance’.

Saat diwawancarai, tiap perserta mengaku memiliki setidaknya satu sahabat pria yang menjadi tempat berbagi suka dan duka.

Bahkan dua puluh sembilan dari tiga puluh pria tersebut mengaku tak pernah merasa “jaim”, termasuk tak malu memeluk sahabat pria mereka saat berada di tempat tidur.

“Kami sudah seperti pasangan suami istri,” ucap salah satu peserta riset. Bahkan peserta lainnya ada yang menyebut sahabat prianya sebagai ‘pacar pria’.

Dibanding dengan kepada kekasih, ternyata para responden itu mengaku lebih bebas mengungkapkan isi pikirannya, termasuk rahasianya tanpa takut dianggap “kurang jantan”.

Sebaliknya, ketika bertama kekasih wanitanya, para pria itu merasa ada tekanan untuk berlaku sesuai standar “kejantanan” tradisional.

Misalnya, pria seharusnya tidak menyukai film komedi romantis atau pantang bagi pria untuk menunjukkan rasa sakitnya.

Fenomena ini memiliki dua sisi. Ada yang menganggapnya sebagai perkembangan progresif dalam konsepsi masyarakat mengenai maskulinitas dan hubungan antar pria.

Di sisi lain, ada risiko besar.

Jika terlalu fokus dalam hubungan ‘bromance’ akan membuat pria melupakan hubungan romantisnya.

Peneliti Stefan Robibson, Ph.D mengatakan bahwa bromance telah memenuhi semua kriteria dalam hubungan romantis dalam hubungan heteroseksual, seperti pengungkapan emosi, keintiman dan ketergantungan emosional.

Pria dalam penelitian ini terkadang memandang pasangan mereka hanya sebagai objek seksual.

Hanya dua dari tiga puluh pria yang mengaku bahwa mereka mendiskusikan semua masalah pribadi kepada pasangan mereka, bukan teman dekat.

Bahkan, saat mereka ditanya perbedaan antara bromance dan hubungan romantis, mayoritas responden menjawab seks

Jadi, bromance merupakan ekspresi maskulinitas pria yang mempraktikkan gaya komunikasi intim seperti dalam hubungan heteroseksual yang kuat.

Namun, bisa jadi bromance hanya sebuah bentuk penegasan bahwa wanita adalah objek pemenuhan seskual pria saja.

Banyak pria menganggap bahwa hubungan dengan wanita itu rumit, sulit, dan hanya menambah masalah.

Selain itu pria juga membutuhkan teman sepadannya dengan kegilaan yang sama.

Sifat dari sahabat yang bandel bisa memberikan pengaruh yang baik untuk ‘bromance’ atau perkawanan para lelaki

Dalam buku-buku motivasi selalu disebutkan bahwa orang paling sukses dalam hidupnya adalah yang selalu berani bertindak atau disebut ‘doer’.

Hal ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan bisnis dan profesional, tapi juga dalam hal lain seperti mendekati gadis cantik, mencoba hobi baru, atau pekerjaan baru.

Ketika kita melangkah lebih jauh dari ‘just do it’ menjadi ‘just do that extra shot’, teman yang bandel dan nekat bisa menjadi inspirasi atau pendorong yang kuat saat kita membutuhkan dukungan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ada alasan tertentu mengapa di setiap film komedi ada satu karakter yang lebih gila dibanding yang lain.

Mereka ini biasanya diceritakan lebih mampu beradaptasi karena tidak terlalu ambil pusing.

Mereka bukan hanya berperan untuk membujuk agar seseorang bertindak berani, namun juga memiliki kemampuan untuk mengatasi perubahan cepat sebuah situasi.

Ini adalah sesuatu yang dapat digunakan setiap orang saat menghadapi hiruk pikuk kehidupan modern, cinta dan pekerjaan.

Dalam hal ini ada pelajaran yang dapat diambil dari kenekatan si bandel. Kita bisa melihat bagaimana reaksi orang-orang ini saat mengalami kesulitan dan bersikap tenang menghadapi tekanan.

Tidak penting siapa kita, apa jabatan dan pekerjaan kita, setiap orang perlu membuang energi mereka pada suatu hal.

Ketika mulai bosan dengan rutinitas atau merasa tertekan oleh pekerjaan, tak ada tempat yang lebih baik untuk melepaskannya daripada bersama seseorang yang terkadang sedikit di luar kebiasaan.

Seringkali kita menemukan rekan yang mengalami hal yang persis sama.

Tapi itu tidak berarti kita harus membicarakannya atau bahkan mengetahuinya, cukup menemukan seseorang yang bisa menemani melewatkan masalah sebentar dengan hal-hal “gila” bisa sangat berharga untuk kesehatan mental setiap orang.

Setiap orang membutuhkan keseimbangan dalam hidup, dan sangat mudah untuk berasumsi bahwa kita telah mencapai keseimbangan karena kita mengelilingi diri dengan orang-orang yang berpikiran sama dengan diri kita.

Tapi coba tanyakan pada diri sendiri apakah Anda sudah benar-benar mendapatkan keseimbangan hidup.

Sedikit pencarian jiwa lewat hal-hal di luar kebiasaan atau hal-hal yang lebih menantang mungkin membawa Anda pada keseimbangan ‘Yin’ dan ‘Yang’ yang lebih tinggi.

Kedengarannya aneh, tapi menambahkan sedikit kekacauan ke dalam hidup Anda sesekali barangkali bisa membuat dunia Anda lebih baik.

Komentar